Program Beasiswa Cikal Muamalat, Aktivis SGI Bina 500 Siswa Marginal

153

Kualitas guru merupakan kunci perbaikan kualitas hasil pendidikan nasional. Sebanyak 50 Aktivis Guru lulusan program SGI Master Teacher lintas angkatan dan lintas wilayah di 14 Provinsi terpilih menjadi fasilitator program Beasiswa Cikal Muamalat, kerjasama antara Sekolah Guru Indonesia (SGI) dan Baitulmal Muamalat (BMM).

Sebagai program pendayagunaan dana zakat, 500 siswa penerima manfaaat fakir-miskin mulai jenjang SD, SMP hingga SMA sederajat diberikan beasiswa pendidikan dan dibina secara intensif selama satu tahun oleh aktvis Guru SGI terbaik agar menjadi sumberdaya unggul dan berkarakter. Secara bersamaan, mulai Desember 2019 hingga November 2020 program dilaksanakan di 14 Provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Bekal sebagai pengajar yang kompeten dan pendidik yang berjiwa pemimpin yang dimiliki Aktivis Guru SGI menjadi modal penting dalam menjalankan program ini. Seluruh aktivitas pembinaan yang dilakukan oleh guru tidak terlepas dari Kurikulum Kepemimpinan Guru SGI yang disusun dari filosofi lima proses pendidikan, yakni: Peneladanan, Pengasuhan, Pembiasaan, Pembelajaran, dan Penerapan.

Mengacu kepada filosofi lima proses pendidikan,kekhasan kurikulum pembinaan beasiswa cikal muamalat mengutamakanpenanaman karakter melalui kisah teladan islami, positive habbituation (pembiasaan hal-hal positif), pengembangan berbagai keterampilan, dan konseling. Beberapa hal yang dibiasakan oleh penerima manfaat dalam kesehariannya diantaranya:

  1. Membaca basmalah dan berdoa sebelum mulai beraktivitas
  2. Membaca hamdalah setelah selesai aktivita
  3. Bangun maksimal ketika adzan subuh
  4. Belajar mengaji dan tadarus Al-Quran setiap hari
  5. Merapihkan tempat tidur ketika bengun tidur
  6. Membantu pekerjaan orang tua di rumah
  7. Berpakaian rapi, sopan, dan menutup aurat
  8. Datang ke sekolah tepat waktu
  9. Shalat wajib 5 waktu tepat waktu
  10. Shalat duha
  11. Tidak membuang sampah sembarangan
  12. Belajar di rumah dan mengerjakan tugas sekolah
  13. Membaca buku (diluar buku sekolah minimal 15 menit
  14. Makan dan minum sambil duduk (tidak berdiri)
  15. Menggosok gigi, berwudhu dan berdoa sebelum tidur

Pembinaan tatap muka dilaksanakan minimal satu kali dalam satu bulan, diawali dengan pembukaan, do’a dan saling bertanya kabar. Kemudian penerima manfaat secara bergiliran diberikan kesempatan untuk tampil berbagi ilmu dari buku yang telah ia baca sebelumnya, dilanjutkan dengan penguatan karakter melalui kisah teladan beserta hikmah dan contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari oleh guru, diselingi dengan ice breaking, kemudian pengembangan keterampilan dengan tema yang telah di susun, konseling individu, diakhiri dengan do’a penutup.

Pembinaan pertama yang dilaksanakan bulan Desember 2019 lalu mejadi garis start bagi guru membina siswa-siswanya. Guru menceritakan kisah teladan dengan hikmah agar siswa senantiasa bersyukur dan membangun kebiasaan positif. Guru dan siswa sudah sama-sama mengetahui pentungnya membangun kebiasaan positif, dan selama satu tahun kedepan siswa akan melatih kebiasaan positifnya secara mandiri melalui kartu ceklis “My Goods Habbits”. Sementara Literasi Al-Quran menjadi tema untuk pembinaan keterampilan di bulan ini, guru mengukur kemampuan membaca Al-Quran siswa, selanjutnya memberikan semangat kepada siswa untuk senantiasa tadarus dan memperbaiki bacaan Al-Quran. Guru bekerjasama dengan guru kelas maupun guru ngaji di masyarakat untuk melanjutkan melatih kemampuan membaca Al-Quran siswanya setiap hari. Sebagian guru menargetkan siswanya untuk menambah dan menyetorkan hafalan setiap hari.

