Menjadi Pengawas Jujur

600

Perngalaman menjadi pengawas ujian bagi guru tentu merupakan hal yang sering dialami. Setiap 3 bulan sekali, ada Ujian Tengah Semester, 3 bulan berikutnya ada Ujian Akhir Semester, tak ketinggalan agenda tahunan UN. Wajib! Otomatis para guru pun sudah sangat sering menjadi pengawas saat ujian.

Saat mengawas, tentu berbagai  model cara siswa mengerjakan soal ujian. Apalagi saat siswa sudah hampir selesai menjawab soal. Maka, akan didapati polah siswa yang sudah tidak sabar. Keributan kecil pun kadang terjadi. Siswa mulai gelisah, tengok sana-sini. Entah mencari jawaban lewat tatapan mata dengan teman di bangku seberang atau meminta kesepakatan untuk keluar bersama. Saya pun tidak bisa memahaminya.

Dalam kondisi yang sudah tidak kondusif, perlu ada ketegasan dari pengawas. Pengawas ujian diadakan bukan hanya sekedar untuk membagikan soal dan mengisi beberapa administrasi terkait ujian. Tapi tugas yang paling penting dari seorang pengawas adalah memastikan kondisi ujian tenang, tertib, siswa bekerja sendiri, dan tidak ada aksi contek-mencontek antar siswa. Pun pengawas juga bukan bertugas memberitahukan jawaban soal ujian pada siswa, termasuk memastikan tidak ada oknum yang berusaha memberikan jawaban pada siswa yang sedang ujian.

Inilah yang perlu dan sangat penting untuk kita tanamkan pada diri siswa-siswa agar menyadari betapa berharganya sebuah kejujuran. Katakan pada siswa bahwa bekerjasama dalam ujian itu tidak baik, kemudian berikan kepercayaan pada siswa bahwa mereka bisa. Setiap siswa bisa lulus dengan tangan mereka sendiri, setiap siswa bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri untuk mengejar mimpi-mimpi mereka, termasuk lulus Ujian Nasional.

Semoga para guru menyadari hal ini. Kita tentu tidak ingin, kesucian guru “sang panutan” tergadai hanya gara-gara memberikan jawaban ujian pada siswa. Jikapun ada dan mungkin pernah dilakukan, hanya karena takut tercoreng nama baik sekolah, marilah kita tutup lembaran suram itu. Marilah kita kembali pada filosofi mengajar dengan hati. Mengajarlah dengan memperhatikan moral seperti yang digaungkan selama ini; menjadi manusia yang berkarakter! Sehingga siswa berkarakter tidak hanya ada dalam RPP, tetapi ada dalam kenyataan. Guru berkarakter akan melahirkan siswa–siswa yang berkarakter pula.

“Bangga Jadi Guru, Guru Berkarakter, Menggenggam Indonesia!

BAGIKAN

LEAVE A REPLY