Sowan Bu Een Menginspirasi SGI

464

Luar biasa terinspirasi! Begitulah kesan yang didapatkan Sekolah Guru Indonesia dan seluruh sahabat guru Indonesia yang berkesempatan hadir hari ini (14/6). Ya, Bertemu Een Sukaesih wanita kelahiran 10 Agustus 1963 asal Sumedang yang belum lama ini menerima penghargaan “Special Achievement Liputan 6 Award” kategori Inovasi, Kemanusiaan, Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan memang tidak akan terlupakan.

Kesan pertama saat bertemu Bu Een, begitu beliau biasa disapa, nyata sekali bahwa beliau adalah seorang muslimah sejati, tetap melakukan shalat wajib dalam keadaan apapun. Penyakit Rheumatoid Arthritis (RA) yang menyerang tubuhnya karena peradangan sendi mengakibatkan Bu Een menderita kelumpuhan selama 28 tahun. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Bu Een untuk memberikan yang terbaik bagi banyak orang. Bu Een ingin hidupnya bermanfaat untuk sesama, visi yang sangat sejalan dengan Sekolah Guru Indonesia.

Setiap mengajar Bu Een tidak pernah memungut bayaran. Mengajar merupakan merupakan energi tambahan baginya. Kehadiran anak-anak di sisi Bu Een merupakan obat yang bisa menghilangkan rasa sakit atas penyakit yang dideritanya. Mengajar merupakan penyemangat dan kebahagiaan untuk Bu Een dalam menjalani kehidupan. Inilah alasan kenapa Bu Een tetap tegar, semangat, dan selalu bersyukur.

Prestasi merupakan hal biasa bagi murid-murid Bu Een. Mereka selalu semangat dan termotivasi saat belajar bersama Bu Een. Ketika mengajar, metode yang diterapkan Bu Een tidak terlalu serius dan tidak pula terlalu santai, ada keseimbangan sehingga murid-murid beliau merasa senang dan tidak jenuh.

Bu Een juga sempat memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademik UPI pada Jumat (7/6) kemarin. Di sana Bu Een berbagi pengalaman hidup. Mulai dari penyakit yang diderita sampai dengan dokter yang sempat memvonis tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Nyatanya, penyakit ini sama sekali tidak membuatnya terpuruk, Bu Een malah bangkit dengan kehadiran anak-anak yang ingin belajar membaca, menulis, dan mengerjakan tugas sekolah. Semangat, disiplin, dedikasi tinggi dan penuh tanggung jawab ada dalam sosok Bu Een yang ternyata juga  terinspirasi dengan sosok guru. Melalui dedikasi inilah, UPI kemudian memberikan “Anugerah Pengabdian Sepanjang Hayat” setelah sebelumnya sempat diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

“Pendidikan itu harus berlandaskan kasih sayang, jadi para guru harus mampu menyebarkan dan mengajar dengan kasih sayang karena itu kunci keberhasilan dalam pendidikan”. Demikian pesan Bu Een untuk para guru dalam mencapai keberhasilan dalam pendidikan.

Figur yang sangat berpengaruh bagi Ibu Een ada dua, yang pertama adalah sang kakek, yang kedua adalah Jendral Sudirman. Kakek Bu Een adalah seorang yang selalu mengajarkan kedisiplinan, kejujuran dan kuat mengahadapi tantangan. “Kakek pernah sakit, tapi masih tetap berjuang untuk keluarga”, ujar Bu Een. Sosok inilah yang menjadi tauladan bagi Bu Een. Begitu juga dengan Jendral Sudirman, seorang guru yang tetap memimpin perang agresi militer II Belanda dalam keadaan sakit. Sakit bukanlah suatu halangan untuk tetap melanjutkan hidup dan terus berkarya.

Masjid Bumi Pengembangan Insani (BPI) menjadi saksi siang ini. Inspirasi dan pesan moral dari Bu Een tidak akan pernah habis, terutama semangatnya dalam mengajar. Semoga ini menjadi pengalaman berharga bagi kita semua. Jika Bu Een yang terbaring selalu semangat mendidik bangsa, bagaimana dengan kita yang sehat?!


BAGIKAN

LEAVE A REPLY