ArtikelArtikel

Serial Kepemimpinan Guru: Disiplin Mengelola Waktu

Kepemimpinan Guru yang Ketiga:
DISIPLIN MENGELOLA WAKTU

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja akan merasakan kenikmatan dan kepuasan yang lebih daripada orang yang malas. Untuk itu kebahagiaan pada hakekatnya bisa diraih dengan bekerja, berbuat, berkarya bahkan berjasa dengan segala kesungguhan, bahwa kepuasaan bisa kita rasakan bila kita bekerja dengan maksimal, mengeluarkan puncak kekuatan dan bisa berhasil.”
(Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., 2011: 63)

Kesungguhan adalah jalan menuju suatu pencapaian besar. Tanpa kesungguhan setiap rencana usaha yang ingin dikerjakan hanya akan menjadi angan-angan besar. Kesungguhan ditandai dengan pencapaian target yang terukur, etos kerja yang maksimal, disertai pengendalian diri yang ketat. Sehingga kesungguhan mengharuskan kita untuk senantiasa fokus pada tujuan, mengerahkan semua tenaga dan daya upaya, serta berkomitmen hingga sampai di garis finish.

Disiplin mengelola waktu menjadi pilar terbentuknya kesungguhan. Orang-orang yang bersungguh-sungguh tidak akan menyia-nyiakan waktunya menjadi terbuang percuma. Waktu bukan hanya uang, namun waktu juga adalah pedang. Jika kelapangan waktu tidak dipakai sebagai peluang untuk berbuat baik, berarti ini sama saja dengan membuka kesempatan agar keburukan merasuki pikiran dan perilaku kita. Maka hendaknya setiap hamba yang beriman dianjurkan untuk memohon ampunan terus-menerus kepada Tuhan atas waktu yang belum optimal untuk dimanfaatkan.

Ki Hadjar Dewantara (2011: 82) telah mengingatkan bahwa: “Hidup manusia itu pokok pangkalnya ialah berjuang dan membangun”. Maka jika hidup itu adalah waktu, maka setiap waktu yang tersedia adalah kesempatan untuk bergerak dengan aktivitas yang membawa kepada kebaikan dan kebermanfaatan, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya.

Disiplin mengelola waktu merupakan kemampuan untuk mengelola kehidupan menjadi lebih berkualitas dengan beraneka ragam hal produktif yang bersifat positif. Kemampuan ini dapat tumbuh melalui proses pembiasaan yang tidak sebentar. Pembiasaan harus dilakukan secara terus-menerus, dijaga secara konsisten, hingga akhirnya membentuk suatu karakter. Jadi disiplin bukanlah bakat, juga bukan bahan ajar yang akan tuntas hanya dengan dihapalkan. Disiplin adalah sikap yang melekat akibat proses internalisasi yang ditempa berulang-ulang.

Dalam kajian kebudayaan, setiap anak-anak yang lahir dan besar dalam kelompoknya akan memiliki adat kebiasaan yang sama dengan kelompoknya itu. Setiap individu akan menyesuaikan diri dengan pola-pola dan ukuran-ukuran yang berlaku turun-temurun ada di masyarakatnya (Ruth Benedict, 1960: 16). Jadi proses pembiasaan hidup, seperti halnya kedisiplinan, membutuhkan pemodelan dari orang-orang dewasa yang ada di lingkungan tersebut.

Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, serta dalam lingkungan pranata pendidikan di sekolah akan membentuk kesadaran kolektif yang kita sebut dengan mentalitas. Maka dari itu fungsi sekolah sebagai satuan pendidikan bukan hanya memberi kualitas prima dalam layanan pengajaran, namun juga menciptakan suatu ekosistem dan budaya sekolah yang efektif dalam mendorong terbentuknya mentalitas yang positif dalam diri setiap peserta didik. Ekosistem dan budaya sekolah tersebut akan mudah terwujud jika disiplin telah menjadi ruh keseharian semua warganya.

Penegakan disiplin dalam lingkungan sekolah harus dimulai dari keteladan para pendidiknya. Hendaknya guru harus pandai-pandai mengelola waktu, baik bagi dirinya, maupun untuk program-program yang diselenggarakan di sekolah. Terdapat banyak kewajiban pedagogik dan juga hal-hal administrasi yang perlu dikerjakan oleh para guru. Jika tidak disiplin mengelola waktu, maka akan ada banyak program di sekolah yang tertunda bahkan terbengkalai.

Seorang guru juga harus menyediakan waktu yang cukup untuk belajar dan menambahkan kapasitas diri. Bila perlu, ada targetan karya inovatif yang hendak dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Sesungguhnya guru juga memiliki waktu yang lapang untuk mengevaluasi dan melakukan improvisasi pembelajaran secara rutin, terutama saat aktivitas sekolah tengah memasuki masa liburan akhir semester. Jangan sampai kesempatan berharga tersebut ini terlewat begitu saja menjadi waktu lowong yang tidak produktif.

Terkait dengan kelapangan dan kesempitan waktu, sebaiknya setiap guru selalu mengingat pesan Syaikh Ibn ‘Athaillah dalam Kitab Al Hikam yang termasyhur itu:

“Dia melapangkanmu supaya kamu tidak terjepit dalam kesempitan, dan Dia menyempitkanmu supaya kamu tidak hanyut dalam kelapangan. Dan dia melepaskan kamu dari keduanya supaya kamu tidak terpengaruh pada selain-Nya.”

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel