ArtikelArtikel

Serial Kepemimpinan Guru: Pelopor Kebersihan Sekolah

Kepemimpinan Guru yang Keempat:
PELOPOR KEBERSIHAN SEKOLAH

“Ketika pendidik bermaksud menghadiri tempat belajar maka sebaiknya dia menyucikan diri dari hadats dan najis; membersihkan diri; memakai wewangian dan pakaian terbaik yang pantas menurut pandangan masyarakat umum. Semua ini bertujuan mengagungkan ilmu dan menghormati syari’at.”
(K.H. Hasyim Asy’ari 2017: 78)

Jika hendak melihat kualitas sekolah sebagai lingkungan pendidikan, maka perhatikanlah bagaimana warganya merawat juga mengelola kebersihan di tempat tersebut. Bukan hanya dilihat dari tingkat kebersihannya saja, tapi yang tak kalah penting untuk ditelisik adalah bagaimana cara setiap civitasnya berpartisipasi dalam menjaga lingkungan fisiknya agar selalu bersih. Kebersihan seringkali hanya mengandalkan kinerja petugas atau penjaga sekolah, Ini tentu tidak bijak. Penjaga sekolah hanyalah tenaga pelaksana, bukan penentu tata kelola.

Kebersihan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama, dengan guru sebagai pelopornya.

Kebersihan tidak hanya ditempatkan dalam ranah estetika yang menyangkut perwajahan sebuah sekolah. Saat ini, sudah sepatutnya aspek kebersihan dijadikan sebagai salah satu asas penting dalam reorientasi tata kelola satuan pendidikan. Terlebih masalah kebersihan yang di dalamnya terdapat aktivitas pengelolaan sampah telah mengemuka menjadi salah satu isu lingkungan yang sangat sering untuk dibicarakan. Maka tak heran jika hari ini banyak bermunculan model-model pengembangan sekolah hijau atau yang kemudian dikenal dengan istilah Sekolah Adiwiyata.

Kebersihan juga dapat ditawarkan menjadi salah satu konten dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah. Pengelolaan kebersihan bisa dilakukan sebagai wujud aksi nyata peserta didik dalam membangun kesadaran mencintai kelestarian lingkungan. Aktivitas semacama ini tentu mudah untuk diukur. Sehingga kebersihan bukan hanya dibutuhkan untuk sekedar menunjang kenyaman belajar, namun ini adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Sebagaimana dikutip dari petuah Kiai Haji Hasyim Asy’ari di atas, bawah penerapan kebersihan, kesucian, dan juga kerapihan, merupakan bagian dari tujuan pendidikan dalam menghormati ilmu dan hukum-hukum dalam agama.

Bukan hanya personal dirinya saja yang bersih, suci, wangi, dan rapi; Guru juga harus membuat lingkungan pendidikannya juga harus memenuhi semua aspek itu. Bukan hanya di ruang kelas, setiap titik di sekolah adalah area untuk belajar. Inilah yang kita sebut sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan. Jika lingkungannya bersih, berarti sekolah tersebut memiliki keseriusan dalam mengoptimalkan pelayanan pendidikan yang prima.

Piket kelas yang rutin dikerjakan bergantian oleh peserta didik secara berkelompok merupakan bagian dari belajar untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Tradisi baik ini perlu dipertahankan, termasuk pada sekolah-sekolah “mahal”sekalipun.

Sebagai pelopor di kelas, guru bisa mendampingi aktivitas piket harian ini tidak hanya untuk menjaga kebersihan di dalam kelas, namun juga di beberapa titik yang lain.

Setidaknya ada tiga titik rawan yang seringkali luput untuk dibersihkan secara rutin. Sehingga titik rawan ini seringkali di sebut dengan zona kritis. Pertama adalah kawasan toilet, kedua adalah gudang sekolah, dan ketiga adalah halaman belakang kelas yang biasa berbatasan dengan tembok pagar sekolah. Tak jarang banyak sekolah yang membiarkan ketiga lokasi ini menjadi kotor, berdebu pekat, lembab dan berbau, ditambah lagi banyak sekali coret-coretan yang tidak pantas untuk dipertontonkan.

Kemunculan tiga zona kritis ini umumnya terjadi akibat lemahnya kepedulian dari seluruh warga sekolah. Mulai dari sikap siswa yang kurang bertanggung jawab, tenaga penjaga sekolah yang jumlahnya terbatas, hingga kurangnya kepedulian para pendidik menjadi penyebab kebersihan di sekolah tidak bisa merata.

Jika para guru mampu tampil sebagai pelopor kebersihan, niscaya semua titik di sekolah akan menjadi kawasan wiyata mandala yang kondusif untuk belajar dan menguatkan karakter siswa.

Sekolah bukan hanya taman-taman kognitif yang menempa nalar, namun rumah kedua siswa yang membentuk kepribadian sempurna. Ini mirip sekali dengan apa yang telah disampaikan oleh Bung Hatta (Kumpulan Pidato III, 1985: 185)pada puluhan tahun yang lalu: “Pada pendidikan pembentukan karakter yang utama, baru pada tingkat kedua memberikan pengetahuan… Prajurit pembangunan mulai diasuh di sekolah, maka murid dan pelajar harus mencurahkan segala minatnya kepada sekolah dan pengetahuan.”

Kalimat afirmasi: “Kebersihan adalah bagian daripada iman” mudah kita temui di sekolah baik dalam bentuk poster, tulisan di dinding, hingga isi ceramah-ceramah guru yang diulang-ulang. Sudah saatnya doktrin ini kita wujudkan sebagai bagian dari proses pembiasaan dalam pendidikan. Maka aktivitasnya harus dilakukan secara konsisten, berkelanjutan, dan melibatkan partisipasi aktif peserta didik dengan bimbingan guru sebagai pemimpinnya.

Oleh:

Guru Agung

GM sekolah Kepemimpinan Bangsa Dompet Dhuafa

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel