Lisan Guru Faktor Penentu Pembelajaran yang Utuh

822

Oleh: Kitty Andriany, S.Pd.

Berbicara merupakan kebutuhan semua orang. Disadari ataupun tidak, setiap kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Kehidupan sehari-hari kita sebagai makhluk sosial menghendaki kita untuk berbicara. Terutama profesi sebagai seorang guru. Guru adalah sosok yang mempunyai banyak hal untuk digugu dan ditiru termasuk dalam hal ini adalah
berbicara.

Pekerjaan penting untuk berbicara ini dilakukan oleh lidah yang biasa dikenal sebagai lisan. Menurut Wahita Damayanti bahwa jika lidah digunakan secara positif, maka ia dapat menjadi alat diplomasi, menyampaikan hal benar, bahkan bisa mengubah dunia karena pengaruh yang terucap lewat itu. Tetapi ketika digunakan secara salah, lidah akan mudah sekali menyeret kita dalam ajang permusuhan.

Dalam sebuah percakapan, Imam Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya. “Benda apakah yang paling tajam di dunia ini?” “Pedang” serentak mereka menjawab. “Itu benar. Tetapi yang paling tajam adalah lidah manusia. Karena ia dengan mudahnya dapat menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar petuah,”Berpikirlah sebelum berbicara”. Jika kita resapi, petuah tersebut memberikan pesan yang sangat mendalam bagi siapa saja termasuk seorang guru. Guru adalah sebuah profesi yang memiliki konsekuensi berbeda dari profesi kebanyakan. Posisi seorang guru sebagai sosok teladan yang digugu dan ditiru tidak hanya melekat saat jam pelajaran di sekolah saja. Tetapi juga di lingkungan
masyarakat luas. Sosok guru memiliki seragam yang tak kasat mata yang harus senantiasa dipakai kapanpun dan dimanapun. Tidak bisa tidak sebab pendidikan tidak selesai hanya di atas bangku sekolah saja.

Sedikit lebih khusus kita telisik bahwa lisan seorang guru bahkan sangat berpengaruh terhadap berjalan dan berlangsungnya suatu proses pembelajaran. Kata-kata yang santun, kata-kata yang menimbulkan kesan kasih sayang terhadap anak, kata-kata yang memunculkan aura positif bagi siswanya ketika mengikuti proses pembelajaran serta cara guru bersikap dengan kata-kata ketika memperlakukan siswanya di lingkungan sekolah menjadi hal yang sangat penting sebagai faktor tercapainya sebuah pembelajaran yang utuh.

Sebab lisan yang terlanjur menyakiti siswa akan berdampak luar biasa terhadap mental anak, motivasi belajar anak, sikap penerimaan anak terhadap pembelajaran yang diberikan guru, keberlanjutan sekolah anak dan masih banyak hal lainnya lagi.

Agar pembelajaran seorang guru menjadi utuh maka guru perlu menjaga lisannya dengan cara berpikir dahulu sebelum berucap. Sebab setiap kata-kata yang terucap tidak akan mungkin dapat kembali. Apa yang perlu menjadi catatan pemikiran kita sebelum berbicara?Sebelum menggerakkan lidah, perlu diterapkan dahulu apa yang harus dilakukan seorang guru. Sebelum berbicara, ayo kita pikirkan terlebih dahulu kira-kira apakah sudah “benar” yang akan kita sampaikan dalam pembicaraan nanti.

Setelah itu, apakah akan bermanfaat jika kita menyampaikan hal tersebut kepada siswa. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang guru sebaiknya bukan kata-kata yang melemahkan, tetapi sebaliknya kata-kata yang “menginspirasi”. Selain itu juga apa-apa yang akan kita sampaikan haruslah hal luar biasa yang menjadi kebutuhan baik secara pribadi ataupun bagi siswa dan orang lain. Agar
mendapatkan penerimaan yang baik dan diikuti serta dipercaya oleh siswa-siswa kita maka sampaikanlah dengan cara yang bersahabat, ramah, lembut dan santun.

Melalui lisan yang baik bahkan sebuah nasehat mampu diterima tanpa harus menyakiti. Nasehat-nasehat yang ditujukan kepada siswa ini akan menjadi motivasi anak dalam mengembangkan kompetensinya.

Menurut Robby, “Dalam hidup ini bukan soal apa yang kita pikirkan tentang setiap hal yang tampak jelek dimata kita ada satu sisi dalam kehidupan yang tidak bisa kita lihat oleh mata, saat itulah kita harus belajar berpikir sebelum berbicara”.

Kitty Andriany, S.Pd.
Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa

SUMBERutusanriau.co
BAGIKAN

LEAVE A REPLY