“Januari bercita-cita” menjadi tema pembinaan keterampilan di bulan ini. Siswa berkreasi merangkai cita-citanya dengan dream board yang dibuat di atas karton dengan gambar-gambar guntingan dari majalah bekas dan tulisan warna warni. Siswa diminta untuk mengkreasikan cita-cita akhirat dan dunianya dalam waktu 1 jam. Guru mengenalkan kepada siswa bahwa cita-cita tidak hanya profesi yang di inginkan, namun sebagai seorang muslim kita harus memiliki cita-cita akhirat dan cita-cita dunia. Cita-cita akhirat misalnya masuk syurga bersama keluarga dan dapat memakaikan mahkota kepada kedua orang tua. Sedangkan cita-cita dunia, guru mengklasifikasikan menjadi 4 hal: (1)ingin menjadi apa?, contohnya ingin menjadi siswa teladan di SMA, kemudian kuliah jurusan Kedokteran  dan menjadi Dokter, (2) ingin melakukan apa?, contohnya ingin pergi umrah, traveling, belajar memasak, setiap hari bantu orang tua dll, (3) Ingin berbagi apa? Misalnya sedekah ke masjid, berbagi makanan kepada teman, sedekah ke palestine, dan ke (4) Ingin mempunyai apa? Misal: ingin punya sepatu baru, punya laptop, punya buku. Setelah membuat dreamboard, siswa secara bergiliran menceritakan dream boardnya di hadapan teman teman untu melatih kemampuan public speakin dan meningkatkan rasa percaya diri.

Pada bulan Februari 2020, guru mengasah nalar siswa melalui permainan eksplorasi penalaran yang mengasyikkan seperti Sudoku, Fillomino, Fubuki, Numbrick, dan Kenken. Sebagian besar guru merasa senang melihat siswanya begitu bersemangat menyelesaikan tantangan demi tantangan, bahkan seketika kelas langsung hening karena fokus mengerjakan soal, bahkan beberapa diantaranya menagih-nagih soal untuk keesokan harinya. Salah satu guru Aktivis SGI yang berasal dari Sulawesi Selatan, Guru Rawiah mendapatkan kejutan melihat beberapa siswa yang kesehariannya kurang dalam mengerjakan soal-soal matematis, justru meraka  yang dapat dengan cepat memecahkan soal.

Memasuki masa pembinaan bulan ke tiga, alhamdulillah sebagian besar guru menyatakan sudah melihat perubahan positif yang terjadi pada siswanya melalui pembiasaan hal-hal positif. Guru Liza Fidianti, Aktivis Guru SGI yang mengajar di SDN 26 Tanjuang Bonai, Sumatera Barat merasa bersyukur dan terharu menyimak refleksi salah satu siswanya pada saat pembinaan yang dilaksanakan pada Minggu 15/2 di rumahnya, Riski (kelas 5) bercerita bahwa dulunya ia malas belajar, sering meninggalkan sholat serta sering berkata kotor kepada teman- temannya, jarang membantu orang tuanya dengan alasan pergi membuat PR padahal dia pergi bermain bersama teman temannya, sekarang ia telah berubah menjadi anak yang selalu mengerjakan sholat lima waktu tepat waktu, sholat tahajud, rajin belajar dan membantu orang tuanya, ia pun merupakan anak yatim yang selama ini jarang mendoakan ayahnya, sekarang selalu mendoakan ayahnya di setiap selesai sujudnya. Riski ingin menjadi seorang penghafal alquran yang akan mempersembahkan mahkota kepada kedua orang tuannya pada hari kiamat nanti.

Sementara Guru Usman, Aktivis guru SGI yang mengajar di SDIT Anak Shaleh Praya merasa bersyukur mendapati salah satu siswanya, Andrean (kelas 5) yang begitu lantang dan percaya diri membacakan hafalan Al-Qurannya sebelum pertandingan karate dimulai. Usman mengaku siswanya terlihat lebih percaya diri setelah 2 bulan masa pembinaan siswa secara bergiliran dilatih bercerita di hadapan teman-temannya.

Pertemuan pembinaan selanjutnya tentu saja tetap menguatkan karakter positif siswa melalui kisah teladan, mengkonsistenkan pembiasaan positif, dan mengembangkan keterampilan lainnya seperti keterampilan digital, menulis, berwirausaha, public speaking, manajemen keuangan, kerajinan tangan, dan keterampilan hidup lainnya. Dampak yang diharapkan dari Program Beasiswa Cikal Muamalat mampu membentuk karakter dan mengembangkan keterampilan para penerima manfaat agar mereka tumbuh menjadi insan yang berakhlakul karimah, bercita-cita tinggi, memiliki keterampilan dan mampu menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan.

Oleh: Yuni Nur’afiah-Koordinator Program Beasiswa Cikal Muamalat

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY