Pelepasan Mahasiswa SGI untuk Menjadi Guru di Pelosok Indonesia

505

Bogor (21/03). Sebanyak 200 orang memadati Gedung Wanita untuk menghadiri kegiatan pelepasan mahasiswa angkatan IV Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa. Mahasiswa berjumlah 29 ini telah mengikuti proses pembinaan selama 6 bulan yang meliputi perkuliahan, program pemberdayaan masyarakat, praktik mengajar di sekolah, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mereka akan menghadapi masa pengabdian selama 12 bulan menjadi guru model di sekolah dasar marginal di pelosok Indonesia. Untuk mengantarkan mahasiswa SGI ke masa pengabdian dilaksanakan kegiatan pelepasan guna memberikan penguatan kepada calon guru model tersebut. Tahun ini SGI mengambil tema Awaken The Teacher Within atau membangkitkan jiwa guru dalam diri. Jiwa guru seperti apa? Tentunya, memiliki semangat unntuk berbagi, siap mengabdikan diri menjadi guru model serta siap berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di pelosok Indonesia khususnya, dan seluruh Indonesia pada umumnya.

Kegiatan pelepasan ini bertujuan untuk memberikan penguatan kepada mereka sebelum penempatan di sekolah-sekolah dasar yang tersebar di 6 daerah yaitu; Lampung, Banten, Sambas, Buton, Dompu dan Belitung. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut memberikan orasi ilmiah yang mampu menyulut semangat para peserta yang hadir pada saat itu. Menjadi guru tentu tidak hanya terbatas oleh paradigma berpikir yang sempit yaitu transfer ilmu kepada siswa. Sebagai guru harus memiliki nilai-nilai kebaikan yang kemudian, itu ditanamkan dalam diri setiap siswa.

Sebagai guru harus memiliki kepeduliian terhadap keadaan sekitar. Peduli terhadap masa depan anak, peduli terhadap kondisi masyarakat sekitar dan peduli terhadap masa depan bbangsa. Dalam orasinnya beliau menyampaikan “Jangan paksakan anak untuk menjadi apa yang kita inginkan, biarkan mereka fokus untuk menjadi apa yang ia inginkan”.

Menjadi guru di daerah pelosok tidak seperti di daerah kota. Sebagai guru dengan segala keterbatasan dituntut untuk mampu menjaga profesionalisme dalam memberikan yang terbaik untuk siswanya. Sosok guru dalam pandangan masyarakat menjadi tokoh yang ucapannya dipercaya, perbuatannya ditiru, dan instruksinya diikuti. Hal ini menjadi peluang bagi guru untuk melakukan perubahan masyarakat kea rah yang lebih baik. “ Menjadi guru adalah pilihan saya, entah seperti apa kondisi sekolah di daerah penempatan. Saya siap menjalani setiap konsekuensi selama mengabdi menjadi guru model di daerah pelosok”, Ujar Elan Jaelani, salah satu guru SGI yang ditempatkan di Sambas – Kalimantan Barat.

Orang tua mahasiswa yang ikut serta dalam kegiatan pelepasan tersebut memberikan dukungan dan do’a agar selama mengabdi menjadi guru model di daerah pelosok selalu mendapat lindungan dari Allah Swt. “Kami selalu member dukungan dan do’a kepada anak kami” ujar salah satu orang tua mahasiswa. (M/D)


Muh. Shirli Gumilang

Koordinator Marketing Komunikasi


BAGIKAN

LEAVE A REPLY