Menghilangkan Batas Kesabaran

780

“assalamualaikum, kak?”

“wa’alaikumsalam” saat sedang sendiri di sekretariat senior resident untuk mengerjakan tugas kuliah, konsentrasiku terganggu sejenak dengan ucapan salam dari seseorang di depan teras. Aku menoleh ke arah pintu, dan kuperhatikan sejenak, ternyata ia salah satu penghuni asrama. Aku bergegas keluar, membuka pintu dan menghampirinya.

“iya ada apa ya?” kulihat wajah anak itu agak panik.

“ anu, ini kak, emm…si Roni dan Thomas  (nama samaran) kecelakaan”

“hah…serius? Kecelakaan apa? Sekarang mereka dimana?” sontak aku kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan olehnya.

“jatuh dari motor kak, kepalanya Thomas bocor, sekarang mereka sudah saya antar ke klinik”.

Kekagetanku makin menjadi, dan tanpa pikir panjang, aku bergegas masuk ke dalam Sekretariat untuk mengambil helm dan kunci motor.

“ya udah makasih ya infonya, biar kakak ke klinik sekarang”

“ok kak, makasih kak”

Dengan segera aku menghampiri motorku dan pergi menuju ke klinik. Sesampainya di sana, kulihat Roni sedang berbaring di ranjang dan Thomas sedang ditangani oleh seorang perawat. Percakapan singkatpun terjadi, kulihat luka lecet disekitar kaki Roni. Aku bersyukur ternyata mereka masih sadar, dan lukanya pun tidak terlalu parah. Roni mengalami luka lecet di kaki, begitu pun dengan Thomas, hanya saja kepalanya bagian kiri belakang sedikit sobek. Kuperhatikan seorang suster sedang telaten menangani lukanya. Kulit kepalanya disuntik bius lalu dijahit kemudian dililitkan dengan perban.

Aku mengajak mereka berdua berbincang dan menanyakan penyebab terjadinya kecelakaan itu. Roni pun bercerita bahwa mereka ngebut karena terburu-buru menuju asrama putra dan tak melihat ada lubang di jalan yang mereka lewati, sehingga mereka terjatuh. Aku pun hanya memberi nasihat agar lebih berhati-hati ketika mengendarai motor dengan sedikit ledekan dan candaan. Setelah semua luka diobati, suster pun mengatakan bahwa mereka diperbolehkan pulang. Aku berjalan menuju kasir, mereka berdua duduk di ruang tunggu. Aku terkaget ketika petugas kasir menyampaikan jumlah biaya yang harus aku bayarkan, jumlahnya Rp. 225.000, karena aku tak membawa uang sebanyak itu, lalu aku minta izin untuk pergi ke ATM dulu.

“biayanya Rp. 225.000, kakak talangin dulu ya, tapi kakak harus ke ATM dulu soalnya uangnya kurang, sekalian kakak antar Roni pulang dulu”

Aku dan Roni beranjak pergi meninggalkan klinik menggunakan sepeda Motor. Selama perjalanan obrolan singkat terjadi

“makasih ya kak, saya juga minta maaf karena udah pernah berbuat salah sama kakak” Roni tiba-tiba berbicara dengan nada penuh penyesalan.

“berbuat salah?, kapan ya Ron?”

“dua hari yang lalu kak, waktu saya kabur ketika kakak memanggil saya karena melanggar jam malam”.

Aku mencoba mengingat-ngingat kejadian yang dimaksud Roni, ternyata yang dimaksud adalah kejadian ketika aku mendapat giliran untuk jaga malam asrama, Begini ceritanya.

Malam itu sekitar pukul 22.30 aku sedang mengawasi siapa saja yang pulang ke asrama melebihi jam malam. Saat sedang meminta seorang anak asrama untuk memberikan KTM nya karena melanggar jam malam, tiba-tiba ada dua orang anak yang masuk melintas gerbang asrama menggunakan sepeda motor dan melewati tempatku berjaga malam.

“Hei dek, sini mampir dulu dong” aku mencoba menyapa mereka dengan ramah saat mereka memarkirkan sepeda motor. Mereka tidak merespon lalu tanpa permisi langsung berjalan berlalu begitu saja menuju gedung C1.

“hei..dek…” aku memanggil mereka dengan mengeraskan suara, tapi mereka seolah tidak mendengar panggilanku. Spontan aku langsung beranjak dari kursi tempat ku berjaga, dan meminta teman SR lain menggantikan sementara. Aku berjalan menghampiri mereka yang berjarak sekitar 20 meter di depanku, tapi mereka seolah tak peduli, mereka lalu lari terburu-buru bagaikan seorang pencuri yang takut dikejar polisi. Hal ini sangat membuatku kaget, lalu dengan segera aku pun mengejar mereka menuju gedung. Saat tiba di ujung tangga menuju gedung C1 Mereka pun hilang dari pantauan tetapi aku mengenali wajah salah satu dari mereka, ia adalah Roni (nama samaran) adik lorongku di gedung C1. Aku menaiki tangga menuju gedung C1, di lobi gedung masih terlihat adik-adik penghuni asrama yang sibuk mengerjakan tugas kelompok, makan malam, dan menonton televisi. Tanpa pikir panjang, dengan agak tergesa-gesa aku melewati lobi, menaiki tangga menuju lantai dua gedung asrama, berjalan menyusuri lorong gedung menuju kamar adik lorongku itu.

Setelah sampai didepan kamar adik lorongku itu, kulihat pintu kamarnya tertutup.

“Tok…tok…”

“ Roni “ Aku mencoba memanggil-manggil adik lorongku itu, agar dia membukakan pintu. Setelah 5 kali aku mengetuk pintu, akhirnya dia keluar kamar juga, dengan wajah sedikit agak emosi dan tegang dia menghampiriku, wajahku pun tampak tegang karena kelelahan berlari.

