Pendidikan Sebagai Vaksin Sosial

542

Ibarat tubuh, agar tahan terhadap berbagai macam penyakit, haruslah daya imunitasnya ditingkatkan, salah satu caranya melalui vaksinasi. Dalam perspektif sosial kemasyarakatan ada tiga penyakit sosial yang sangat besar dampak negatifnya yaitu:     (i) kemiskinan; (ii) ketidaktahuan; dan (iii) keterbelakangan peradaban. Bagaimana caranya menaikkan daya tahan (imunitas) sosial agar terhindar dari ketiga macam penyakit tersebut? Jawabannya adalah pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan dapat menjadi vaksin sosial (penggalan sambutan MENDIKBUD pada Hardiknas 2013).

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak diiringi dengan pembangunan total di bidang pendidikan? Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk?

Pengelolaan pendidikan pada satu daerah tentunya berbeda dengan yang lain, akan tetapi hal yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan dasar bagi subjek sekaligus objek pendidikan. Pendidikan sebaiknya disesuaikan dengan pilar pembangunan pendidikan yang termuat pada Rencana Strategis Kemendiknas 2010-2014, yakni ketersediaan, keterjangkauan, kualitas atau mutu dan relevansi, kesetaraan, serta kepastian pada layanan pendidikan. Pendidikan sebaiknya memberikan garansi bahwa setiap daerah mampu menyelenggarakan dan menyediakan pendidikan bagi masyarakatnya. Keterjangkauan dimaksudkan pada aspek semua lapisan masyarakat mampu menerima atau menikmati layanan pendidikan. Perlu adanya kemampuan untuk menjamin mutu pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat.

Tak cukup menafkahi keluarga itu miskin, tapi lebih miskin lagi jika tak peduli terhadap pendidikan anak dan masa depan bangsa. Sebuah gambaran sekilas mayoritas daerah pelosok dari hubungan orangtua siswa dengan pendidikan. Menurut hemat saya letak kemiskinan sebenarnya bukan atas harta yang dimiliki tetapi atas ilmu yang dimiliki, dan orang paling kaya di muka bumi adalah yang mengamalkan setiap ilmunya di jalan Allah. Sangatlah tepat jika ilmu itu kekayaan abadi, sehingga berkat ilmu, Sayyidina Ali mendapat julukan dari Rasulullah sebagai Madinatul Ilmi (kotanya ilmu), ini semua melalui proses panjang karena Sayyidina Ali memuliakan ilmu dan dimuliakan ilmu, terbukti dengan apa yang dikatakan beliau;”Tuntutlah ilmu, karena jika Anda seorang kaya maka ilmu itu memperindah Anda dan jika Anda miskin maka ilmu memelihara Anda.”

Berbicara tentang pendidikan di negeri ini, marilah kita mengingat kembali sosok Ki Hajar Dewantara. Anatomi nilai dan perkembangan pendidikan Bangsa Indonesia tidak luput dari perjuangan besar serta pemikiran dedikatif beliau. Sehingga dari pemikiran-pemikirannya, pendidikan haruslah mengarah kepada kehidupan sosial dan humanis. Pendidikan yang humanis menekankan pada pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh dan berkembang. Menurut Ki Hajar Dewantara singkatnya; “Educate the head, the heart, and the hand!”

Di tengah perkembangan teknologi dan komunikasi, nyatanya manusia makin bersikap individualis. Sebagai penawar, kiranya pendidikan dan pembelajaran harus berbenah dalam memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat. Ki Hajar Dewantara mengatakan, “Bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.” Maka, salah satu cara efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya.

Sistem pendidikan di Indonesia belum mampu menjadikan siswa-siswa tumbuh dewasa, mengenal diri, mampu berkembang dan mandiri dengan kreativitas yang dimiliki, yang bertujuan untuk melahirkan individu-individu unik dan terampil di bidangnya. Tak ayal sebuah kritik melalui puisi diungkapkan penyair W.S Rendra;”Aku bertanya: apakah gunanya pendidikan, bila hanya akan membuat seorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya.”(Sajak Seonggok Jagung)

Puisi Rendra benar-benar menyuarakan kegalauan dari suatu sistem pendidikan kita, yakni ketidakmampuan pendidikan dalam menyadarkan peserta didik terhadap persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan nyata bangsa ini. Ironisnya, hampir tak ada bedanya perilaku orang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan karena tidak mempunyai akses mendapatkan pendidikan berkualitas. Jika pun benar bahwa pendidikan sebagai vaksin sosial adalah salah satu yang melatarbelakangi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, yaitu ”Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan.” Pemerintah terutama Menteri Pendidikan haruslah bijaksana dalam menetapkan kurikulum, sehingga tidak muncul peribahasa;”Lain ladang lain belalang, lain menteri lain kurikulum.”

Berdasarkan sebuah penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinya (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karakter pada anak didik.

Pendidikan adalah investasi peradaban, sebuah ungkapan yang menjadi dasar bagi pengembangan kualitas hidup bangsa Indonesia. Sebagai vaksin sosial, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun peradaban suatu bangsa untuk selalu eksis di masa depan. Kita tidak benar-benar serius mencermati perubahan apa yang terjadi pada anak didik kita dalam kegiatan pendidikan. Pendidikan tidak seharusnya membuat anak didik kita kehilangan jati diri, kehilangan arah, cerdas tapi tak bermoral. Mereka belum memahami untuk apa menuntut ilmu, sehingga koruptor dengan pendidikan tinggi semakin meningkat jumlahnya, orang-orang pintar dengan berani menjual aset negara. Inilah yang disebut dengan pendidikan kehilangan nilai humanismenya. Jika hal ini berkelanjutan, maka keterbelakangan peradaban akan terjadi sesuai dengan tiga penyakit sosial yang berdampak negatif. Perlu diingat kembali bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada kegiatan mentransfer ilmu dan pengetahuan, utamanya yakni mentransmisi nilai-nilai baik dalam kehidupan.

Bila pendidikan tidak disesuaikan dengan pola kebutuhan masyarakat, maka pendidikan menjadi kurang bermakna bagi masyarakat. Pendidikan bukan menyangkut bekal hari ini, tapi menyangkut arah tujuan masa depan bangsa. Sudah saatnya bangsa kita hijrah dari kegelapan menuju cahaya.

*Tulisan pernah diterbitkan di Koran Pagi Dompu (10/6/2013)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY