ArtikelArtikel

Serial Sepuluh Kepemimpinan Guru: Kreatif Membuat Media

Kepemimpinan Guru yang Ketujuh:
KREATIF MEMBUAT MEDIA

“Dalam suatu era informasi… semua usaha pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media, maka era ini dapat pula disebut lingkungan bermedia… Media telah memengaruhi kehidupan hampir sepanjang waktu jaga, atau berarti lebih banyak ekspos media dari waktu yang dipergunakan untuk tidur, dan juga berarti lebih banyak dari waktu yang digunakan untuk bersekolah.”
(Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc., 2004: 456)

Sebaik-baiknya pembelajaran adalah yang bisa memberi pengalaman baru bagi peserta didik dengan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan kehidupan. Sedangkan sebaik-baiknya guru adalah yang terbiasa membawa pengetahuan kontekstual dari dunia nyata ke dalam kelas-kelas ajarnya. Jika keduanya bisa hadir bersamaan pada sebuah sekolah, maka iklim akademik akan terbentuk menjadi semacam petualangan yang selalu menggugah fitrah rasa ingin tahu siswa.

Motivasi belajar tertinggi berasal dari rasa ingin tahu yang selalu memuncak. Agar rasa ingin tahu bisa tetap terjaga pada puncaknya, tidak boleh ada sekat antara apa yang dipelajari oleh siswa di sekolah dengan apa yang digelutinya di dalam kehidupan nyata. Belajar adalah kehidupan itu sendiri, sumber belajar adalah apa yang tersedia di alam semesta, dan ruang belajar bisa di mana saja, bukan terbatas pada ruang-ruang kelas ajar yang tersedia di sekolah.

Saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Terdapat banyak kanal pengetahuan yang bisa diakses menjadi sumber belajar siswa. Tugas guru kemudian bergeser menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya untuk bisa menguasai ragam pengetahuan secara mandiri dan terstruktur. Namun tentunya tidak semua pengetahuan yang perlu dikuasai siswa dapat dihadirkan menjadi sumber belajar secara langsung. Maka sebagai fasilitator guru harus secara kreatif membuat media yang menjembatani peserta didik dengan sumber belajar langsung.

Pendekatan sistem yang mulai mempengaruhi bidang pendidikan dan pengajaran sejak tahun 1965-1970 telah mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dari program pembelajaran (Arief S. Sadiman, dkk, 2010: 9). Dalam paradigma baru pendidikan, pembelajaran merupakan proses peningkatan kemampuan baik di ranah kognitif, afektif dan juga ranah keterampilan melalui aktivitas interaksi antarelemen instruksional. Elemen instruksional yang dimaksud ada tiga, yakni guru, siswa dan media atau sumber belajar. Apabila terjadi interaksi yang sempurna antara ketiganya, maka itulah yang disebut dengan pembelajaran aktif. Namun, jika satu dari komponen tersebut tidak tersedia, maka efektivitas pembelajaran tidak mungkin terwujud.

Yusufhadi Miarso (2011: 528), salah seorang pelopor teknologi pendidikan di Indonesia, menjelaskan bahwa konsep pembelajaran (instruction) mestilah dibedakan dengan istilah pengajaran (teaching). Pembelajaran atau yang disebut juga dengan istilah instruksional, adalah usaha untuk mengelola lingkungan secara sengaja dalam rangka membentuk diri seseorang menjadi positif dalam kondisi tertentu. Sedangkan pengajaran merupakan usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar peserta didik yang dilakukan dalam situasi resmi atau formal.

Dari hakikat pembelajaran di atas, saat ini guru tidak mungkin bisa mengajar siswanya tanpa menyiapkan sumber belajar atau media belajar yang relevan. Penggunaan media pembelajaran akan membantu kinerja seluruh indera belajar dalam memasukkan setiap konten pengetahuan ke dalam ingatan jangka panjang siswa. Belajar dalam pandangan kaum behaviorisme merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap orang untuk merespon seluruh ransangan (stimulus) dari luar (eksternal).

Teori belajar behaviorial yang banyak merujuk pada metode penelitian ilmu-ilmu alam (positivistik), memang menekankan munculnya perubahan perilaku sebagai hasil utama proses belajar (Muijs dan Reynolds, 2008: 20). Hasil belajar tersebut akan tercermin dari perubahan-perubahan yang muncul dalam kepribadian individunya. Belajar disebut berhasil ketika siswa dapat menunjukkan pola-pola kepribadian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Yudhawati, dan Haryanto, 2011: 39).

Berkebalikan dengan pandangan kaum behaviorisme, pendekatan konstruktivisme yang banyak dipengaruhi oleh gerakan progresif John Dewey, justru mendorong munculnya pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pendekatan ini, peserta didik mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui kegiatan penyelidikan dan eksplorasi terhadap dunia nyata (Drake, 2013: 10-11). Gerakan pendidikan ini telah membawa perubahan dramatis dalam manajemen dan organisasi kelas, serta interaksi antara guru, siswa, dan bahan ajar (Connell, 2004: 15).

Pengaruh filsafat konstruktivis diakui pengaruh besar terhadap pergeseran paradigma pendidikan di hari ini. Namun Westwood (2008) mengingatkan bahwa penerapan prinsip-prinsip konstruktivis masih perlu diuji secara lebih mendalam lagi. Belum tentu asumsi-asumsi dasar yang dikembangkan oleh pandangan para kontruktivis ini bisa lebih baik dari pandangan kaum behavioris, semisal penggunaan model-model pengajaran langsung yang masih berpusat pada guru.

Namun keraguan terhadap cara pandang kontruktivis ini dibantah sejak munculnya teori tentang kecerdasan majemuk yang ditemukan oleh Howard Gardner. Thomas R. Hoer (2007: 159-160), seorang praktisi pendidikan berbasis kecerdasan majemuk, berpendapat bahwa murid akan dapat belajar sebaik-baiknya ketika mereka membangun pengetahuan dan meraih pemahaman melalui penemuan cara belajar yang bermakna.

Kebalikan dari apa yang terjadi di kelas tradisional, yaitu guru menanamkan pengetahuan di kelas, ruang kelas dengan proses pembelajaran konstruktif biasanya lebih berantakan dan sering membutuhkan waktu lebih panjang. Kelas-kelas konstruktif merupakan tempat sibuk yang di dalamnya siswa menjadi pembelajar aktif, menguji hipotesis mereka sendiri untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.

Saat ini muncul peralihan dari fokus pada pengajaran ke penekanan pada belajar, guru yang sebelumnya menggunakan teknologi dan media dalam ruang kelas berkembang menjadi siswa yang belajar dengan menggunakan teknologi dan media kapan saja dan di mana saja. Belajar merupakan pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap ketika seseorang beinteraksi dengan informasi dan lingkungan.

Sebagaimana yang didefinisikan dalam pandangan kaum konstruktivis, tujuan pembelajaran adalah bukan untuk mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi sehingga para siswa bisa menafsirkan informasi bagi pemahaman mereka sendiri (Smaldino, Lowther, dan Russel. 2012: 11-13). Sehingga sesungguhnya siswa bisa menciptakan media belajarnya sendiri.

Media pembelajaran yang diciptakan oleh peserta didik berfungsi untuk memberi stimulus menuju arah berpikir kritis dan kreatif. Dengan prinsip ini membuat media pembelajaran yang kreatif bukan hanya tugas guru, tapi dapat berbagi dengan peserta didiknya. Bukan semata berperan menjadi fasilitator siswa untuk belajar, Guru seharusnya harus mulai mendorong seluruh peserta didiknya agar mampu memfasilitasi dirinya sendiri untuk belajar secara mandiri. Inilah salah satu ciri Guru pemimpin.

Oleh:

Guru Agung

GM Sekolah Kepemimpinan Bangsa

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel