ArtikelArtikel

Work From Heart: Bantu Ekonomi Warga dari Rumah Aja

Aktif memberdaya masyarakat, salah satu nilai yang senantiasa berusaha ditumbuhkan pada jiwa guru pemimpin sejati. Ramadan Guru Nusantara Edisi ke 13 menghadirkan inspirasi karya nyata “Work From Heart: Bantu Ekonomi Warga dari Rumah Aja” bagaimana sosok guru pemimpin berupaya membantu ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Guru Cicih dan suaminya yang juga berprofesi sebagai guru telah berkomitmen untuk aktif memberdayakan masyarakat sekitar dengan usaha home decoration brand Moietbelle. Usaha tersebut telah berjalan selama 1,5 tahun. “Anugrah kehidupan yang Allah berikan kepada kita tidak 100% milik diri kita, ada orang lain yang berhak atas kebermanfaatan diri kita” begitulah prinsip hidupnya yang mendasari guru Cicih dan suami senantiasa konsisten dan senang memberdayakan masyarakat disamping mengerjakan amanah utamanya di bidang pendidikan. Parter yang satu visi memberikan energi yang lebih besar untuk guru Cicih senantiasa bersemangat menjalankan bisnis ini.

Berawal dari melihat potensi tetangga sekitar rumah (ex buruh garmen) yang memiiliki keahlian menjahit namun sudah tidak lagi bekerja, beliau memberdayakan mereka dengan mendirikan usaha kecil menengah padat karya. Ia memberdayakan masyarakat untuk memproduksi home decoration berupa gorden, bedcover, tabel runner, bantal renda, dll. Bermula dari hanya satu penjahit, kini sudah sepuluh penjahit ditambah beberapa admin, bagian packing, dan karyawan tambahan lainnya terbantu dengan bisnis Moietbelle.

Semenjak munculnya pandemi covid 19 semakin banyak masyarakat yang terkena dampak ekonomi. Banyak pabrik garmen milik perusahaan asing di lingkungannya yang turut merumahkan sebagian karyawan. Hal ini menyebabkan beberapa orang datang ke rumah beliau berharap bisa mendapatkan pekerjaan dari bisnis Moietbelle. Dengan jiwa sosialnya, guru Cicih tidak serta merta menolak orang tersebut, namun beliau justru berfikir bahwa “Jika ada orang yang meminta tolong kepada saya, sesungguhnya Allah lah yang meminta saya untuk membantunya”. Beliau menyambut baik kedatangan orang tersebut dan akhirnya muncullah ide untuk memproduksi masker donasi yang dijual dengan harga modal saja, yakni hanya untuk biaya bahan baku dan ongkos karyawan saja. Masker donasi dengan laba 0 rupiah ini beliau pasarkan agar permintaan produksi masker semakin banyak, sehingga bisa lebih banyak masyarakat yang diberdayakan dalam proses produksi. Beliau jugamengundang influencer untuk membantu menaikkan penjualan masker di akun sosial media instagram seperti mbak Oki, mbak Muzdalifah, mbak Jesika Iskandar, dll. Beberapa influencer bahkan mengenakan tarif Rp.0 alias ikhlas membantu mempromosikan penjualan masker donasi Moietbelle.

Sedari awal membangun bisnis, guru Cicih menyatakan bahwa ini bukan bisnis milik pribadi, namun bisnis Moietbelle adalah bisnis milik para karyawan dan masyarakat umum yang mendapatkan manfaat dari bisnis ini. Keuntungan yang beliau dapatkan dari bisnis pun digunakan untuk mendanai program filantropis “Rumah Belajar” yang ia bangun untuk memberikan layanan pendidikan non formal secara gratis kepada anak-anak di lingkungannya. Bahkan di masa pandemi program Rumah Belajar tetap berjalan meski tidak megadakan pertemuan kelas, setiap pagi hari beliau dan suaminya mengantar buku bacaan ke rumah-rumah siswa dan di sore hari siswa harus sudah selesai membaca buku dan mengembalikannya ke Rumah Belajar. Hal ini beliau lakukan agar siswa tetap konsisten terhadap kebiasaan yang telah terbangun selama ini.

Pada siaran langsung facebook SGI guru Cicih mengajak guru-guru di seluruh Indonesia untuk membantu sesama dengan memberdayakan mereka atau dengan cara apapun yang kita bisa. Mulailah dengan melihat kondisi tetangga sekitar kita. Jika ada diantara mereka yang mulai mencari tambahan penghasilan dengan berjualan di media sosial, bantulah dengan membeli produk mereka, menjualkan, bahkan jika hanya mampu memberikan like dan share pun sudah membantu mereka. Contoh lainnya, kita bisa memberdayakan tetangga yang jago masak dengan memberi mereka modal untuk memasak makanan buka puasa dan sahur keluarga kita. Jika kita ingin membantu dalam lingkup yang cukup luas, carilah partner yang se visi untuk membangun solusi sesuai dengan permasalahan dan potensi yang ditemukan di lingkungan masing-masing.

Oleh:

Guru Cicih kurniasih

Direktur Al Syukro Universal

 

 

 

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel