Perjuangan Sang Hafiz Al Quran

92

SGI“Alat transportasi menjadi kendala utama yang dirasakan Adel ketika ingin pergi ke sekolah, karena transportasi atau kendaraan umum yang melewati jalan ini tidak ada.”

Sayup azan subuh perlahan terdengar, seorang anak laki-laki perlahan berjalan ke surau dekat rumahnya. Subuh yang hening menjadi teman seperti biasanya, lantunan takbir menjadi pembuka hari. Ketika akhir salam usai, ia langsung melantukan doa, bergegas mengambil tas dan memakai sendal jepit yang sudah hampir tak bernyawa. Sedikit kencang ia berjalan, ditemani mentari yang mulai datang, anak laki-laki berseragam putih merah mulai menuruni bukit bebatuan. Bukan tanpa alasan, ia mengejar sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya dan cita-cita orang tuanya, sebelum jam 07.00 pagi, ia harus sampai di sekolah untuk mengikuti jam mengaji.

Jarak jauh ternyata bukan halangan untuk menggapai cita-cita dan harapan, itulah yang tertanam dalam diri kedua orang tua untuk sang hafiz yang sedang berjuang. Sekolah tempat  menimba ilmu saat ini, bisa di bilang lumayan jauh, rumahnya yang berada di Dusun Manggong Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah memiliki jarak dengan MI Yusuf Abdussatar yang berada di daerah Kediri, tepatnya di Jl. Kali Babak Karang Bedil Utara Kecamatan Kediri Desa Kediri Kabupaten Lombok Barat  kira-kira 10 km, itu di tempuh setiap hari olehnya tanpa mengenal rasa lelah dan jenuh.

Setelah turun bebukitan,  ia lalu n menggunakan jasa ojek yang setiap hari dilakukan selama hari aktif sekolah, belum lagi kegiatan ekstrakulikuler sekolah yang harus di hadiri ketika ada jadwal kegiatan, seperti TPQ sore. Rutinitas keseharian seperti ini yang selalu di laukakan oleh sang Hafiz. Namanya Adel Jeddan, salah satu siswa MI Yusuf Abdussatar Kediri, Lombok Barat, yang memiliki kemampuan hafalan Al-Qur’an di atas teman-teman seumuran di sekolah. Namanya Adel Jeddan, bukan kesengajaan, namun dulu pekerjaan orangtuanya sebelum menjadi buruh di tanah kelahirannya sendiri, orangtua Adel menjadi buruh migran di tanah kelahiran Rasulullah, Saudi Arabia, tepatnya di daerah Jeddah selama bertahun-tahun. Di Jeddah, tepat pada tanggal 29 Maret 2009 menjadi kota tempat lahirnya Adel Jeddan dari pasangan suami istri Jumasrah dan Nuralia. Setelah beberapa tahun tinggal di sana kedua orangtuanya bersama Adel Jeddan balik ke Lombok.

Bukan berlebihan jika kita memberikan penghargaan yang lebih terhadap seorang anak seperti Adel karena selain memiliki kempuan hafalan yang bagus adel juga memiliki adab dan akhlak yang baik saat bergaul dengan teman-teman dan bersama guru-gurunya di sekolah. Terkenal di sekolah dengan kemampuan muroja’ahnya (mengulang hafalan), Adel selalu menjadi perbincangan guru-guru ketika berkumpul di ruang guru, Karena ketika muroja’ah di depan guru, Adel bisa mengulang sampai 1 halaman Qur’an.

Adel saat ini memiliki hafalan 8 juz, bahkan mau memasuki juz yang ke-9, juz demi juz di raih oleh adel karena ketekunannya dalam penghafal setiap baris dan ayat yang ditugaskan di sekolah. Ketertarikan Adel dengan Al-Qur’an yang membuatnya berfikir, sekolah dengan jarak yang lumyan jauh tidak jadi masalah baginya, padahal di dekat rumahnya masih ada sekolah-sekolah lain.

Di MI Yusuf Abdussatar Adel mengikuti kegiatan program KKs-Q (Kelas Khusus Al-Qur’an), kegiatan ini dia ikuti dalam waktu satu minggu tiga kali pertemuan, yaitu hari senin, rabu dan sabtu. Kegiatan dalam kelas khusus ini meliputi kegiatan setor hafalan dan murojaah, durasinya pun tidak terlalu lama dari jam 08.00 Pagi sampai jam jam 11.00 siang, di jeda dengan istirahat satu jam.

Kini, Adel jeddan menjadi salah satu dari penerima manfaat beasiswa dari dana ummat yang digulirkan melalui Baitul Mal Bank Muamalat bekerjasama dengan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Adel di pilih menjadi penerima manfaat karena memenuhi salah satu syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh penyelengara di antaranya adalah kemampuan ekonomi yang masih dalam katagori berhak mendapatkan bantuan untuk keperluan dan keberlansungan pendidikannya di sekolah.

Keadaan ekonomi dari kedua ortua Adel bisa dikatakan dalam keadaan pas-pasan karena pekerjaan orangtuanya saat ini hanya sebagai buruh ladang kebun dan sawah yang penghasilannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan selebihnya di sisihkan untuk keperluan seperti sekolah. Alat transportasi menjadi kendala utama yang dirasakan Adel ketika ingin pergi ke sekolah, karena transportasi atau kendaraan umum yang melewati jalan ini tidak ada. Kendala yang lain juga dengan keterbatasan kemampuan orangtua dalam hal mengendarai sepeda motor menjadikan Adel tidak bisa mengandalkan ibu atau bapaknya untuk antar jemput setiap hari ke sekolah.

Ibunya tidak bisa sama sekali mengendarai motor, bapaknya tidak bisa setiap saat standby di rumah karena tuntutan pekerjaan sebagai buruh di ladang orang, yang waktu pagi dan sorenya masih sibuk dengan rutinitas kerja, inilah salah satu sebab Adel pulang pergi ke sekolah mengandalkan jasa ojek setiap hari, kadang biaya ongkos pulang pergi ke sekolah bisa sampai Rp. 500.000,00/ Bulan.

Insyaallah, sampai akhir tahun pelajarannya di sekolah Adel Jeddan bisa menyelsaikan 10 Juz hafalan Al-Qur’annya dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Katanya, Adel ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dia berharap bisa melanjutkan pendidikan Al-Qur’annya di daerah jawa.

Semoga mimpi Adel bisa terwujud, aamiin.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY