ArtikelArtikel

Tetap Produktif di Bulan Ramadan

Apakah kita mampu mewujudkan bulan Ramadan 1441 H ini sebagai bulan perjuangan?

Puasa ramadhan mulai diwajibkan oleh Allah kepada kaum muslimin pada Tahun ke 2 Hijriah, bertepatan dengan masa Perang Badar.

Gambaran situasi Ramadan pertama kali diperintahkan, kaum muslimin memiliki tantangan perjuangan yang luar biasa. Bahkan Rasulullah SAW berdo’a kepada Allah SWT “Jika kami sekarang binasa, maka selesai sudah agama-Mu ini”. Namun semangat dan perjuangan kaum muslimin begitu luar biasa sehingga Allah berikan kemenangan.

Enam tahun kemudian pada tanggal 10 Ramadan tahun ke 8 Hijriah Allah hadirkan fathul makah (kemenangan pembebasan kota mekah) dan tidak ada pertumpahan darah yang terjadi pada kaum muslimin.

Perjuangan dan kemenangan-kemenangan itu Allah hadirkan di bulan Ramadhan. Begitu pun dengan hari ini kita dihadapkan dengan perjuangan menghadapi pandemi Covid-19. Dengan adanya pandemi ini, barangkali Allah ingin memberikan kita suasana Ramadan tahun ini seperti suasana Perang Badar tahun ke 2 Hijriah. Kemudian bagi siapa saja yang mampu berjuang, In Syaa Allah Allah jaminannya adalah kemenangan seperti kemenangan pada masa Fathul Makkah. Kalau pada level pribadi, tentu target kemenangannya adalah kita sampai kapada derajat orang2 yang bertaqwa (Muttaqin).
Selalu ada hikmah dibalik semua Takdir Nya. Bagi para Guru, barangkali ini lah cara Allah menyaring, mana guru yang benar-benar Guru Sang Arsitek Peradaban yang mampu berjuang melaksanakan tugas guru dengan sebaik-baiknya melakukan pembelajaran jarak jauh, pada saat bersamaan ada kewajiban bagi guru-guru yang sudah berkeluarga untuk mendidik anak di rumah.

Lalu Bagaimana Tips nya agar Ramadhan kita tetap produktif?

1. Menentukan target selama sebulan
Target ini tergantung pribadi kita masing-masing. Sehebat apa tantangannya, akan menentukan sebesar apa capaian kita. Misalnya kita menchallenge diri kita untuk menamatkan 30 Juz Al-Quran dalam satu bulan Ramadhan, Kemudian break down jadi target harian misalnya menjadi satu juz setiap hari, setelah itu buat Mapping waktu, kapan saja kita melakukan ibadah tersebut? Misalnya membaca Al Quran dibagi lagi menjadi setiap ba’da subuh, menjelang duhur, ba’da asar, dan seterusnya.

2. Identifikasi time washer (pencuri waktu)
Pencuri waktu itu akan melengahkan kita dari menjalani target, misalnya ketika kita membuka handphone untuk membalas chat salah satu teman saja, ternyata kita tidak sadar sudah berjam-jam membuka dan membaca isi semua grup. Ingat dengan jadwal, plan, dan mapping yang sudah kita buat.

3. Tidak menunda-nunda waktu
Allah SWT berfirman:
fa iżā faragta fanṣab
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS Al Insyirah:7)
Dalam islam kita diajarkan untuk tidak menunda-nunda waktu. Bahkan satuan waktu yang dihisab oleh Allah adalah hembusan nafas kita, itulah sebabnya mengapa para Sufi tersambung 24 jam yang dimilikinya dengan dzikir.
Maka setelah selesai satu pekerjaan, bersegeralah berpindah kepada pekerjaan yang lain.

4. Konsisten dengan apa yang kita targetkan (Istiqomah)
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat: 30)

5. Menjaga Keihlasan
Allah SWT berfirman:
Wa ilā rabbika fargab Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS Al Insyirah:8)
Yang terakhir adalah menjaga keikhlasan. Jangan sampai yg kita lakukan terselip riya, sum’ah, ujub, dll sehingga ibadah kita hangus terbakar begitu saja, Naudzubillahimindzalik.

Bangga Jadi Guru, Guru Pemimpin, Menggerakkan INDONESIA 🇮🇩

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel