Mendidik Anak: Mau Pilih Mana ?

902

Setiap orangtua punya cara sendiri dalam mendidik anak mereka. Ada yang mendidik anak mereka dengan gaya borju;  memberikan kesenangan kepada anak mereka sebanyak-banyaknya;  membelikan baju yang “branded,”  telpon genggam, mendandani anak mereka ala artis dan aktor terkenal : ada anak kecil dengan model rambut kucir panjang, ada juga bocah didandani dengan rok mini, tank top atau “you can see”; membelikan mainan yang canggih dan import yang serba berremote control.  Pendidikan seperti ini bukan hanya dilakukan orangtua yang “the haves” tapi oleh orangtua yang biasa-biasa saja bahkan “the haves not”. Alasan mereka sederhana: “Kami cari uang buat apa dan buat siapa sih kalo buat anak?”

Ada juga gaya mendidik orangtua yang “win-lose” Gaya mendidik ini bersifat otoriter dengan satu model dan tipikal yang khas, penggunaan kata “pokoknya” anak tidak diberikan hak untuk bertanya dan memberikan alasan yang kuat mengapa harus melakukan ini dan itu. Hanya ada satu kata “turuti” apa kata orangtua. 

Selain  gaya mendidik “menang-kalah” ada juga cara mendidikan anak dengan serba boleh atau permissive. Anak gak pernah dilarang mau jungkirbalik kayak apa silakan. Anak mau ini mau itu diturutin. Mereka punya prinsip yang penting anak senang, gak rewel alias anteng. Perkara apakah yang dituruti itu punya dampak negatif terhadap perkembangan anak kelak itu tidak dipikirkan. Yang penting anak senang orangtua tenang.

Ada juga gaya mendidik yang menittikberatkan pada  kedisiplinan dengan cara yang kaku dan ketat. Bila melanggar dihukum bila sesuai aturan tidak diapresiasi. Sejak bangun tidur hingga  tidur lagi, anak harus mengikuti dan menuruti aturan yang dibuat orangtua secara sepihak. Tidak pernah melibatkan anak-anak dalam proses membuat aturan apalagi mendiskusikannya.

Ada juga orangtua yang mendidik anak dengan “memaksa” anak untuk  memiliki dan menguasai keahlian tertentu. Anak dicecer untuk menguasai seni beladiri, musik, olah vokal, seni peran tanpa melihat minat, bakat dan tingkatan usia anak  tapi hanya melihat kepada “trend.” Trend yang sedang marak sekarang adalah kursus Calistung. Orangtua berbondong-bondong mendaftarkan anak-anak mereka yang masih usia pra-sekolah agar dapat membaca dan menulis di usia dini, sehingga mereka  bisa show off kepada tetangga atau kerabat “lihat anak saya hebat, kecil-kecil udah bisa baca, menulis dan berhitung

Ada juga orangtua yang mendidik anak mereka untuk untuk hidup sederhana, dari mulai berpakaian, anak tidak dibelikan pakaian yang bermerk, tidak mengajak mereka makan di restoran cepat saji dengan menu junk food melainkan di rumah, tidak mengajak anak mereka berbelanja  super market melainkan di pasar tradisional. Mengajarkan anak mereka untuk menyukai budaya lokal bukan import, mengajarkan mereka untuk memakan buah lokal bukan buah import. Mengajarkan dan memperkenalkan kepada anak mereka permainan tradisional bukan permainan modern. Mengajarkan anak mereka untuk berhemat dalam penggunaan uang kalo perlu merih-merih.

Pembaca yang budiman semua itu adalah pilihan mendidik anak. Anda punya hak atas anak Anda mau dididik seperti apa.  Saya hanya mengingatkan satu hal bahwa anak adalah amanah dari  Allah yang harus dikembalikan kepadaNya kelak dalam keadaan fitrah, dalam keadaan mukmin. Ciri-cirinya, saat mereka dewasa, mereka hormat dan santun  pada orangtuanya,   selalu mendoakan kedua orangtuanya baik di saat masih hidup atau telah meninggal dunia,  mereka yang sanggup sabar, dan lemah lembut merawat orangtuanya di kala usia senja bukan “membuangnya” ke panti jompo, mereka yang tidak lagi membebani orangtuanya dengan mengurus dan merawat cucu-cucunya karena mereka sibuk bekerja. Mereka yang selalu berusaha membuat orangtuanya bahagia dan tersenyum meski mereka dirundung sedih dan lara. Mau pilih mana?

BAGIKAN

LEAVE A REPLY