Kesabaran Sang Guru

421

Saat itu, tepat tanggal 06 desember pada pukul 09.02 wita, lombok kembali terguncang gempa dengan kekuatan 5,7 SR, yang berpusat di wilayah barat laut Mataram pada kedalaman 10 km. Hampir semua wilayah lombok merasakan detik-detik guncangan ini, bahkan pulau dewata Bali juga merasakan guncangannya.

Seketika guncangan itu terasa, naluri seakan menggeret semua insan yang sudah tak asing lagi dengan guncangan itu untuk berlari, ada yang melompat bahkan ada yang harus tertatih-tatih dalam sakitnya, semua dilakukan untuk menyelamatkan diri.

Tak terkecuali dengan hamburannya anak-anak SD 2 Santong untuk menyelamatkan diri, kekhawatiran terhadap tempat belajar di masjid membuat sebagian besar anak-anak berlari dengan spartan, hingga ada yang terjatuh bahkan sampai ada yang terluka dengan bekas reruntuhan yang belum dibersihkan.

Seketika para orang tuapun yang merasa panik luar biasa terhadap keselamatan anak-anak mereka, berlari terengah-engah menuju masjid untuk memastikan keselamatan anak-anak mereka. Mereka yang menemukan anak-anak mereka langsung memeluk dan menggendong anak-anak mereka, sembari melafadzkan berbagai dzikir dan do’a kepada yang Maha Kuasa, disisi lain ada sebagian orang tua yang merasa tak terima dengan tempat belajar darurat di masjid, yang akhirnya kepanikanpun bercampur dengan kemarahan dan ocehan yang tertuju kepada para guru-guru, terlebih kepada kepala sekolah.

Disinilah kami melihat dan merasakan kesabarannya sang guru yang luar biasa. Ketika mereka menjadi yang terakhir menyelamatkan diri setelah memastikan semua murid tidak ada dalam masjid, namun mereka harus menerima dan mendengar keluhan-keluhan orang tua dengan raut penuh kesabaran, berbagai macam keluhan itu harus tertuju ke para guru, bahkan lebih menyakitkan adalah ketika istri dan anak guru tersebut harus menyaksikan orang tua mereka menjadi sasaran kepanikan dan kemarahan orang tua. Kamipun seakan tidak kuat mendengar keluhan orang tua itu, namun kamipun harus meneladani kesabaran guru-guru yang lain.

Namun, saat kondisi inilah betul-betul terlihat perbedaan yang nampak antara masyarakat biasa dengan guru, yaitu kesabaran dan kebijaksanaan, hal inilah yang menjadikan guru menjadi sang pemenang, saat mereka harus mengubur emosi mereka dalam kesabaran, jika tidak ada rasa cinta pada tanggung jawab besar dalam mendidik, maka anak-anak mereka akan ditelantarkan begitu saja. Ketika berada di sekolah, namun dengan tanggung jawab itu, akhirnya rasa takut mereka dengan bencana harus disembunyikan rapat-rapat, agar anak-anak itu merasakan kenyamanan dan keberanian kembali dalam belajar, keselamatan jiwa merekapun harus dinomor duakan demi keutamaan keselamatan anak didik mereka, bahkan kehormatan merekapun seakan tidak apa-apa tersisih saat orang tua harus mencaci-caci mereka, semua ini dilakukan atas cintanya pada tanggung jawab dan persaudaraan.

Penulis: Guru M. Azwi Al Hakam, Relawan Guru Sekolah Ceria Lombok

BAGIKAN

LEAVE A REPLY