“kenapa tadi kamu lari…?“ dengan sedikit rasa kesal aku mencoba menegurnya, dan menanyakan nama seorang anak lagi yang tadi ikut bersamanya.

“tadi kamu sama siapa?”

“sama Thomas kak?”ucapnya singkat.

Dengan segera aku mengajaknya ke lantai bawah menuju kamar Thomas, penghuni kamar di lorong 1.

“tolong kamu panggil Thomas, dan langsung ikut saya ke sekretariat SR ya!” walau masih sedikit kesal, aku mencoba mengendalikan kata-kata agar bisa keluar dengan baik dan benar. Aku berjalan menuju sekretariat SR lebih dulu dibanding mereka, kulihat mereka menuruti apa yang aku perintahkan dan menyusulku dengan segera.

“silahkan duduk dulu…” aku mempersilahkan mereka berdua duduk di dalam ruang sekretariat SR, dan kemudian mengambil form pelanggaran tata tertib asrama yang ada di rak dokumen. Mereka berdua masuk ke dalam ruang sekretariat dengan sedikit ragu-ragu dan wajah tertunduk. Raut kekesalan masih terlihat diwajah Roni, tetapi tidak diwajah Thomas, sekilas wajahnya menampakan penyesalan.

“kenapa kalian lari waktu kakak panggil?” aku mencoba mengawali pembicaraan dan langsung duduk di kursi yang ada di depan tempat mereka duduk. Rasa kesal semampunya aku tahan, dan mencoba meminta klarifikasi alasan yang melandasi perbuatan mereka. Mereka masih terdiam, belum berbicara sepatah katapun, kemudian aku mencoba bertanya lagi.

“untung saja tadi saya nggak teriak maling, ya, walau ini bukan di kampung, yang jelas kalau itu saya lakukan, semua penghuni pasti akan membantu saya mengejar kalian, sekarang bisa nggak sih kalian jelaskan…kenapa kalian tidak mampir baik-baik ketempat saya berjaga? dan menyampaikan alasan kenapa kalian baru pulang?”

“anu kak…saya nggak mau ditahan KTM nya…”jawab Thomas singkat.

“kalian sadar nggak…kalau kalian lari dan kabur seperti tadi justru memperburuk keadaan dan sanksinya nggak hanya ditahan KTM?”

aku pun meminta KTM mereka dan memberika sanksi tambahan, yaitu membersihkan kamar mandi.

“apa!? Membersihkan WC?, mikir dong kak, saya nggak mau” sponta Roni berdiri dan menolak sanksi yang aku berikan padanya dengan nada membentak.

“tenang-tenang ya..kita bicarakan dengan kepala dingin” Aku mencoba tetap tenang, dan bernegosiasi dengan mereka berdua, aku mencoba menjelaskan alasan kenapa harus berani menerima konsekuensi dan bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Karena perbuatan mereka termasuk pelanggaran kesopanan dan aturan asrama, dengan cara kabur ketika ditegur. Lalu kujelaskan juga tentang perasaan keluarga mereka bila mendapat laporan bahwa anak yang dititipkan di asrama bersikap seperti tadi. Saya pun meminta mereka agar lebih menghargai aturan yang sudah ada, dan sudah dijelaskan sejak awal.

“begini, teman-teman tinggal di asrama, orang tua kalian sudah rela agar teman-teman tinggal di asrama apapun yang terjadi pada kalian tentunya akan menjadi tanggung jawab kami, karena asrama ini dikelola oleh kami, jadi kakak harap kalian bisa lebih memahami lagi mana yang kami sarankan dan mana yang tidak kami perbolehkan, ok ya?”

Syukur mereka pun bisa aku ajak berdialog, Lalu kutawarkan alternatif sanksi, yaitu membuat essay tentang pentingnya disiplin atau sholat shubuh berjamaah serta ikut membangungkan teman-teman satu lorong untuk sholat shubuh berjamaah.

“bagaimana, kalian setuju?”

Thomas pun setuju lalu menyerahkan KTM dan lebih memilih membangunkan teman-teman sholat shubuh. Dengan wajah masih kesal dan marah, Roni pun mengikuti apa yang dilakukan Thomas, lalu beranjak pergi tanpa berpamitan.

Setelah mengingat kejadian itu, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan mereka sebelum mereka meminta maaf. Sesampainya di asrama aku meminta Roni untuk segera masuk ke kamar dan beristirahat.

“terima kasih ya kak, insyaAllah nanti saya ganti uangnya ”

“oh ya tidak usah sungkan, sudah tugas kakak membantu kalian kok, kamu istirahat aja, kakak balik lagi ke klinik ya, mau ambil uang lalu jemput Thomas”

“iya kak, sekali lagi makasih hati-hati kak”

Kadang menjadi sebuah dilema dan konflik peran yang berat, dimana aku sebagai  SR berupaya memberikan kasih sayang yang aku miliki, disisi lain kami juga harus bersikap tegas. Pelaksanaan penertiban masih banyak kekurangan dan kadang memunculkan ketidakpuasan atas beberapa sikap SR. Berat memang rasanya, harus mengurus dan memperhatikan anak orang yang punya ego dan keinginan pribadi masing-masing. Tapi semoga ini bisa menjadi latihan mental, ketika adik-adik merespon sikap para SR dengan tindakan yang kurang sopan, kami harus tetap tenang dan tetap bersikap baik kepada mereka. Hal itu semakin menyadarkan kami tentang perlunya kesabaran yang ekstra ketika menjadi seorang SR.

Oleh : Aditia Ginantaka

BAGIKAN

LEAVE A REPLY