Pelatihan Guru Perdana di kota Biak Papua

607

Pendidikan merupakan kunci perubahan, dan kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh para pelaku pendidikan, dalam hal ini adalah guru. Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa dan PT. Exxon Mobil bekerjasama dengan SD Saramom, Biak mengadakan pelatihan guru dengan tema “peran guru dalam mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas”. Acara telah dilaksanakan pada tanggal 29 April 2013, bertempat di ruang kelas SD YPK 2 B, Biak. Pelatihan diadakan untuk mengasah keterampilan para guru dalam mengelola kelas agar lebih aktif dan menyenangkan. Acara berjalan lancar dan meriah, dihadiri oleh 52 guru dari gugus 3, dipandu trainer yang sudah berpengalaman di bidangnya, Asep Sapa’at selaku Direktur Sekolah Guru Indonesia. Para guru diajak untuk lebih kreatif di dalam kelas saat mengajar.

Pelatihan ini merupakan pelatihan perdana dalam program “Cemerlang Indonesiaku”. Program “Cemerlang Indonesiaku” merupakan program yang diinisasi oleh PT. Exxon Mobil dan Dompet Dhuafa sebagai bentuk kepedulian untuk mengembangkan pendidikan di Papua, khususnya kabupaten Biak dan Kaimana. Program akan berlangsung selama 18 bulan atau 1,5 tahun. Program yang akan dilakukan adalah program pelatihan guru dan pembentukan komunitas guru. Selama program berlangsung akan di dampingi oleh fasilitator dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa dan dilakukan Monitoring dan Evaluasi sebagai bentuk kontroling program. Program akan diakhiri dengan pembuatan buku best practice untuk menggambarkan perjalanan selama program berlangsung dan merupakan hasil karya guru-guru sekitar sekolah program Cemerlang Indonesiaku.

Acara pelatihan guru dibuka dengan pembacaan puisi oleh dua orang siswa kelas enam SD Saramom, yang berjudul “kitorang berkarya untuk bangsa”, karya M. Hasan Tutupoho. Salah satu kalimat pada puisi tersebut adalah “Indonesia tersohor sampai ke pelosok dunia, harta yang melimpah digadaikan, kitorang yakin bangsa ini bisa jadi bangsa yang besar”, sebuah harapan dari daerah Timur bahwa bangsa ini tidak semestinya digerogoti oleh kekuasaan hingga bisa menjadi bangsa yang besar.

Guru gugus 3 Biak diajak untuk menjadi guru yang kreatif, dimana kreatif merupakan sikap mental yang melibatkan pemunculan gagasan/menghubungkan yang ada dengan konsep. Pengembangan ide dapat dilakukan melalui perbandingan, terkadang dengan perbandingan akan mendapat beberapa ide kreatif yang tidak terbayang sebelumnya.

Potret pendidikan Indonesia menjadi pembahasan khusus, yang terdiri dari empat point, yaitu kurikulum, guru, sarana prasarana, dan kebijakan pendidikan. Guru adalah kontribusi terbesar dalam pendidikan. Guru merupakan unsur  yang sangat penting dalam pendidikan. Tanpa guru yang baik dan yang mampu mengajar secara kreatif, asyik dan menyenangkan, sulit bagi para siswa untuk belajar dengan baik. Akibatnya siswa menjadi takut pada mata pelajaran.

Setiap guru diminta untuk memberikan pandangannya pada Ujian Nasional dan kurikulum 2013, pro kontra pun terjadi pada pembahasan ini. Pendistribusian Ujian Nasional tidak tepat sasaran, ada kekurangan soal, dan dianggap terlalu banyak anggaran, sehingga UN perlu direvisi (keluh salah seorang guru). Banyak masukan-masukan yang disampaikan para guru Biak, mereka berharap pemerintah bisa lebih membuka mata pada pendidikan di daerah Timur agar lebih diperhatikan. Para guru berharap agar SPG dapat dibuka kembali dan lulusan SPG bisa langsung jadi guru, sehingga guru yang ada bisa lebih berkualitas. Statement dari salah seorang guru, “memang ada kelucuan pada pendidikan di Papua tapi masih ada peluang-peluang yang Tuhan berikan, berharap guru Papua bisa menjadi model guru-guru Indonesia.”

Guru adalah pekerjaan pelayanan, yang membawa pada kesadaran sehingga bisa ikhlas ketika mengajar di kelas. Persoalan guru saat ini, diantaranya yaitu rekrutment dan persebaran. Rekrutment guru yang semakin jauh dari tujuannya dan persebaran yang tidak merata akan pendistribusin guru menjadi point penting dalam menurunnya kualitas guru. Dahulu guru harus masuk dalam rangking tiga, ada pembinaan yang diasramakan, dan ketika mengabdi kembali ke daerahnya masing-masing. Pelatihan guru ini diadakan salah satu tujuannya sebagai akselerasi kompetensi. Uji kompetensi dilakukan bukan untuk cari orang cerdas tapi cari orang yang mau melayani dengan hati sebagai seorang guru.

Statement beberapa orang guru yang perlu diperhatikan, “tabrak peraturan yang tidak pernah berpihak pada anda, harus ada keberanian untuk mendobrak tapi niatkan untuk kebaikan”, “sertifikasi dianggap mempengaruhi kinerja guru, bersabar dan bersyukur ada di hati guru disini”, “bersyukur dengan ada dana BOS, banyak keperluan untuk dirumah, penggabungan tematik kurang pas, guru dininabobokan dengan “terpujilah wahai engkau” anak dirumah tidak kepegang apalagi alat peraga”. Kalimat-kalimat itu yang dilontarkan oleh beberapa orang guru sebagai bentuk keluhan dan rasa syukur mereka. Guru kota Biak berharap dengan adanya pelatihan guru dengan pembentukan komunitas, dapat berjalan dengan baik sehingga dapat tercapai pencerdasan siswa yang pada ujungnya kalimat pada puisi “kitorang yakin bangsa ini bisa jadi bangsa yang besar” dapat tercapai.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY