“Trouble Maker”, Katanya

917

Pandangan mataku tertuju pada seorang siswa laki-laki yang tengah dikerumuni oleh siswa laki-laki lainnya. Tampaknya ia adalah ketua atau pemimpin kelompok itu. Semua pandangan anak-anak tertuju padanya. Layaknya seorang ketua geng di film-film, ia sesekali memerintah teman-temannya untuk melakukan atau membeli sesuatu. Ia adalah Chandra, siswa kelas VI. Adik-adik kelasnya terlihat segan dan takut kepadanya.

Hari itu adalah hari pertamaku mengajar, anak-anak berbicara setengah berbisik kepadaku, “Ibu, Chandra itu anak yang bandel, nakal, enggak sopan sama orang tua, dan …”. Hampir semua label tidak baik tertuju padanya. Saat kegiatan belajar-mengajar, Chandra benar-benar berulah. Chandra keluar masuk kelas. Entah apa maksudnya. Sudah beberapa kali ditegur namun semakin Ia mengulangi perbuatan itu. Ia bukan hanya trouble maker di kelasnya tapi juga di kelas lain.

Hari-hari berikutnya pun demikian. Ia mengganggu pembelajaran kelas pembelajaranku. Ia adalah ketua kelompok siswa laki-laki kelas VI. Sudah pasti ketika ia mengganggu kelas lain, teman-temannya turut meramaikan suasana. Sampai suatu ketika kuminta untuk bermain di luar kelas, Ia malah memukul pintu dan pergi dengan kesal.

Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi Chandra. Aku kembali ke kantor untuk mengambil keperluan yang lupa kubawa. Di kursi tamu terlihat salah satu guru tengah memarahi seorang siswa laki-laki. Oh ternyata siswa itu adalah Chandra. “Apakah Chandra kembali membuat ulah lagi?” Pikirku dalam hati. Sang guru dengan suara tinggi mempertanyakan sesuatu kepada Chandra. Chandra hanya diam saja mendengarkan nasihat sang Guru. Sesekali Ia menjawab pertanyaan sang guru. Namun, sang guru semakin marah dan pada puncaknya menendang meja hingga suasana kantor menjadi sunyi. Chandra hanya diam. Ia semakin menundukkan pandangannya.

Check and re-check, ternyata terjadi salah faham. Chandra bermain cermin dengan teman-temannya. Pantulan sinar dari cermin mengenai matanya dan spontan Chandra mengucapkan kata-kata tidak sopan. Sang guru mengira kata-kata tersebut tertuju untuknya. Chandra yang dikenal bandel dan nakal secara otomatis menjadi tersangka tunggal. Maka tanpa menunggu lama kejadian tersebut menjadi hot news.

******

Akhirnya aku menemukan sisi lain dari seorang Chandra.

Pada jam pelajaran SBK, siswa kelas V aku tugaskan untuk membuat display tentang anggota kelas. Chandra tampaknya tertarik untuk ikut mengacau seperti biasanya. Oh, ternyata aku salah besar. Kali ini Ia menawarkan diri, “Bu, saya boleh ikut menempelkan kertas ini. Saya bisa kok Bu..”. Pintanya padaku yang saat itu sedang menempel kertas-kertas di papan display. Tanpa berpikir panjang dan membuang-buang waktu, aku berikan kertas-kertas itu pada Chandra. Ia tampak menikmati pekerjaannya. Sesekali ia terbalik menempelkan kertas dan mengulang kembali dengan kertas yang baru. Setelah selesai menempelkan kertas, ia menawarkan jasanya kembali. Memasang jam dinding dan display menjadi pekerjaan selanjutnya.

Dimanakah anak nakal, bandel, label negatif yang melekat pada Chandra? Tak ada yang salah dengan sikapnya. Ia seperti siswa-siswa yang lain. Ia hanya sangat ingin tahu dengan hal-hal baru. Dengan keunikan caranya sendiri.

Aku kembali menemukan hal baru dari seorang Chandra. Menjelang Ujian Nasional (UN), Chandra adalah satu-satunya siswa yang keluar-masuk kantor untuk menanyakan soal yang tidak dimengerti kepada wali kelasnya. Ia tampak serius dan menikmati tugasnya. Anak yang dikenal trouble maker tersebut ternyata adalah anak dengan nilai UN tertinggi. Luar biasa!

“Pulang sekolah Chandra suka nangis kalau dapat nilai jelek,” ujar ibunda Chandra. “Ma, teman-teman dapat nilai yang bagus tapi nilaiku kecil sekali”, adu Chandra pada ibunya. “Tidak apa-apa. Hasil Ujiannya jangan disobek ya, biar bisa menjadi pelajaran untukmu,” sahut ibunya. Sontak Chandra menjawab: “Ma, besok aku akan dapat nilai yang lebih bagus dari teman-teman!”

Chandra adalah anak yang cerdas. Ia hanya sedikit berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ia unik. Ia anak yang aktif. Penuh misteri dan sulit ditebak. Ia hanya butuh bimbingan yang tepat. Trouble maker hanyalah label yang membelenggu karakter sesungguhnya dari seorang Chandra. Dan mungkin masih banyak lagi siswa yang sesungguhnya memiliki kecerdasan yang lebih dari teman-temannya, namun karena hal negatif yang dilekatkan kepadanya membuat hal positif yang dimilikinya tenggelam.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY