ArtikelArtikel

Guru Masa Depan

Kebijakan  pendidikan nasional memang ada di tangan Kemendikbud, tetapi masa depan pendidikan Indonesia ada di tangan guru-guru. Bagaimana merancang masa depan guru Indonesia sehingga mereka menjadi sosok guru masa depan?. Mengagendakan program peningkatan mutu guru adalah penting dan mendesak. Kualitas profesi guru adalah faktor paling inti untuk mewujudkan mutu pendidikan. Kim (2005)mengemukakan, “the quality of education can not exceed the quality of teachers.” Ada satu hal penting ihwal kemuliaan profesi guru, yaitu kesadaran berposisi sebagai guru. Tampa ini, guru bakal terperangkap hanya memerankan diri sebagai pekerja biasa. Sekedar mengajar dan menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru.

Cara kerja seperti itu tak akan membawa perubahan apa pun bagi pendidikan Indonesia. Galibnya posisi guru sangat strategis. Posisi dengan multi peran yang mesti diemban. Peran pertama, guru sebagai profesi. Sebagai profesi, ada tuntutan yang harus di penuhi, yakni kesungguhan bekerja. Cintailah diri sebagai guru, juga cintailah mulianya mencerdaskan anak bangsa. Passion ini yang menjadi pembeda bagi guru.

Peran kedua sebagai pejuang. Berkhidmat untuk mencerdaskan anak bangsa harus siap dengan konsekuensi. Bahkan, bagi sebagian guru yang mengajar di pelosok daerah, mereka di tantang melakukan yang terbaik dengan segala keterbatasan. Apalagi, bagi guru dengan kondisi ekonomi tak berkecukupan, beban mereka semakin berat. Di satu sisi, harus menuntaskan tugas dan tanggung jawab dengan baik, di sisi lain mereka harus berjuang mengatasi persoalan hidup mereka.

Peran ketiga guru sebagai negarawan. Ikhtiar memerangi kebodohan sesungguhnya merupakan upaya perjuangan mewujudkan welfare state, yang mau tak mau karena ini ranah politik, guru mesti memerankan diri jadi negarawan. Kendati bukan pejabat negeri, apa yang di lakukan guru adalah tugas yang harus di laksanakan para negarawan. Bahkan, M Natsir pernah menyatakan, “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Sejatinya, guru adalah negarawan tampa jabatan.

Masa depan pendidikan bangsa mesti di siapkan. Pidato Mendikbud Nadiem Makarim dalam memperingati Hari Guru Nasional tahun 2019 memberikan petunjuk untuk menyiapkan guru masa depan. Menariknya, masalah klasik yang kerap mendera para guru disampaikan secara tersurat dalam pidato mendikbud. Guru penggerak hanya akan terjadi jika ruang kreativitas dan kemandirian berpikir guru difasilitasi. Realitas yang terjadi malah berkebalikan, kebijakan top down telah berhasil mengekang ruang gerak para guru.

Hal ini terkonfirmasi dari kajian Suryadi (2018) tentang masalah fundamental guru di Indonesia, yaitu, pertama, guru berpikir imitatif dalam konteks pengajaran dan pembelajaran. Kedua, guru berpikir prosedural-administratif dalam konteks pengembangan kapasitas profesional, dan ketiga, guru saling terisolasi satu dengan yang lainnya dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pada situasi ada guru yang hidupnya tak berkecukupan, kemandirian  dan kreativitas guru terpasung, gerak guru yang tak serentak pada satu tujuan yang sama, mungkinkah gerakan guru seperti ini mampu membuat Indonesia maju?

Pada dimensi kelaluan, pemerintah harus belajar dari kesilapan membuat guru tak mandiri dalam berpikir dan bersikap. Pada dimensi kekinian, pemerintah harus merubah haluan agar lebih banyak memberikan kesempatan kepada guru untuk berpikir, merancang sesuatu, bereksperimen, dan menata diri mereka menjadi sosok guru masa depan. Pemerintah tak bisa secara sepihak ‘memaksa’ guru harus berubah. Pemerintah juga harus memulai perubahan .”besok, di mana pun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda,”  begitu pesan mendikbud. Jangan lagi ada kebijakanyang bersifat intruksi dari pemerintah kepada guru. Ajak guru berdialog dan libatkan guru dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan nasional yang rumit dan kompleks.

Dalam istilah Prof Manabu Santo (2014), lakukan silent revolution/ revolusi damai ruang kelas. Perubahan dapat di mulai secara senyap dan damai di ruang-ruang kelas. Pembelajaran mengalami transformasi dari cara konvesional( guru ceramah, murid mendengarkan) menuju pembelajaran kolaboratif. Guru dan siswa berperan sebagai subjek perubahan. Tugas pemerintah, yakni memastikan faktor-faktor kritis terjadinya perubahan dapat terpenuhi. Muaranya, perubahan pendidikan dapat berjalan dengan baik dan tak menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Revolusi damai ruang kelas dalam model pembelajaran dapat mengakomondasi tantangan masa depan. Sebuah gagasan perubahan yang lahir dari transformasi menuju masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan.

Kebutuhan akan ‘sekolah masa depan’ mensyarakatkan terwujudnya pembentukan kemampuan  pemanfaatkan pengetahuan dan pengolahan informasi melalui pembelajaran kreatif dan eksploratif, serta kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah. Hal ini hanya akan terjadi di tangan guru-guru masa depan. Guru yang merancang cita-cita masa depan dan terlibat secara intens dalam perjuangan mewujudkan cita-cita tersebut. Perubahan tidak dapat di mulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Kiranya melakukan revolusi damai ruang kelas menjadi pilihan kebijakan paling tepat untuk menempatkan guru sebagai agen perubahan.

Berikan kemerdekaan dan kepercayaan tanpa syarat kepada para guru untuk belajar dan merancang masa depan para siswanya. Karena merekalah yang paling memahami kebutuhan masa depan para siswanya. Guru yang memulai, guru pula yang mengakhiri. Ciri karakteristik guru masa depan, mereka akan terus bergerak agar (pendidikan) Indonesia makin maju. Guru penggerak, Indonesia maju.

Ditulis oleh:                                                                                                                Guru Asep Sapa’at

General Manager Pendidikan Dompet Dhuafa

 

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Artikel