Guru dan Nilai-Nilai Afektifnya

724

Guru memiliki peran yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Lebih dari itu, guru memiliki peranan yang sangat penting atas terciptanya sumber daya calon pemimpin dan pengurus bangsa masa depan, yaitu anak-anak, sehingga selain memberikan kemampuan mengajar ilmu pengetahuan, guru juga dituntut harus memliki kemampuan mendidik siswa-siswanya. Namun, sosok guru yang mempunyai peranan pendidik rasanya kini mulai jarang ditemui, padahal setiap tahunnya guru mempunyai tugas untuk memberi nilai akhir yang mencakup nilai kognitif, psikomotorik, dan afektif juga. Nilai kognitif mencakup hasil evaluasi belajar siswa, psikomotorik terkait keterampilan lain yang berpotensi dalam diri siswa, dan nilai afektif mencakup penilaian akan watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau moral yang dimiliki oleh siswa. Ya, nilai-nilai yang seharusnya berbanding lurus dengan apa yang dicontohkan guru kepada siswa disekolah. Sadarkah guru nilai-nilai afektif yang didapatnya dari siswa-siswanya merupakan cerminan atas didikannya selama disekolah?

Pertanyaan kekhawatiran tersebut semakin menyeruak ketika menyaksikan banyaknya tawuran pelajar yang terjadi, kekhawatiraan lainnya pun muncul kala guru memilih untuk banyak menghukum daripada memberi konsekuensi berupa pendidikan dan penanaman perilaku sejak awal terhadap siswanya. Terlebih lagi, kala menjumpai guru berbuat asusila, merokok di depan siswa, datang terlambat dari pada siswa, sampai memberi nilai di rapor yang tidak wajar karena permasalahan pribadi dengan siswa tersebut. Lantas dimana esensi nilai afektif yang selama ini diberikan guru disetiap akhir tahun ajaran dalam rapor siswa-siswanya? Dari segi keilmuan dapat kita telusuri taksonomi krathwohl yang mengemukakan ada lima tingkatan dalam penlaian ranah afektif, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization. Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization. Pada tingkat ini siswa memiliki sistem nilai untuk mengendalikan perilakunya sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup yang akan mereka bawa hingga nantinya. Hasil nanti berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sikap sosial mereka. Oleh karena itu, ranah afektif ini menjadi hal penting. Apabila guru salah dalam mendidik, akan berdampak buruk juga pada masa depan siswa.

Permasalahan akan sikap guru memiliki hubungan yang erat dengan kurangnya perhatian terhadap peraturan-peraturan yang telah dibuat. Ya, hanya dibuat, bukan disepakati selayaknya peraturan yang merupakan hasil pemikiran dan persetujuan bersama. Guru pasti tahu bahwa mendidik siswa bukan hanya dalam ilmu pengetahuan saja, tapi juga penanaman akhlak yang perlu dilakukan sejak dini. Namun itu tidak cukup untuk menggugah kesadaran karena tidak semua guru memahami profesinya sebagai guru, ada yang menjadikan sebagai lahan untuk mencari pendapatan atau sekedar mengisi waktu luang saja. Sehingga esensi menjadi pendidik tidak begitu dirasakan apalagi diaplikasikan.

Harapan besar tentu datang kepada guru-guru lain yang pasti masih memiliki asa untuk membangun suasana pendidikan yang layak dan merubah paradigma yang ada. Fenomena ini membawa pesan bahwa guru harus segera melakukan evaluasi akan nilai-nilai afektif yang diberikan kepada siswa, bagaimana nilai afektif yang dikeluarkan juga berbanding lurus dengan nilai yang dicontohkan dan ditanamkan. Semua pihak terkait juga selayaknya memikirkan masalah ini. Kepala sekolah sebagai pemegang aturan sebaiknya bukan hanya menjadikan perilaku guru disekolah sebagai sutu hal biasa, dianggap angin lalu hingga akhirnya berakibat pada rusaknya moral siswa. Perlu ada teguran baik lisan maupun tulisan, peraturan yang disepakati secara bersama, melakukan sistem memberi dan mengurangi poin bagi guru teladan yang berperilaku baik dan mengikuti peraturan, dan sejumlah ketentuan lainnya yang mempunyi sifat mendidik. Bukan menghukum apalagi menghakimi. Sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman dalam memposisikan profesi guru. Satu hal yang harus selalu guru ingat, bahwa keberadaannya adalah untuk mengelola sumber daya yang paling berpengaruh atas bangsa ini, anak-anak. Anak-anak tersebut layak tumbuh dengan kapasitas sebagai individu yang baik dan berkualitas, bukan hanya berilmu pengetahuan yang baik dengan segudang prestasi akademik dan nilai kognitif yang tinggi, namun juga akhlak (nilai-nilai afektif) yang baik.

 

*Tulisan pernah dimuat di Harian Inspirasi News

*sumber gambar: get2iarea.blogspot.com

BAGIKAN

LEAVE A REPLY