Mengupas Metode Penelitian Tindakan Kelas

6804

Resensi Buku : Metode Penelitian Tindakan Kelas
Penulis : Prof. Dr. ROCHIATI WIRIAATMADJA
Penerbit : PT.REMAJA ROSDAKARYA
Cetakan : Cetakan Kedelapan
Tahun Terbit : 2009
Desain Sampul : Imam Taufik
Tebal : X + 258 Halaman

Oleh : Dony Kurnia Wijaya, S.Pd.I

(Pengajar di SDN Mekarwangi, Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang, Banten)

Ketika seorang guru berada didalam kelas, sudahlah pasti ada banyak persoalan yang akan dihadapai yang berkaitan dengan proses pembelajaran ataupun hasil dari pembelajaran yang diharapkan. Berbagai solusi atau cara penyelesaian masalah juga sudah banyak dibahas dalam berbagai telaah penelitian akademik, baik dalam laporan penelitian berbentuk artikel atau pada jenjang skripsi, tesis, bahkan disertasi. Akan tetapi, banyak yang tidak dapat memahaminya, apalagi mengaplikasikannya dalam pembelajaran sehari-hari, terutama karena berbagai kendala, terutama tidak terlalu memahami teori-teori yang dijadikan landasan atau analisis penelitian pendidikan yang membatasi kegunaannya kepada kebutuhan sehari-hari, agar dapat dimanfaatkan guru/dosen dalam memperbaiki kinerjanya. Maka untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru dapat menggunakan penelitian tindakan kelas.

Hopkins (1993, dalam Wiriaatmadja, 2009:25) mengemukakan penelitian tindakan kelas bersifat emansipatoris dan membebaskan karena penelitian ini mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti, dan menggunakan kearifan dalam pengambilan keputusan atau judgment.          Uraian tentang cara memulai Penelitian Tindakan Kelas bagi seorang guru/dosen yang sudah biasa mengajar, bukanlah sesuatu yang asing. Ketika seorang guru/dosen fokus pada perbaikan pembelajaran, dan tanpa disadari telah melakukan langkah-langkah seperti yang dilakukan oleh peneliti PTK. Setelah menyelesaikan bagian tersebut dilanjutkan dengan menulis “proposal sederhana” berbentuk matriks, yang nantinya akan dikembangkan menjadi “proposal lengkap”. Dengan proposal sederhana sebenarnya guru/dosen tersebut sudah dapat memulai PTK.

Membaca Metodologi Penelitian Pendidikan (Prof.Dr.ROCHIATI WIRIAATMADJA:2009) paling tidak mendapatkan berbagai informasi untuk mengenal Penelitian Tindakan Kelas yang dalam istilah bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Sehingga lebih mengetahui tentang seluk-beluk penelitian tindakan kelas dan memiliki keterampilan penelitian tindakan kelas dalam upaya meningkatkan kinerja sebagai pengajar, pendidik dan pemimpin pendidikan.

Kesan pertama itulah yang membuat saya membedah buku penelitian tindakan kelas karya Prof. Dr. ROCHIATI WIRIAATMADJA cetakan kedelapan yang dipandang cukup mumpuni dalam membedah seluk-beluk penelitian tindakan kelas (pengantar) bahkan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian tindakan kelas. Sebuah pandangan mutakhir dari aliran baru dalam filsafat ilmu yang menjadi pembuka bagi model penelitian mengenai berbagai fenomena sosial dan kemanusiaan, termasuk pendidikan.

Riyanto (2010) mengungkapkan bahwa setiap jenis penelitian memiliki karakterisik tertentu yang membedakan dengan penelitian lain. Untuk lebih memahami Penelitian Tindakan Kelas, maka perlu dikemukakan karakteristik yang bersifat umum.

Kekhawatiran yang berlebih-lebihan terhadap keikutsertaan guru/dosen dalam penelitian kelas tidak beralasan, karena setiap penelitian memiliki metode, sistem dan prosedurnya sendiri yang sudah baku. (hal.32)

Dalam wacana atau kontinuum objektivitas-subjektivitas, kebenaran pada penelitian tindakan kelas berada pada desain penelitian kualitatif yang menggambarkan pola-pola budaya dan perilaku seperti yang dipandang oleh subjek yang diteliti. (hal.33)

Halimah (2008) mengungkapkan bahwa pendidikan yang  ekstensif dalam suatu bidang ilmu menjadikan seseorang memiliki jenis pengetahuan tertentu. Kenyataan ini menjadi dasar bagi kewenangan seorang profesional.

Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk inkuiri pendidikan. Di dalam pelaksanaannya gagasan atau permasalahan guru atau dosen diuji dan dikembangkan dalam bentuk tindakan. Guru atau dosen sebagai pengembang kurikulum dikelas dapat melakukan tindakan-tindakan yang tergolong kearah proses pembaharuan kurikulum. (hal.42-43)

Tujuan dasar penelitian tindakan kelas adalah memperbaiki praktek pembelajaran guru dikelas atau dosen diruang perkuliahan, dan bukan untuk menghasilkan pengetahuan atau teori. Penggunaan utilisasi pengetahuan, dan apabila pada saat berlangsung proses ternyata menghasilkan pengetahuan, maka keduanya tetap dikondisikan dan ditujukan kepada sasaran dasar Penelitian Tindakan Kelas tadi (Elliot, 1991:49). (Hal.75)

Identifikasi masalah pada hakikatnya ialah pernyataan yang menghubungkan gagasan atau idea dengan tindakan. Apa pun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya tetap berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru/dosen dalam praktek kesehariannya dikelas atau ruang kuliah, dan merupakan sesuatu yang ingin diubah atau diperbaiki. (hal.65)

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penyusunan desain, fokus permasalahan, dan pengumpulan data dengan tepat dan baik, antara lain misalnya dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana menyusun desain, memformulasikan fokus permasalahan, teknik-teknik pengumpulan data antara lain dengan cara melakukan pengamatan atau observasi, wawancara, atau teknik lain yang diperlukan; serta berbagai aspek penelitian lainnya yang harus dilakukan.

Mulailah dengan gagasan umum dari permasalahan yang dihadapi dikelas/ruang kuliah, untuk kemudian ditajamkan dalam fokus permasalahan. Setelah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan dengan mitra peneliti, lanjutkan dengan membangun kerangka pemikiran atau paradigma beserta bagannya. (hal.91)

Observasi yang dilakukan dikelas dicatat seteliti mungkin, karena catatan lapangan (field notes) akan merupakan bahan utama yang mengandung sejumlah kekayaan data tentang kelas yang diteliti, dan sebagai bahan untuk selanjutnya dianalisis. (hal.78)

Dikalangan para etnografer, dikenal teknik pengumpulan data yang disebut pengamatan penyerta atau participant observer, dimana para pengamat atau observer mempunyai hubungan yang akrab dengan pihak yang diamati. Peneliti yang berperan sebagai pengamat penyerta atau participant observer ikut serta dalam berbagai kegiatan pihak yang diamati, dan segera mencatatkan apa yang terjadi dalam catatan lapangannya. Dalam catatan ini termasuk juga komentar-komentar yang menafsirkan apa yang terjadi berdasarkan persepsi peneliti. (hal.107)

Bersama-sama dengan kegiatan pengumpulan data ini muncul kepermukaan hipotesis-hipotesis yang dapat menjadi bahan untuk dikaji, karena gagasan-gagasan baru selalu timbul pada waktu menjelaskan atau menganalisis setiap kejadian dikelas. (hal.146)

Kegiatan analisis data lapangan harus dilakukan sejak dini, pada tahap awal penelitian, bahkan sejak tahap orientasi. Kegiatan analisis juga dilakukan dengan melakukan catatan reflektif, yakni pemikiran yang timbul pada saat mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan, atau mengkaitkan, atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data sebelumnya. (hal.151)

Pada tahap menganalisis data, kita telah melihat bagaimana teori yang berkembang secara grounded terbentuk dari pengumpulan atau koleksi data. Koding dari Lofland, misalnya menyusun kategori yang sebaiknya dipakai sebagai alat analisis dari fenomena kelas yang diobservasi dan dikumpulkan datanya. Dari analisis kategorial inilah munculnya teoti grounded. Apabila kategori yang disusun tidak kompatibel dengan data, maka kategori dimodifikasi atau tidak dipakai. Dalam penelitian yang menggunakan orientasi teori secara eksplisit, maka data yang terkumpul dianalisis berdasarkan kerangka teoritik tersebut. Alat-alat tersebut menggambarkan juga penggunaannya pada akhir kajian, yakni pada tahap penafsiran. Karena analisis sudah dilakukan sejak awal tahap pengumpulan data, berarti penafsiran sudah dimulai sejak awal juga. (hal.179)

Pada umumnya sebuah skripsi atau tesis yang menggunakan Penelitian Tindakan Kelas sebagai metode penelitian akan mempunyai sistematika sebagai berikut ; Bab I Pendahuluan; Bab II Telaah Kepustakaan; Bab III Metode Penelitian; Bab IV Pembahasan Hasil Penelitian; Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi. (hal.198)

Penulisan laporan penelitian kualitatif dapat bervariasi struktur, bentuk, dan gayanya. Yang penting laporan dibuat dengan kredibel, menampilkan kenyataan dengan jujur, didukung oleh data yang kaya; dan mewakili banyak persepektif. Laporan penelitian yang bersifat umum harus objektif dan impersional sifatnya, dengan memakai narasi yang realistik/impresionistik. Laporan yang bersifat akademik harus memperhatikan kaidah-kaidah akademik yang berlaku secara umum, atau ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku di lembaga yang bersangkutan sesuai dengan isi pedoman karya ilmiah institusi tersebut. (hal.213)

Dampak, kegunaan, manfaat Penelitian Tindakan Kelas terhadap/bagi pendidik dan lembaga dimana para pendidik itu bertugas secara umum akan meningkatkan kualifikasi dan kinerja guru dan dosen. Apabila Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh guru/dosen meliputi aspek-aspek kegiatan yang mendukung program lembaga, maka manfaatnya akan mendukung program pembaharuan lembaga tersebut. (hal.240-241).

Rujukan :

  • Rusyan,dkk. 1999. Upaya Meningkatkan Budaya Kinerja Guru Sekolah Dasar. Jakarta:PT.
  • Nusantara Lestari Ceria Pratama
  • Kasbolah, Sukarnyana. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Malang:Universitas Negeri Malang
  • Koswara, Halimah. 2008. Seluk-Beluk Profesi Guru. Bandung:PT.Pribumi Mekar
  • Sa’ud, Makmun. 2009. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
  • Riyanto. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC
  • Sukidin, Basrowi, Suranto. 2010. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendikia
  • Universitas Negeri Jakarta, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Unika Atmajaya. 2011. Modul Pendidikan Dan Latihan Profesi Guru Sekolah Dasar. Jakarta:Tim Penyusun Naskah PLPG FIP UNJ

BAGIKAN

LEAVE A REPLY