ArtikelArtikel

Serial Sepuluh Kepemimpinan Guru: Tertib Menyiapkan Administrasi

Kepemimpinan Guru yang Kelima:
TERTIB MENYIAPKAN ADMINISTRASI

“Desain instruksional merupakan upaya perencanaan ke arah terwujudnya pelaksanaan kegiatan instruksional yang berkualitas, efektif, dan efisien dalam memfasilitasi proses belajar dan meningkatkan kinerja peserta didik… Desain instruksional adalah suatu ilmu dan seni untuk menciptakan sistem instruksional berkualitas melalui proses analitik, sistematik, sistemik, efektif dan efisien ke arah tercapainya hasil belajar yang sesuai dengan kebutuhan instruksional peserta didik.” (M. Atwi Suparman, 2014: 88-90)

Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Agar setiap tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka seluruh proses yang ingin diimplementasikan harus direncanakan serta dipersiapkan secara sempurna. Sebagai seorang manajer pembelajaran, guru yang profesional akan menyempurnakan pembuatan perencanaan dengan memenuhi seluruh prasyarat dalam desain instruksional yang terdiri lima komponen: analisis, rancangan, pengembangan, implementasi, dan juga evaluasi.

Salah satu ciri utama yang melekat dari guru profesional adalah tertib dalam menyiapkan administratif. Kinerja pendidik secara otentik bisa diukur melalui kesungguhannya dalam menyiapkan seluruh dokumen perencanaan pembelajaran yang menunjang implementasi kurikulum di sekolah. Sayangnya, administrasi pembelajaran seringkali hanya dipersepsikan sebagai beban dalam urusan kedinasan. Padahal jika semua kelengkapan ini dikelola sesuai dengan prosedur manajemen pengetahuan yang tepat, hal ini akan menjamin ketuntasan kompetensi siswa secara maksimal

Tuntutan kecakapan yang harus dicapai oleh siswa di sekolah merupakan suatu targetan yang berat dan kompleks. Terlebih kurikulum saat ini menuntut hadirnya pembelajaran berbasis HOTS (High Order Thinking Skills), salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis. “Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti mengenali hubungan, menganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan sebab dan akibat, membuat kesimpulan, dan memperhitungkan data yang relevan” (Amos Neolaka, 2019: 75). Jika perencanaan tidak disusun dengan desain instruksional yang tepat, maka banyak indikator kompetensi yang sulit untuk dituntaskan.

Sedihnya, banyak siswa tertinggal atau gagal meraih ketuntasan bukan akibat dari ketidakmampuannya, tapi lebih disebabkan oleh kelemahan sekolah dalam merancang dan menyiapkan sistem pembelajaran yang tepat. Untuk menghindari hal ini, sekolah perlu menekankan pembiasaan akademik yang lebih ketat terhadap semua guru, yakni tertib menyiapkan administrasi. Tentunya dengan kaidah-kaidah pengembangan pembelajaran yang tepat disertai rancangan pencapaian hasil belajar yang terukur secara akurat.

Dalam mengembangkan pembelajaran yang efektif, terdapat beberapa prinsip yang diantaranya pernah dikemukakan oleh Prof. Dr. Hafid Abbas (2019: 59): “Lebih baik belajar 30 persen materi kurikulum dengan penguasaan 90 persen daripada belajar 90% materi kurikulum dengan penguasaan 30 persen. Sebab dengan pengalaman belajar yang benar, mendalam, menyenangkan, dan terjadi kebebasan berpikir kreatif, berbagai studi menunjukkan anak didik dapat mentransfer pengalaman belajar itu untuk mengetahui pengetahuan yang lain.”

Prinsip ini nampaknya merupakan bagian dari paradigma pendidikan dunia yang terus bergeser dari penekanan “learning to know” menuju “learning to learn”. Sebagaimana dinyatakan oleh W.C. Howell bahwa belajar adalah proses menjadi tahu secara bawah sadar. Sehingga belajar tidak hanya berorientasi pada penambahan pengetahuan, namun merupakan suatu proses pembiasaan untuk menajamkan kapasitas menjadi generasi pembelajar. Terlebih sumber belajar yang utama bukan hanya buku, namun segala sesuatu yang dekat dengan dunia nyata. Sebab bagaimanapun “Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya” (Arief S. Sadiman, dkk., 2010: 1).

Pergeseran paradigma pendidikan tersebut tentunya membuat pekerjaan guru semakin berat. Proses merencanakan pembelajaran umumnya jauh lebih meletihkan dari proses implementasi pembelajaran itu sendiri. Salah satu pandangan klasik pernah menyatakan bahwa: “Persiapan mengajar dapat terdiri dari beberapa kali pertemuan dan minimal menggunakan waktu 4 jam pelajaran” (M. Uzer Usman, 1995:59). Jika pandangan ini dipakai, maka jam kerja guru di sekolah tidak akan cukup untuk menyiapkan semua perencanaan pembelajaran.

Untuk memenuhi panggilan tugas dan tanggung jawabnya, tak jarang guru-guru hebat yang dengan penuh kesadaran menggunakan waktu luang di rumah atau hari liburannya untuk sibuk menyiapkan beragam administrasi pembelajaran. Maka tidaklah berlebihan jika salah satu kepemimpinan guru Indonesia adalah “Tertib Menyiapkan Administrasi”.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel