Kerikil Palestina

596

Darah berceceran. Di atas permukaan aspal yang dipenuhi dengan darah kering dan berbau amis. Di tengah kota mati yang dipenuhi mayat hidup yang berserakan, mayat yang jasadnya telah hancur terkoyak oleh amunisi yang tak kenal arti kemanusiaan. Aku susuri tetesan darah itu seakan mengikuti jejak yang sengaja dijatuhkan untuk meminta bantuan. Banyak darah kutemui tapi cuma satu yang bisa kukenali. Wujudnya masih basah dan warnanya masih cerah membantuku membedakannya dengan ribuan darah yang memiliki DNA yang berbeda. Tank-tank zionis tak berpenghuni masih terlihat kokoh terparkir di setiap sudut kota itu. Proyektil-proyektil berukuran besar yang terlepas dari larasnya masih menyimpan aura kekejaman yang siap menghanguskan siapa saja.

Satu-persatu bangunan setengah utuh kulewati. Gang-gang sempit yang diselimuti serpihan-serpihan bangunan yang berserakan kulalui mengikuti kemana darah itu membawaku. Setelah berjalan cukup jauh, sambil mengikuti ceceran darah itu, kulintasi bukit tumpukan mayat dan sungai yang dialiri darah. Di balik dinding masjid yang hampir rubuh, kusaksikan seorang bocah yang sudah menginjak usia balig sedang sujud dengan kaki kiri yang buntung bersimbah darah terbalut kain lusuh. Kusaksikan ekspresi wajahnya meringis menahan sakit sedang fasih melafalkan bacaan sholat. Karena di masjid itu tak kutemukan tempat wudhu yang masih berfungsi, aku rapatkan kedua telapak tanganku ke dinding masjid yang penuh debu, kemudian aku usapkan kebagian tubuh yang disunnahkan terkena tayamum. Aku ikut sholat di belakang anak itu sebagai makmum.

Setelah tahyatul akhir kemudian salam, aku angkat tanganku dan aku tundukkan hatiku memohon do’a kepada Allah, agar negeri para nabi ini terbebas dari kezaliman para zionis laknatullah alaih. Air mataku menetes bersamaan tetesan air hujan yang sangat langkah ditemui  di negeri ini. Tetesan air mataku membasahi lantai masjid yang berkeramik, tetesan air hujan membasahi tanah palestina yang diselimuti gumpalan darah yang mulai mengering. Aroma anyir yang seharusnya tercium tidak aku temukan, justru harum semerbak wangi kasturi merasuk memenuhi relung jiwa dan fikiranku.

Bocah yang mengimami shalat dzuhurku kembali melanjutkan bacaan Al Qu’ran nya. Dengan sebuah mushaf di tangan kanannya, duduk bersila di pojok masjid bagian depan. Bacaannya yang tartil dan ihsan membuat aku terhanyut dalam samudra surat Al-Baqarah. Salah satu potongan ayat yang paling membekas adalah: “Walaa taquuluu liman yuqtalu fii sabiilillaahi amwaatun bal ahyaaun walaakin laa tasy’uruun.” Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahwa mereka itu telah mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tapi kamu tidak mengetahuinya”. (Q.S. 2 ayat 145).

Kesedihan yang muncul setelah melihat jasad saudara-saudaraku bergelimpangan tak bernyawa, dibantai tanpa belas kasihan di atas tanah mereka sendiri. Bocah-bocah mungil tanpa dosa dan wanita-wanita mulia calon bidadari surga yang menjadi sasaran empuk para sniper handal seakan memberikan senyum kebahagiaan menemui waktu yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Nyawa mereka mungkin telah direnggut dan jasadnya pun telah menjadi bangkai, tapi ruh mereka tak akan pernah mati. Jawaban atas pertanyaan yang selama ini menghantui bangsa zionis dan para pengikutnya, sedikit demi sedikit terkuak.

Jangan heran kalau tanah Palestina tidak bisa direbut dari tangan kaum muslimin, itu karena mereka memiliki tentara bayangan yang jumlahnya tak terkira. Para mujahid yang terbunuh tidak akan pernah membiarkan tanah mereka dikuasai oleh musuh-musuh Allah, mereka akan tetap menjadi mujahid yang akan berjuang meski hanya dengan kerikil-kerikil kecil. Bayi yang terbunuh akan kembali terlahir dari rahim-rahim perempuan Palestina yang tidak akan pernah berhenti untuk ber-reproduksi. Darah yang tertumpah akan menjadi ranjau-ranjau darat yang siap menghempaskan tentara-tentara Israel. Tanah Palestina akan kembali merdeka dari penjajah. Masjid Al-Aqsha akan kembali mengumandangkan adzan yang akan membahana di tanah Al-Quds.

Aku baru tersadar dari lamunanku. Aku lihat hujan makin deras, wangi semerbak kasturi semakin menentramkan pikiranku. Bocah yang tadinya duduk manis melantunkan ayat suci  Al-Qur’an, sekarang tergeletak terbaring tak beralas. Aku dekati dan aku hampiri, wajahnya nampak tersenyum dengan mata yang terpejam. Aku periksa pergelangan tangannya dan aku raba denyut nadinya, ternyata sudah tak berdenyut. Jasad bocah itu sudah tak bernyawa, mungkin saja dia mati syahid. Aku terkejut memandangi dadanya bersimbah darah, ternyata ada 2 peluru yang bersarang di dalamnya. Aku tertegun, membisu, terhentak melihat kondisinya. Tubuhnya mengenaskan, tapi ruhnya telah bersemayam pada tempat yang terindah.

 

*Tulisan pernah dimuat di Bangka Pos pada 28 April 2013

*Sumber gambar: https://beninghatiwanita.blogspot.com

BAGIKAN

LEAVE A REPLY