Guru Terpencil Terbitkan Buku

660

Sama kah siswa di perkotaan dengan daerah terpencil? Sama. Jika melihat dari sudut pandang materi yang diajarkan, tapi tidak dengan metode pembelajaran yang diperoleh. Mengajar di daerah pelosok negeri butuh tenaga yang luar biasa karena harus merubah kebiasaan-kebiasaan negative seperti tidak mandi pagi kalau mau ke sekolah, bolos sekolah hanya untuk bermain, tidak sikat gigi, dan lain-lain. Menjadi guru di daerah terpencil tidak seperti di daerah kota. Sebagai guru dengan segala keterbatasan dituntut untuk mampu menjaga profesionalisme dalam memberikan yang terbaik untuk siswanya. Metode pembelajaran modern untuk sekolah daerah terpencil ,mungkinkah? Pemerataan metode pembelajaran yang modern tidak hanya untuk sekolah di daerah perkotaan saja, karena memang pendidikan adalah milik segenap warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Mereka adalah anak bangsa yang patut kita berikan haknya sama dengan warga yang lainnya.

Idialisme, semangat dan pengorbanan adalah modal utama yang dimiliki oleh guru yang ditempatkan di daerah  terpencil. Aapakah ini mudah? Tentunya tidak. Banyak tantangan-tantangan yang dihadapi oleh guru-guru ini, mulai dari menghadapi masalah siswa, guru rekan kerja, kepala sekolah, masyarakat sekitar, hingga kebijakan-kebijakan daerah.

Mengajar di daerah terpencil merupakan sebuah perjalanan panjang yang keberhasilannya tidak bisa dihitung 1 atau 2 tahun. Butuh waktu yang lama untuk melihat keberhasilannya. Sekolah Guru Indonesia (SGI) – Dompet Dhuafa menjawab pertanyaan ini dengan menyebar guru-guru ke seluruh pelosok negeri. Mengajar dengan metode yang jarang dipakai oleh sekolah-sekolah pada umumnya di daerah tepencil dengan mengoptimalkan program pemeberdayaan masyarakat sekitar melalui berbagai pelatihan-pelatihan.

Terhitung Maret 2013, prosesi serah terima dilaksanakan secara serempak di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan, Dompu, Belitung dan Belitung Timur, Sambas, Buton dan Lebak. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas pendidikan kabupaten adalah  dalam rangka menyambut guru SGI angkatan IV yang akan mengabdi selama satu tahun dan melepaskan guru SGI angkatan III yang telah mengabdi selama satu tahun. Mereka adalah jebolan Sekolah Guru Indonesia, yakni sekolah nonformal dari program divisi pendidikan Dompet Dhuafa yang berkomitmen dalam mencetak guru model berkarakter pemimpin yang memiliki kompetensi mengajar dan mendidik, serta siap mengabdi di sekolah tertinggal di pelosok negeri.

“Satu tahun adalah waktu yang singkat untuk melakukan perubahan pola pikir masyarakat, saya merasa belum memberikan kontribusi apa-apa untuk sekolah. Tapi setidaknya saya dan rekan-rekan berusaha untuk memperbaiki itu. Lebih baik menjadi lilin yang memberikan sedikit cahaya dari pada selalu menyalahkan gelap, lebih baik sedikit melakukan dari pada selalu mengeluhkan keadaan” ujar Syaiful Hadi, salah satu guru SGI yang satu tahun ditempatkan di pelosok Sambas – Kalimantan Barat.

 

Banyak hikmah yang dapat diambil dari kisah perjalanan SGI, dan itu akan lebih bermanfaat ketika disampaikan kepada seluruh guru Indonesia. Harapannya adalah muncul kebanggaan dan spirit baru dalam mentransformasikan nilai-nilai positif kepada peserta didik. Hal itulah yang landasan untuk diterbitkannya buku “BETA GURU SUDAH”. Buku yang mengisah perjalanan SGI dalam menangani siswa-siswa unik di daerah penempatan, selain itu terdapat juga kisah dari beberapa sosok inspirastif dalam dunia pendidikan.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY