ArtikelArtikel

Serial Sepuluh Kepemimpinan Guru: Profesional Dalam Mengajar

Kepemimpinan Guru yang Kesembilan:
PROFESIONAL DALAM MENGAJAR

“Dalam masyarakat Indonesia di era tradisional, tokoh guru adalah seorang pemimpin. Di era modern, selain memiliki sifat sebagai seorang pemimpin, sosok seorang guru harus profesional di bidang ilmu pengetahuan dan menguasai ilmu pendidikan. Sehingga guru profesional haruslah mendapatkan pembentukan dan pendidikan profesi sebagai pendidik.”
(HAR Tilaar, 2015: 133-136)

Peningkatan kualitas pendidikan formal sangat ditentukan oleh kualitas pengajaran di banyak kelas. Gonta-ganti kurikulum jika tidak dibarengi dengan reformasi pengembangan profesional keguruan tidak akan menjamin perbaikan wajah pendidikan di negara ini. Kurikulum hanyalah perangkat, kuncinya perubahannya tetap pada pelakunya, yakni para guru.
Banyak sisi keguruan yang perlu diperbaiki, tidak terbatas pada keterampilan mengajarnya semata. Profesi guru memerlukan kematangan aspek personal, seperti: integritas, etos kerja, serta kecendekiaan. Keteladanan guru harus ditopang oleh wawasan keilmuan yang luas dan dalam. Semua dimensi harus dibina bersamaan, dilebur dan ditempa hingga terbentuk kesatuan yang sempurna. Jiwa paripurna, itulah sejatinya seorang guru profesional.
Pendidik profesional setidaknya harus memenuhi empat prasyarat kecakapan pedagogik. Pertama, penguasaan multi-literasi; Teknologi berbasis digital kini dijadikan sebagai wahana belajar yang tidak berbatas untuk menguatkan penguasaan materi ajar yang diampu. Kedua, penguasaan komunikasi efektif; Setiap guru semestinya adalah pembicara yang baik. Untuk itu, setiap guru harus melatih diri agar menguasai teknik-teknik efektif saat mentransmisi ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya.
Ketiga, penguasaan metodologi pembelajaran; Bukan sekedar cara berkomunikasi yang baik, namun seorang pengajar profesional ditandai dengan penggunaan metode-metode yang efektif di kelas. Murid tidak hanya mudah dan nyaman untuk mengikuti pembelajaran, namun juga senantiasa tertantang untuk mencari pengetahuan baru secara mandiri di luar kelas. Bagaimanapun juga, guru harus memainkan peran yang menyenangkan sebagai fasilitator bagi perkembangan akademik siswa.
Selain teknologi, beragam penemuan mutakhir di bidang Neurosains telah banyak mendorong terjadinya pergeseran paradigma dalam pengembangan pembelajaran di kelas. Di antara temuan yang paling berpengaruh adalah teori dua belahan otak yang ditemukan oleh Roger Sperry dan teori tiga bagian otak atau triune theory yang dikembangkan oleh Paul Maclean.
Teori-teori neurosains ini banyak membuka tabir-tabir rahasia kekuatan otak yang kemudian memiliki andil dalam pengembangan ilmu psikologi terapan dan penemuan teknik-teknik efektif untuk mengoptimalkan metode-metode pembelajaran. Perkembangan neurosains ini telah mendorong terjadinya revolusi pembelajaran di awal abad ke-21. Namun sayangnya, sebagian besar guru nampaknya banyak yang belum siap dengan kehadiran paradigma baru dalam pembelajaran tersebut.
Keempat, pemahaman psikologi yang shahih; Dimensi pendidikan yang tidak bisa diabaikan adalah kemauan dan kemampuannya dalam mengatasi problema-problema belajar yang dihadapi oleh murid. Tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanyalah guru yang belum mengenal potensi siswa yang sebenarnya. Setiap anak pasti memiliki potensi dan bakat yang berbeda. Maka hendaklah guru itu bersikap sabar dan bijaksana. Dengan pemahaman yang benar tentang psikologi siswa, maka tidak akan ada siswa yang terciderai secara psikis ataupun gagal dalam belajar.
Guru profesional menyadari bahwa sepenuhnya memahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain dan penuh dengan alam khayali. Mereka senang mengeksplorasi sesuatu yang baru dan menantang. Ruang belajar mereka tidak hanya buku, tapi juga alam sekitarnya. Belajar bagi mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Namun sayangnya, kelas-kelas yang ada seperti penjara karena penuh aturan yang ketat. Pendekatan pembelajaran terlalu serius, dengan guru sebagai pusat edar segala aktivitas di kelas. Siswa Indonesia tidak terdidik untuk menjadi generasi mandiri, yang bisa memecahkan masalahnya sendiri.
Anak-anak selalu memiliki caranya sendiri untuk beraktualisasi diri. Berbeda dengan orang dewasa yang telah terkekang oleh berbagai tata aturan norma dan kumpulan nilai-nilai, anak-anak masih memiliki kesempatan luas untuk menjadi apapun yang mereka mau. Dengan imajinasinya yang tanpa batas, mereka bisa memilih berganti profesi setiap hari. Kadang ada yang memilih peran sebagai polisi, tentara, dokter, insinyur ataupun pengusaha. Tiba-tiba besok telah berganti pekerjaan sebagai pilot, masinis kereta api, ibu rumah tangga, bahkan pedagang asongan. Hal seperti ini jelas tak mungkin bisa dilakoni oleh para orang dewasa. Namun satu hal yang tak boleh kita lupakan bahwa setiap orang dewasa pasti pernah melakukan imajinasi-imajinasi serupa semasa era kanak-kanak yang silam.
Kekuatan imajinasi ini merupakan bentuk proses berpikir yang sangat positif bagi perkembangan kognitif anak. Melalui imajinasi, mereka akan terbiasa untuk melakukan aktivitas kreatif yang mendorong terjadinya interaksi dinamis antara otak kiri dan kanan. Semakin baik imajinasi yang dihasilkan maka diyakini akan semakin baik pula tingkat kecerdasannya. Lewat imajinasi inilah, anak juga belajar untuk melatih cara berpikir abstrak sambil terus membangkitkan potensi kreatif yang telah ada pada dirinya.
Kreativitas adalah kata kunci bagi proses pengembangan dan perbaikan pembelajaran di kelas. Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk membentuk kelas yang efektif; pertama adalah pendekatan pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, kedua adalah penerapan prinsip-prinsip manajemen kelas yang dinamis.
Pendekatan yang berpusat pada siswa tidak hanya mengubah peserta didik dari objek menjadi subjek pembelajaran, namun mentransformasi setiapa mereka menjadi fasilitator dan sumber belajar bagi sesamanya, bahkan bagi gurunya sendiri. Jadi guru dan siswa akan sama-sama saling belajar dan akan sama-sama saling mengajar. Jadi inilah ciri utama guru yang profesional dalam mengajar; Ia mau belajar bahkan tak sungkan untuk diajar oleh siswanya sendiri!

Oleh :

Guru Agung Pardini

GM Sekolah Kepemimpinan Bangsa Dompet Dhuafa

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel