Tangisan Zuhratul Aeni

754

“Wooooy, teduk!” teriakan Aeni kepada adik-adik kelasnya yang hampir semuanya berbicara saat berbaris di halaman sekolah sebelum memulai menghafal Asmaul Husnah pagi itu. Beberapa siswa diam, tetapi sebagian masih banyak yang berbicara bahkan bermain dengan temannya. Siswa yang memiliki tahi lalat didekat bibirnya ini mulai merasa kesal dengan teman dan adik-adik kelasnya yang sulit diatur ketika berbaris. Dengan wajah seperti kertas yang dilipat berkali-kali hingga kusut, Aeni kemudian berlari menghampiri seorang guru yang sejak tadi sudah memperhatikan mereka. “Itu bu guru, susah sekali disuruh baris dan diam.” Lapor Aeni sambil menunjuk ke arah teman dan adik-adik kelasnya.

Aeni ingin sekali melihat guru kesayangannya itu senang. Ia selalu berusaha berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah, membersihkan kelas, kemudian mengajak teman-teman dan adik kelasnya berbaris di halaman sekolah untuk menghafal Asmaul husnah dan surat-surat pendek. Siswa kelas 6 di SDN 29 Manggelewa ini tidak pernah absen ke sekolah. Entah apa yang membuat Aeni begitu mengagumi dan menyayangi guru barunya itu, “Gak mau saya bu simpan-simpan sekolah, nanti gak ketemu ibu.” Katanya sambil memegang tangan guru barunya sampai ke dalam kelas karena hari itu pelajaran IPA di kelas 6.

Pernah suatu waktu, ketika diminta ibu guru barunya untuk menulis “ceritaku pagi ini”, Aeni menangis. Sambil terus menulis ia terus mengeluarkan air matanya. Ibu guru barunya hanya memperhatikan dan mencoba membaca apa yang terjadi. Guru baru itu tidak menanyakan langsung apa yang terjadi, ia hanya menunggu hasil tulisan semua siswa kelas 6 selesai. Tulisan Aeni lah yang paling ingin segera dibaca guru itu. Ketika membaca tulisan Aeni, tidak terasa air mata guru itu pun menetes. Padahal baru pada paragraf pertama.

“Pagi ini aku ingat ketika dulu aku mau pergi ke sekolah, ibuku selalu sisir rambutku. Tapi sekarang, aku sisir sendiri, pakai jepit sendiri. Sepertinya aku anak yatim piatu. Teman-temanku disayang sama orang tuanya, aku sendiri tidak. Aku ingin sekali dipeluk orang tuaku. Coba saja aku masih bersama ibuku atau bapakku….”

Banyak pertanyaan di kepala ibu guru baru itu, tentang Aeni dan keluarganya. Kenapa Aeni begitu merindukan ibunya? Kenapa ia merasa seperti anak yatim piatu? Apa orang tuanya sudah meninggal? Atau kenapa? Ibu guru baru itu mencoba bertanya kepada guru lain. Dari informasi yang diperoleh dari guru-guru lain, Aeni tinggal dengan kakek dan neneknya, ibunya bekerja di Arab Saudi sebagai TKW dan ayahnya tak tahu sekarang ada dimana.

Sedang istirahat pertama, ketika ibu guru baru ini melihat Aeni sedang duduk sendiri di depan kelasnya sambil memperhatikan teman-tamannya bermain sepak bola di halaman sekolah. Guru baru ini langsung menghampiri Aeni. “Gak beli jajan ni?” tanya ibu guru baru sambil duduk di samping kiri Aeni. “Sudah tadi bu guru.” Aeni menjawab sambil tersenyum dan merengkuh tangan guru barunya itu. “Jangan saja tidak datang ke sekolah, bu guru.” Pinta Aeni karena tadi setelah selesai menghafal surat-surat pendek di halaman sekolah, kepala sekolah menginformasikan bahwa mulai hari kamis sampai senin beliau dan beberapa guru harus mengikuti pelatihan di sekolah gugus IV kecamatan Manggelewa. Dan guru baru itu akan menjadi salah satu pengisi materi pada pelatihan tersebut, jadi tidak bisa datang ke sekolah. Guru baru itu hanya tersenyum. “Tidak enak tidak ada ibu guru.” Lanjut Aeni lagi. “Bu guru boleh main ke rumah Aeni gak kapan-kapan?” Ibu guru baru itu mencoba mengalihkan pembicaraan agar Aeni tidak memintanya untuk tetap ke sekolah, karena ibu guru itu tidak mau Aeni terlihat sedih karena ia memang tidak dapat ke sekolah selama pelatihan nanti. “Boleh ibu guru, kapan?” jawab Aeni semangat, sepertinya ia lupa dengan pembicaraan sebelumnya. “Nanti ibu kasih tau ya kalau ibu mau ke rumah Aeni.” Jelas ibu guru dan Aeni pun tersenyum. Manis sekali senyumnya kali itu, seperti tak ada sesak rindu kepada orang tuanya yang hampir setiap hari ia harapkan kedatangannya.

