ArtikelArtikel

Kolaborasi Mendidik

Mendidik bukan hanya tugas satu elemen masyarakat , bukan hanya tugas seorang guru semata juga bukan hanya tugas orang tua namun mendidik adalah tugas kita bersama mau jadi apapun kita tetap tugas itu melekat pada diri kita selaku manusia. Jangan sampai kalah dengan hewan yang menurut ki Hajar Dewantara ia pun memiliki naluri pedagogis yang artinya naluri mendidiknya sendiri. Hewanpun selalu mengajarkan anaknya tentang bagaimana cara bertahan hidup. Tengoklah ayam, ia mengasuh anaknya hingga umur tertentu mengajarinya cara mencari makan dan saat umurnya sudah cukup untuk mandiri ia pun ‘disapih’. Seakan orang tua tak mau hidup dengan anaknya padahal itu lah sejatinya pendidikan kemandirian, agar kelak anaknya bisa mandiri seperti ayam-ayam dewasa lainnya. Lalu sudahkah anak kita kita ajari mandiri saat usia mulai baligh?

Manusia adalah makhluk social yang tak akan bisa hidup sendirian tanpa ada bantuan orang lain, oleh karena itu kolaborasi dalam mendidik juga harus dilakukan bukan hanya sekedar mengandalkan persekolahan semata , mengandalkan guru untuk membuat anak-anak didik menjadi anak baik, sholeh dan cerdas namun juga tugas orang tua , tugas kaka kakanya dan tugas masyarakat sekitarnya.

Ki Hajar dewantara pernah menuturkan tripusat pendidikan dalam menyukseskan pendidikan buat anak Indonesia yaitu: Sekolah, Orang tua dan organisasi Kepemudaan. Sehingga menyingkronkan ketiga hal ini bahkan merekayasanya sedemikian sehingga siswa bisa tumbuh dan berkembang dilingkungan yang kondusif maka kesuksesan mendidik akan tercipta. Bahkan prof. H.A.R. Tilaar mengembangkan konsep tripusat menjadi pancapusat pendidikan yakni: Keluarga, sekolah, masyarakat, Negara dan Global yang melalui lima hal ini anak-anak Indonesia hendaknya dididik dan mengembangkan dirinya, bukan hanya skup lingkungannya saja namun melintasi dunia, agar anak-anak memiliki wawasan global terutama di era digital seperti saat ini yang batas negara tak begitu berarti karena teknologi.

Oleh karena itu sidah saat mendidik tak lagi kita serahkan sepenuhnya ke satu pihak namun mari kita bergandengan tangan bersama dan kita mulai dari lingkup utama yakni guru dan orang tua. Kondisi pandemic covid 19 membuat anak-anak harus belajar di rumah . maka ini peluang besar bagi kita untuk membangun kolaborasi lebih baik lagi guna mendidik peserta didik.

Guru sebagai pemimpin harus mampu memberikan inovasinya dalam meramu kurikulum yang pas, serta mengkomunikasikannya dengan baik kepada orang tua. Jangan sampai pembelajaran di rumah hanya sekedar penugasan kognitif yakni mengisi soal , menyelsaikan menulis yang tak bermakna tapi kita sebagai guru harus berinovasi merancang kurikulum yang mungkin dapat di kolaborasikan dengan orang tua. Sudah saatnya guru merdeka menentukan kurikulum yang pas disaat-saat seperti ini kemudian didiskusikan bersama orang tua dilaksanakan dan dipantau bersama serta sama-sama dievaluasi. Agar mendidik lebih bermakna.

Bisa kita bayangkan jika kolaborasi seperti ini terjadi pasca pandemic ini berlalu insyaAllah tentu ini akan menjadi lompatan besar pendidikan kita yang selama ini dianggap gagal dengan sederet pengukuran dari mulai PISA, Unesco, UKG dll. Namun angka-angka itu bukanlah jaminan yang harus kita lakukan adalah bagaimana anak-anak Indonesia bisa menjadi pemimpin yang baik di masa mendatang.

Oleh karena Sekolah guru Indonesia mencoba membangun paradigm bahwa Guru adalah sahabat orang tua dalam pendidikan anak-anak Indonesia dengan harapan terjadi harmonisasi yang berkelanjutan guna menyukseskan pendidikan kolaboratif di era berjejaring ini.

Ditulis oleh:

Guru Asep Ihsanudin (ketua Sekolah Guru Indonesia)

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel