Jadilah Guru Hebat dengan PTK!

574

“Lahap membaca, gemuk menulis”, sebuah kutipan dari Wijaya Kusumah untuk menganalogikan guru yang punya kebiasaan membaca. Menurutnya dengan rajin membaca guru akan semakin mudah mengeluarkan gagasan untuk menulis. Sebaliknya, ketika guru malas membaca, sudah dapat dipastikan bahwa dia juga malas menulis atau menghasilkan sebuah karya ilmiah. Begitu lah pria yang akrab disapa Om Jay ini menjelaskan salah satu penyebab guru takut membuat Penelitian Tindakan Kelas.

Sabtu (27/7), Om Jay memberi kejutan di kelas Sekolah Guru Indonesia (SGI) dengan menghadirkan sahabat sesama penulis buku PTK, Dedi Dwitagama. Tak urung kelas menjadi heboh dengan banyolan-banyolan inspiratif mereka. Ya, duo peraih GURARU AWARD ini mengisi perkuliahan “Penelitian Tindakan Kelas”  di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa sejak pukul 08.30 sampai 15.00 WIB. Kuliah ini membahas tuntas tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan berbagai realitanya di lapangan. Menarik tentunya, calon guru SGI angkatan V berhasil terbius oleh ulasan kedua pakar ini.

Mengawali kuliah, peserta disodori film tentang contoh pembelajaran di kelas yang bermasalah sehingga proses belajar mengajar terhambat dan tidak terjadi transfer ilmu kepada siswa. Mulai dari masalah lingkungan seperti kurangnya peralatan tulis-menulis sampai dengan strategi pembelajaran yang tidak sesuai bisa menjadi penyebabnya. Hal ini tentunya tidak diinginkan oleh setiap guru karena perpindahan ilmu oleh guru kepada siswa tidak terjadi. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran tidak tercapai. Oleh karena itu PTK urgent dilakukan.

PTK dapat membuat pendidik – dalam hal ini guru – semakin peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran dan meningkatkan kinerja pendidik dari konvensional menjadi profesional. Profesional dalam hal ini adalah pendidik dapat secara otodidak dan mandiri dalam mempelajari strategi-strategi pembelajaran, sehingga menjadi kreatif dan inovatif dalam mengadopsi serta menerapkan metode-metode dan teknik-teknik pembelajaran terkini.

Namun kenyataannya, banyak guru yang takut melakukan PTK. Dalam hal ini ada beberapa factor penyebab menurut Om Jay. Pertama, guru belum utuh memahami profesi guru yang sebenarnya. Kedua, para guru malas membaca yang berujung pada kemalasan untuk menulis dan meniliti. Ketiga, kurangnya kreatifitas dan pemahaman tentang PTK. Hal ini sangat disayangkan mengingat betapa bermanfaatnya PTK dalam pembelajaran di kelas, terutama dalam mengevaluasi performance guru.

Pada akhirnya, mengutip perkataan Dedi, menjadi guru yang baik itu tidak cukup hanya banyak mempunyai ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan mudah dipelajari dengan membaca. Jadi guru yang baik juga harus bisa merasakan dan berbuat dengan baik sepenuh hati.  PTK merupakan salah satu jalannya. Knowing,  feeling and acting good, itulah ciri-ciri guru hebat.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY