Kisah Inspiratif

Anyaman Khas Tibu Sisok, Lombok Tengah

Sebagai upaya memberikan layanan pendidikan berkualitas di era Pandemi, Guru Tri Artha Miawan, S.Pd yang merupakan guru Kelas 6 di SDN Tibu Sisok, Kabupaten Lombok Tengah, NTB ikut andil dalam Kolaborasi Guru Pemimpin dengan mengimplementasikan siklus pembelajaran Startup Project Leadership (SPL). Melalui bimbingan Guru Yelsi sebagai Team Leader, Guru Artha menerapkan siklus SPL pada pembelajaran Seni Budaya yakni “menganyam”. Kegiatan ini dilakukan oleh 34  orang siswa kelas 6 yang terdiri dari 4-7 siswa per kelompok  dan tentunya didukung oleh Kepala Sekolah, Guru SDN Tibu Sisok, masyarakat sekitar, dan terutama Wali murid dari kelas 6 itu sendiri.

Siklus SPL terdiri dari tiga tahapan yakni Inkubasi, Startup, dan Mobilisasi. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan berpegang pada 4 prinsip pembelajaran di masa depan yang ditawarkan Sekolah Guru Indonesia yakni 1) masalah nyata adalah sumber belajar yang paling pertama, 2) ekosistem pendidikan adalah ruang kelas yang paling utama, 3) belajar adalah memproduksi pengetahuan baru, 4) pembelajaran adalah kerja sama Guru dan Murid untuk sama-sama belajar serta sama-sama mengajar.

Tahap pertama (Inkubasi) yang dilakukan adalah merancang kegiatan bersama dengan siswa dengan memperhatikan potensi yang ada di lingkungan tempat tinggal siswa. Selama masa pandemi ini tidak sedikit siswa merasa kehilangan suasana belajar di kelas dengan teman-temannya. Kesempatan belajar yang didapatkan pun tak sama, sehingga pembelajaran yang menyenangkan bersama teman-teman terlewatkan. Siswa yang terlibat dalam proyek kreasi ini kemudian dibagi menjadi 6 kelompok dengan beranggotakan 4 sampai 7 orang. Pemilihan kelompok juga didasarkan pada jarak tempat tinggal siswa yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan guna mempermudah siswa untuk mengerjakan tugas nantinya. Setelah kelompok terbentuk, guru kemudian menjelaskan lebih rinci terkait dengan proyek kreasi, apa yang akan di buat, alat bahan yang akan digunakan sampai pada tahap akhir yaitu pengumpulan.

Di wilayah Tibu Sisok (Lombok Tengah) mengulat adalah salah satu pekerjaan sampingan yang banyak dilakukan warga sembari mengisi waktu luang. Mengulat merupakan suatu kegiatan mengayam batang tanaman sejenis rotan namun lebih menyerupai lidi yang kemudian dianyam menggunakan besi (jarum) pengait. Kegiatan menganyam ini diharapkan dapat melatih keterampilan siswa, membantu orang tua untuk mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus mendidik siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sekitar. Selain itu kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan siswa terbiasa saling bahu membahu menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas.

Tahap selanjutnya (Startup) adalah membuat kerajinan tangan dengan alat bahan yang sudah disiapkan. Kegiatan ini juga tidak terlepas dari bantuan orang tua siswa dalam mempelajari cara pembuatan. Siswa membagi tugas masing-masing, ada yang membelah tanaman menjadi beberapa bagian, ada yang mengulat, dan ada yang memberi warna pada hasil karyanya. Mereka sangat antusias untuk menyelesaikan tugasnya, mereka juga berusaha memberikan yang terbaik pada hasil karyanya. Dalam waktu kurang dari satu minggu siswa dengan kelompok mengumpulkan hasil kerajinan tangan yang telah dibuat. Anyaman yang mereka hasilkan pun beraneka macam, ada yang berbentuk topi, nampan, tempat tisu, dan keranjang  buah merupakan karya terbanyak yang siswa buat. Hasil karya siswa semakin menarik dengan penambahan warna pada anyamannya.

Pada tahap akhir (Mobilisasi), guru membantu siswa dalam memamerkan hasil kerajinan mereka melalui media sosial. Dengan kegiatan pameran ini, siswa merasa lebih bersemangat dan senang karena hasil kerajinan yang dibuat dapat dilihat banyak orang. Dalam waktu yang cukup singkat foto hasil karya siswa mendapat respon dari orang di daerah yang cukup jauh, ia berminat untuk memesan karya tersebut. Siswa semakin senang dan bangga dengan hasil karyanya sendiri. Guru juga memberikan masukan dan saran kepada siswa untuk tetap berkreasi dan melanjutkan dengan karya-karya yang lain.

Profil Guru Pemimpin

Guru Tri Artha Miawan, S.Pd merupakan lulusan  Universitas Mataram Tahun 2016, mengajar di SDN Tibu Sisok Kecamatan Janapria Lombok Tengah, NTB.  “ Setelah melaksanakan siklus SPL, saya merasa bangga yang begitu luar biasa kepada murid-murid saya, di tengah-tengah keterbatasan belajar di era pandemi ini mereka sangat antusias dalam menyelesaikan tugasnya. Beberapa murid saya bahkan tidak sadar akan bakat yang dimilikinya. Mereka yang pendiam dan tergolong anak yang biasa-biasa saja ternyata sangat mahir dalam mengulat. Kegiatan ini juga menyadarkan saya sebagai guru untuk menemukan skaligus mengoptimalkan bakat istimewa yang dimiliki setiap anak dan akan berusaha lebih giat lagi untuk memberikan pembelajaran yang lebih bermakna dengan kegiatan-kegiatan proyek yang lebih menantang bagi siswa.  Saya berharap nantinya akan terbentuk menjadi pribadi orang-orang hebat yang akan menjadi pemimpin bangsa.

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
1
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keteduhan Hati Fahri

Saya Guru Nurul, Aktivis Sekolah Guru Indonesia yang kini mengabdi di tanah Sumatera. Mendidik generasi ...

Zahra #DiRumahAja

Zahra Rapiatul Adawiyah salah satu siswa yang cukup pintar di SDN 04 Batu Balang Kecamatan ...