Hari selasa, satu hari setelah pelatihan guru selesai. Masih di jalan depan pagar sekolah, teriakan anak-anak sudah terdengar menyebut nama guru baru itu. “Woy bu guru Hanaa, bu guru Hanaa.” Mereka berlari menyambut guru baru itu, belum juga memasuki halaman sekolah anak-anak sudah berkerumun untuk mengucapkan salam dan bersalaman. Baru satu bulan ibu guru Hanaa mengajar pelajaran IPA di kelas 4, 5, dan 6. Tapi sepertinya anak-anak sangat menyukainya. Memang sudah 6 bulan ibu guru Hanaa di sekolah itu, tapi awalnya baru observasi. Selama masa observasi ibu guru Hanaa sering sekali mengajak semua anak bermain, dari main karet, jingklak (permainan tradisional menggunakan batu), kasti, sampai bermain sepok bola pun ibu guru Hanaa selalu ikut serta. Beragam games dan yel-yel diajarkan juga oleh ibu Hanaa. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa anak-anak senang dan mulai rajin ke sekolah.

“Aeni, nanti sore ke rumah bu guru ya. Kita latihan baca Al-Quran buat lomba besok.” Pinta ibu Hanaa. “Iya bu guru.” Jawab Aeni dengan penuh semangat. Tak sesuai perjanjian, Aeni datang lebih awal, ia sepertinya sangat bersemangat. Ia datang di antar paman jauhnya yang kebetulan akan pergi ke pasar yang melewati rumah bu guru Hanaa. Senyum manisnya merekah seperti bunga yang baru saja mekar karena hujan semalam, ketika ia melihat ibu guru Hanaa sudah di depan pintu menyambutnya. “Assalamualaikum bu guru.” Ucap Aeni sambil menyalami tangan ibu gurunya itu. “Walaikumsalam Aeni, ayo masuk.” Jawab ibu Hanaa sambil mengajak Aeni masuk.

Hampir satu jam Aeni mengulang membaca Al-Quran dengan beberapa kali diselingi dengan bercerita. Ternyata Aeni bercita-cita menjadi guru, katanya ia ingin sekali membahagiakan orang tuanya. Meskipun sekarang orang tuanya pergi meninggalkannya, tapi ia yakin orang tuanya sebenarnya sangat menyayanginya. Desakan ekonomi lah yang memaksa orang tua Aeni terutama ibunya untuk bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.

Aeni anak pertama, ia mempunyai dua orang adik, tapi adik-adiknya tinggal bersama kakek dan nenek Aeni dari ibunya, sedangkan Aeni tinggal bersama kakek dan nenek dari bapaknya. “Bapak cerai ibu waktu adek yang terakhir masih di perut ina (ibu).” Jelas anak yang tak pernah mengeluh ini sambil memandang ke luar. “Pingin sekali bu guru, saya beli rumah, biar ina sama bapak sama-sama lagi. Ada adik-adik juga. Saya kangen sekali dengan mereka. Saya liat bapak terakhir waktu cerai sama ina. Abis itu ina ke Saudi waktu adik Fina umur 3 bulan. Sampai sekarang saya belum pernah lihat mereka lagi.” Aeni mununduk perlahan sambil menahan tangisnya, tapi terlihat jelas matanya berkaca-kaca. “Ina kangen Aeni gak ya bu?” Air matanya jatuh membasahi Al-Quran yang sedari tadi dipegangnya. “Aeni sayang ina? Sayang bapak sama adik-adik juga?” tanya bu Hanaa disambut dengan anggukan cepat Aeni. “Aeni harus doakan ina, bapak, sama adik-adik Aeni terus ya. Aeni juga gak boleh sedih terus, kalau Aeni sedih mereka juga sedih, tapi kalau Aeni senang mereka juga pasti senang.” Ibu Hanaa mencoba menguatkan Aeni. “iya bu guru.” Sambut Aeni sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh lagi di Al-Quran yang ia pegang.

Aeni bukan seorang pahlawan yang berkorban demi bangsa dan negaranya, Aeni juga bukan nahkoda hebat yang bisa melayarkan kapalnya melewati banyak samudera luas. Tetapi sebenarnya ia juga sedang berjuang, sama seperti para pahlawan bangsa ini dan nahkoda hebat itu. Ia sedang berjuang menata hidupnya dengan terus belajar, ia sedang berjuang untuk ornag-orang yang ia sayang dan rindukan. Aeni adalah anak hebat dengan segala kelebihannya untuk tetap berusaha kuat menjalani hidupnya, dan dengan kekurangannya yang tak menjadikannya lemah. Semua inilah yang selalu menjadikannya anak istimewa.

Oleh : Siska Dewi SGI 3-DD

BAGIKAN

LEAVE A REPLY