Pentingnya Penerapan 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Batas Negara

2947

By: Siti Dwi Arini Putrianti, Alumnus Universitas Muhammadiyah Makassar, Guru SGI di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara

Benarkah 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara telah menjadi tuntunan wajib bagi masyarakat Indonesia? Bagaimana dengan warga Indonesia yang tinggal di batas Negara? Lihatalah bagaimana peranan penerapan 4 pilar tersebut di daerah-daerah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Sebut saja pulau sebatik, kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Provinsi yang baru saja dimekarkan.

4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara harus dipaham benar oleh seluruh warga Indonesia. Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Lantas bagaimana kita bisa menilai bahwa 4 pilar ini benar-benar telah diamalkan oleh seluruh warga?

Untuk melihat penerapannya, mari kita simak satu persatu pilar tersebut. Pilar pertama yaitu pancasila. Kita tentu ingat kapan kiata pertama kali mendengar pancasila dikumandangkan, yaitu saat upacara bendera setiap senin yang wajib kita laksanakan saat di bangku sekolah dasar. Dan ceremony itu terus berlanjut hingga ke sekolah menengah atas. Saya pernah mengadiri satu seminar yang membahas tentang 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada saa itu yang menjadi pemateri adalah anggota DPR RI ibu Dra.Hj.Oelfah A.Syahrullah Harmanto dan bertindak jadi MC adalah Amalia Yaksa Parijata, M.Si. Saat itu sang MC berceloteh bahwa ia memiliki teman seorang kebangsaan Jerman, temannya tersebut mengatakan bahwa pancasila is the great Idea where he ever found. karena pancasila memiliki makna yang sangat dalam. Bahkan mencari jodoh bisa menjadikan pancasila sebagai salah satu syarat. Karena jika seseorang mengamalkan nilai dari kelima sila di pancasila, maka ia akan menjadi pasangan yang bertuhan, toleran, adil, dan bijaksana. Ia juga akan mementingkan kepentingan golongan daripada kepentingan pribadi. Lantas bagaimana pengamalan pancasila di lingkungan sekolah, tentu bukan hanya sebagai pajangan saja di kelas. Tetapi benar-benar mampu dimaknai oleh siswa-siswa.

Sama halnya dengan pancasila, Undang-undang Dasar Tahun 1945 juga kali pertama kita dengar saat di upacara bendera. Satu kalimat yang saya ingat dari kutipan UUD 1945  yaitu setiap kita warga Negara memiliki kewajiban untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, maka peranan saya sebagai pendidik tentu sangat relevan.

Adapun pilar ketiga adalah NKRI. Kalimat yang tetulis di salah satu tugu yang menjadi simbol perbatasan yang ada di daerah sebatik yaitu NKRI adalah harga mati. Jika hal ini disadari betul makna oleh seluruh warga maka sampai kapanpun akan terus berupaya menjaga keutuhan Negara Indonesia.

Apakah NKRI benar-benar bisa dijaga keutuhannya? Bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah perbatasan seperti di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Saat melihat berita di salah satu siaran televisi tentang rumah salah satu warga yang berada didua negara dimana ruang tamunya Indonesia sedangkan dapurnya sudah masuk Malaysia saya tidak percaya. Tetapi setelah melihat langsung rumahnya, saya takjub dan bertanya-tanya tentang status kewarganegaraan sang empunya rumah. Ternyata setelah ditelusuri, pemilik rumah tersebut masih warga negara Indonesia.

Masih berkaitan dengan NKRI, di Pulau Sebatik ini khususnya tempat saya tinggal di Kecamatan Sebatik Tengah, kebanyakan masyarakatnya bekerja di Tawau,Malaysia sebagai buruh di pabrik kelapa sawit. Sungguh miris sekali. Tidak hanya sumber daya alam kita yang dikeruk, tetapi juga sumber daya manusia kita diberdayakan.

Pilar keempat yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pilar ini tidak hanya bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua tetapi nilai yang terkandung di dalamnya benar-benar mampu direalisasikan warga Negara dengan baik.

Di daerah Nunukan yang notabenenya berbatasan langsung dengan Negara Malaysia menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi oleh masyarakat Indonesia di luar Pulau Kalimantan. Di Pulau Sebatik saja akan banyak kita temui warga yang berasal dari suku Jawa, suku Bugis- Makassar. Tentunya penerapan nilai pilar keempat Bhinneka Tunggal Ika sangat penting. Agar warga Negara Indonesia benar-benar membuka pergaulan pada hal-hal di luar adat kebiasaan warganya. Bukankah perbedaan itu indah. Pelangi saja jika tidak beragam warna, tidak akan indah di pandang. Begitu pulalah Indonesia yang beragam.

 

Perhatian Pemerintah

Pemerintah harusnya lebih concern terhadap daerah di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga. Tidak hanya mengenai status kewarganegaraan tetapi juga bidang ekonomi yang sekiranya memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Bukan cerita baru lagi jika banyak warga Indonesia yang dulunya tinggal di daerah Indonesia tetapi karena merasakan penghidupan yang layak di Malaysia, mereka lebih memilih untuk pindah kewarganegaraan tidak hanya soal pekerjaan di Negara tetangga tetapi juga soal prestige mereka hidup di luar negeri.

Jika kita memasuki kawasan Pulau Sebatik, terkhusus Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan, akan banyak kita jumpai perahu speed boat yang mengangkut hasil bumi seperti kelapa sawit dan pisang yang semuanya akan dijual di Malaysia untuk mereka olah di pabrik-pabrik milik Malaysia. Terparahnya lagi, buruh-buruh yang bekerja di pabrik tersebut adalah orang-orang Indonesia. Hal ini tentu sangat menyayat hati sebagai warga Negara Indonesia.

Benarkah pemerintah tidak memberi ruang untuk masyarakat mengelola hasil pertanian yang dimiliki warga?Pernahkah pemerintah memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pengelolaan hasil pertanian agar bernilai jual tinggi. Dari beberapa warga yang pernah saya temui, kebanyakan dari mereka beralasanpabrik  menjual hasil pertaniannya ke Malaysia dikarenakan di daerah setempat dalam hal ini Pulau Sebatik tidak memiliki pabrik yang mumpuni hanya untuk sekadar mengolah kelapa sawit. Tidak hanya itu, alasan warga juga Sumber Daya Manusia dengan sistem yang ada membuat mereka tidak tahu bagaimana mengolah hasil bumi tersebut menjadi sesuatu yang benilai ekonomi tinggi.

Lantas sampai kapan hal ini akan terjadi. Jika tidak ada sikap tegas dari pemerintah, bisa jadi beberapa tahun ke depan warga Negara kita akan dijajah tidak hanya fisik mereka tetapi harta yang mereka punya akan dirampas dan dibayar dengan harga yang sangat murah.

Pulau Kalimantan yang katanya surga kelapa sawit tetapi warga-warganya tidak sejahtera bahkan terjajah. Tidak hanya masalah mata uang yang bukan lagi Rupiah tetapi juga produk makanan dan kebutuhan sehari-hari yang bukan lagi Indonesia.

Jika sudah menyangkut perut, masihkah penting bagi mereka status kewarganegaraan Indonesia? Masihkah mereka peduli pada Pilar kehidupan “NKRI adalah Harga Mati” atau bahkan mereka bisa jadi lupa.  

*tulisan ini pernah dimuat di Radar Tarakan/Nunukan, 9 Januari 2014

{fcomment}

BAGIKAN

LEAVE A REPLY