Kelas Kayu Tercinta

349

“Ibu, diam sebentar” seorang anak murid laki-lakiku yang berada di bangku depan perlahan berjalan maju.

Aku terdiam sejenak mengikuti perintahnya. Ia merunduk dan mengambil seekor serangga tepat di samping kakiku dan dengan sekejap ia membawanya keluar kelas. Bayangkan, kalau siswaku tidak menyadari kehadiran serangga tersebut  terlebih dahulu,mungkin aku sudah berteriak. Hal ini terjadi bukan sekali atau dua kali, maklum kelas kami masih beralasakan tanah, berdinding papan dan beratap seng. Hujan terasa dinginnya, panas sudah menjadi teman setiap setiap harinya. MI Darul Ihsan, sebuah sekolah di Dampal Selatan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah yang sekarang menjadi tempatku mengabdi selama Sembilan bulan lamanya.

Riuh puluhan anak yang berlari setiap pagi mengalahkan cahaya matahari yang menembus celah-celah dinding papan tiga kelas yang belum tersentuh renovasi menjadi rasa semangat dan rasa syukur tersendiri buatku. Dengan kondisi yang serba terbatas untuk mereka, anak-anak muridku, mereka selalu bersemangat untuk belajar. Menjaga mimpi dan harapan anak-anak inilah, kepala sekolah yang diamanahkan kepada Pak Majid, berjuang mendirikan sekolah dengan perlahan dan tenaga seadanya. Berlandaskan keikhlasan, guru-guru disini bahu membahu mewujudkan impian Pak Majid. Kehadiranku di MI Darul Ihsan menambah semangat beliau untuk terus mewujudkan harapannya dengan menambah kemampuan guru-guru dengan program yang ku bawa dari Sekolah Guru Indonesia.

Semakin pelosok sebuah sekolah maka bisa dipastikan semakin minim fasilitas yang ada. Anak-anak dengan mimpi yang tak biasa perlahan tergerus dengan kondisi lingkungan belajar yang tidak mendukung. Perlahan dengan kehadiranku disini, aku mulai memberikan sentuhan keindahan di kelas dengan gambar-gambar display yang ku pajang, walaupun tak bisa menutupi celah-celah papan dengan sinar matahari yang selalu menerobos.

“Ibu, gambarnya bagus” seorang anak murid perempuanku menatap gambar yang baru saja ku pajang. Aku tersenyum bahagia, perlahan mengobati kebosanan mereka dengan kelas seadanya.

“Ibu, ibu, kalau hujan nanti gambarnya basah ? Bagaiamana Bu ?” tiba-tiba ia bertanya kembali. Benar saja, ketika musim hujan tiba,anak-anak harus menyimpan sepatunya, tanah yang menjadi alas kelas kami dipastikan tergenang air cukup tinggi. Atap yang tidak terlalu rapat membuat beberapa atap meneteskan air. Semangat mereka untuk belajarlah yang membuat hal tersebut terasa mudah. Teringat perjuangan Bu Muslimah dengan laskar pelanginya, dukungan Pak Majid di sekolah ini juga menjadi penyemangatku.

Dengan segala keterbatasan, memperjuangkan mimpi anak-anak Dampal Selatan menjadi sebuah tugas bersama semestinya. Namun, aku selalu yakin pertolongan Allah selalu ada dan amat dekat. Selayaknya senyum-senyum anak di MI Darul Ihsan, keterbatasan bukanlah sebuah penghalang, keterbatasan adalah sebuah tantangan yang harus dijawab dengan perbuatan dan keikhlasan.

 

Penulis :

Izzatul Silmi

Trainer Sekolah Guru Indonesia Penempatan Dampal Selatan, Toli-Toli, Sulawesi Tengah

BAGIKAN

LEAVE A REPLY