Solusi Mengatasi Minimnya Pendidikan Karakter

36

Pendidikan tidak hanya mendidik para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Hal ini senada dengan definisi pendidikan menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 20013 mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa, dan negara.
Namun, saat ini pendidikan di Indonesia dinilai kurang berhasil dalam membangun kepribadian atau karakter peserta didiknya agar berakhlak mulia.

Diakui atau tidak diakui saat ini terjadi krisis yang sangat nyata dan mengkhawatirkan masyarakat dengan melibatkan pemilik kita yang berharga, yaitu anak-anak. Melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini seperti pelajar yang menjadi pemakai narkoba, melakukan tindak kriminal dan yang baru sempat hangat di media kabar yaitu kasus guru di Sulawesi Selatan, ibu Nurmayani yang mencubit anak polisi yang kemudian berakhir di sel penjara hingga menjadi perhatian publik.

Tidakkah ada rasa bersalah ia melakukan hal tersebut? Dimana lagi rasa hormat, sopan dan santun anak tersebut kepada gurunya?

Oleh karena itu dalam rangka mengatasi krisis moral yang terjadi saat ini yaitu salah satunya melalui pendidikan karakter. Sehingga pendidikan karakter dipandang sebagai kebutuhan yang sangat mendesak dan ini adalah salah satu tugas guru yang harus dipenuhi karena guru adalah orang tua bagi siswa di sekolah dan salah satu faktor terpenting dalam menentukan karakter / kepribadian anak selain orang tua dan lingkungan masyarakat.

Guru adalah sesosok orang yang digugu dan ditiru. Maka seyogyanya guru harus bisa menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang baik kepada siswanya. Ia harus mencontohkan dan menerapkan hal-hal baik terlebih dahulu sebelum ia menyuruh atau memerintah siswanya. Oleh karena itu, dalam mengatasi minimya pendidikan karakter maka seharusnya seorang guru harus mempunyai 3 unsur penting yaitu guru 3P (Pengajar, Pendidik dan Pemimipin).
Pertama, guru sebagai seorang pengajar, artinya seorang guru harus mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswanya (transfer knowledge), kedua guru sebagai seorang mendidik artinya seorang guru harus mampu menanamkan hal hal baik terlebih dahulu yang patut ditiru oleh muridnya (transfer value) dan ketiga guru sebagai pemimpin, artinya guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Jika didalam jiwa seorang guru telah memiliki 3 hal ini maka tidaklah mungkin siswa atau peserta didik tidak memiliki rasa hormat kepada gurunya. Tidaklah mungkin mereka merasa berani atau membangkang kepada gurunya karena yang ada dalam pikiran atau ingatan mereka bahwa guru ini patutu dihormati dan dihargai. Sehingga akan lebih mudah mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada mereka karena panutan atau suri tauladan yang mereka lihat sudah sangat tepat. Karena sejatinya sebagai seorang murid tanpa disengaja maupun sengaja akan mengikuti jejak dari gurunya.

Pendidikan karakter tentu tidak hanya ditentukan oleh guru tetapi orang tua dan lingkungan masyarakat juga turut mempengaruhi. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus membangun nilai-nilai pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak kita karena orang tua adalah rumah pertama bagi mereka maka akan sangat mudah mengajarkan pendidikan karakter tersebut. Dan tidak lupa orang tua juga berperan aktif dalam mengajarkan nilai-nilai keagamaan karena seyogyanya didalam nilai keagaaman tersebut ada beberapa bagian dari nilai karakter yang ada seperti, religius, toleransi, saling menghargai, dan lain-lain Lingkungan masyarakat juga turut menentukan sehingga kita sebagai orang tua tetap harus siap dan waspada akan pergaulan yang dijalin oleh anak kita.

Jika peran guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat sudah berjalan sebagaimana fungsinya maka tidaklah sulit untuk mewujudkan nilai nilai pendidikan karakter yang telah kita ajarkan kepada anak didik kita. Dengan adanya kerjasama dan sistem yang baik maka tidaklah sulit menjadikan peserta didik menjadi manusia yang cerdas tapi juga manusia yang memiliki karakter atau kepribadian akhlakul karimah serta tujuan pendidikan sebagaimana tertuang dalam UU No 20 tahun 2013 dapat tercapai.

Oleh :

Desita Erviani
Trainer Sekolah Guru Indonesia Penempatan Bolaang Mongondow, Sulawasi Utara

BAGIKAN

LEAVE A REPLY