Sekolah dan Kebiasaan Merokok

355

Oleh: Nizamuddin, S.T

Bahaya rokok terhadap kesehatan sudah pasti. Dengan kandungan lebih dari 4000 bahan kimia berbahaya dalam asap rokok  yang menyebabkan setidaknya 25 penyakit mematikan, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa merokok dapat membunuh kita. Membunuh secara perlahan dalam setiap hembusan asap rokok yang keluar. Bahkan bahaya asap itupun menyertai orang – orang di sekitar yang menghirupnya. Mereka disebut perokok pasif. Tidak merokok namun dapat terkena bahaya asap rokok karena menghirup asapnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok. Seperti peringatan di setiap bungkus rokok bahwa “ merokok dapat membunuhmu” disertai dengan gambar mengerikan penyakit akibat merokok. Atau pembatasan ruang gerak perokok di area umum melalui peraturan pemerintah. Begitupun kegiatan peringatan Hari Tanpa Tembako Sedunia yang selalu diselenggarakan pada 31 Mei setiap tahunnya.

Namun upaya yang dilakukan belum sejalan dengan yang dihasilkan. Menurut data Kementrian Kesehatan Indonesia jumlah perokok di Indonesia mencapai 90 juta jiwa di tahun 2015. Jumlah tersebut melonjak tinggi dari tahun 2013 yang masih pada 58 juta jiwa berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013. Bahkan menurut riset Atlas Tobaco, Indonesia kini menduduki peringkat pertama jumlah perokok tertinggi dunia.

Belum berhenti di situ, yang lebih memprihatinkan kebiasaan buruk merokok pada usia muda juga meningkat dari tahun ke tahun. Data Kementrian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan adalah usia mulai merokok semakin muda (dini).  Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.Jika boleh berasumsi, ini menunjukan bahwa upaya yang dilakukan selama ini masih belum efektif. Hal tersebut mungkin karena masih ada banyak hal luput dari perhatian, yang memberikan sumbangsih peningkatan jumlah perokok di Indonesia.

Peningkatan jumlah perokok di usia muda perlu menjadi perhatian serius bagi semua kalangan. Tak terkecuali oleh sekolah, karena sebagian besar perokok usia muda adalah pelajar yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Sekolah yang merupakan rumah kedua bagi tumbuh kembang mereka. Yang berarti sekolah memiliki peranan penting yang menentukan.

Sayangnya, peran penting sekolah memiliki dua sisi koin yang berbeda. Dapat berperan menekan jumlah perokok usia muda, atau malah meningkatkan jumlahnya. Hal ini dikarenakan lingkungan sekolah memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku pelajar. Salah satu pengaruh tersebut bernama keteladanan. Keteladanan yang diperankan oleh setiap warga sekolah dalam hal merokok.

Setiap warga sekolah yang merokok memberikan sumbangsih besar terhadap bertumbuh dan berkembangnya jumlah perokok di usia muda. Kepala sekolah, guru, bagian tata usaha, penjaga keamanan, hingga bagian kebersihan yang merokok di lingkungan sekolah bahkan di saat pembelajaran merupakan contoh buruk. Contoh yang menjadikan sekolah sebagai tempat berkembangnya perokok usia muda. Bahkan memungkinkan bertumbuhnya perokok usia muda baru yang sebelumnya tak pernah merokok.

Berada di lingkungan yang menganggap ‘merokok’ adalah hal biasa, kebiasaan merokok menjadi kebiasaan yang dapat diterima. Bagi perokok usia muda, melihat contoh tersebut di sekolah seperti mendapatkan pembenaran atas kebiasaan merokok mereka. Bahkan bagi yang belum pernah merokok, dapat memunculkan keingintahuan tentang kebiasaan merokok ini. Hal ini berkaitan dengan masa transisi anak menjadi remaja yang menyebabkan mereka menjadi krisis identitas sehingga lingkungan dapat menentukan identitas yang mereka cari.

Namun, di sisi lainnya sekolah memiliki peranan sangat efektif dalam menekan jumlah perokok usia muda. Jika seluruh warga sekolah memberikan keteladanan dalam menjauhi kebiasaan merokok, tentunya menjadi contoh yang baik bagi perokok usia muda untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Mereka dapat menerima bahwa merokok bukanlah kebiasaan orang – orang yang mereka teladani. Bahwa mereka tak perlu membuktikan apapun dan pada siapapun tentang kebiasan buruk merokok.

Tak berhenti hanya pada keteladanan, perlu didukung juga oleh peraturan yang mendorong upaya meninggalkan kebiasaan merokok. Dalam hal ini kepala sekolah dengan melibatkan seluruh warga sekolah, perlu membuat sebuah regulasi tentang aturan larangan merokok bagi warga sekolah. Peraturan ini akan semakin memperkuat upaya meninggalkan kebiasaan merokok para perokok usia muda. Peraturan dengan sanksi yang memberatkan dapat menekan keinginan perokok muda kembali pada kebiasaan buruk merokok. Begitupun bagi remaja yang belum pernah merokok, mereka akan berpikir lagi untuk melanggar aturan larangan merokok.

Mengenai keteladanan dan peraturan ini, pihak sekolah harus melibatkan orang tua. Karena bagaimanapun kuatnya sekolah menumbuhkan kebiasaan baik, jika pihak orang tua di lingkungan keluarga tidak mendukungnya, maka upaya yang dilakukan dapat menjadi sia-sia. Keteladanan yang diberikan di sekolah, perlu didapatkan juga di lingkungan keluarga. Peraturan yang diterapkan disekolah, harus sejalan pula dengan peraturan yang berlaku di lingkungan keluarga. Pihak sekolah dan orang tua adalah mitra yang harus saling mendukung.

Adapun hal lain yang penting dilakukan adalah upaya menumbuhkan kesadaran untuk meninggalkan dan menjauhi kebiasaan merokok. Hal ini harus dilakukan, karena benteng pertahanan terkuat ada dalam diri mereka. Jika mereka telah memiliki konsep diri yang kuat maka faktor lingkungan hanya sedikit saja atau bahkan tidak dapat memberikan pengaruh buruk terhadap dirinya. Adapun upaya yang dilakukan dapat berupa seminar, talk show, ataupun mengikut sertakan mereka dalam gerakan pelajar anti rokok serta upaya lainnya.

Demikian yang dapat sekolah lakukan dalam menekan jumlah perokok usia muda. Meskipun penulis pahami bahwa masih ada lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat yang juga berpengaruh dalam hal ini. Penulis perlu mengedepankan peran sekolah ini karena sekolah adalah institusi sumber daya manusia tingkat tinggi sebagaimana dikemukakan oleh Munif Chatib dalam buku ‘Gurunya Manusia’. Sungguh ironi jika sekolah sebagai institusi sumber daya manusia tingkat tinggi ternyata menjadi penyumbang bertambahnya jumlah perokok usia muda hanya karena sekolah tak memberi perhatian khusus terhadap hal ini. Bahkan memberi contoh buruk dengan membiarkan kebiasaan merokok di lingkungan sekolah oleh warga sekolah baik oleh guru, karyawan, siswa ataupun orang tua siswa.

Lalu, bagaimana dengan sekolah kita?


Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2881 2881 26

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044