Bersyukur Atas Nikmatnya Hidup

340

“Rasa takut ada, terkadang kaki sampai bergemetar, namun saya harus segera mengingat Allah, karena masih diberikan kesempatan hidup kembali” – Dika Saputra, Siswa Sekolah Ceria Lombok

Ketika ketidakberdayaan merasuki setiap insan, saat kedahsyatan musibah adalah isyarat keAgungan, maka kepasrahan diri satu-satunya tameng dari kedaifan, inilah saatnya kami bersujud penuh rayu, kebanggaan kini merapuh hingga hari esok dan seterusnya, hanya keampunan-Mu menjadi pelipur kami wahai Zat pemilik keabadian.

Gempa bumi berkekuatan 7 SR yang telah mengguncang pulau seribu masjid Lombok, yang bertepatan pada hari minggu malam tanggal lima Agustus lalu, tidak hanya telah merenggut ratusan jiwa yang harus kembali kepada sang Pencipta, tidak hanya meluluh lantahkan bangunan-bangunan yang kini tinggal puing-puing, namun juga telah menghilangkan sebagian semangat hidup anak-anak yang tidak hanya merasakan guncangannya, namun telah menjadi korban dari reruntuhan istana kecil mereka.

Dika Saputra adalah salah satu anak yang menjadi korban kedahsyatan bencana yang telah dikirimkan Allah itu, anak yang sekarang genap berusia 12 tahun ini, telah merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat reruntuhan rumah dari tetangganya. Sebagian kepala sebelah kanannya harus merasakan perihnya sayatan jarum dokter, begitu juga dengan kaki kanannya yang membentuk garis vertikal besar dari lutut sampai mata kaki, semua itu bekas luka jahit akibat tertimbun runtuhan rumah tetangganya.Malam itu sepulang mengaji, Dika bertamu ke rumah sahabatnya untuk melanjutkan kegiatan di sekolah yang belum tuntas, menggambar pemandangan gunung. Hanya berselang 20 menit ketika mereka sedang khusyuk dengan coretan tintanya, dengan seketika gempa besar itu terjadi, belum sempat untuk lari keluar rumah, namun tembok-tembok ruang tamu itu runtuh seketika, yang menyebabkan Dika dan temannya harus tertimbun reruntuhan tersebut, mereka tak sadarkan diri hingga dilarikan ke puskesmas terdekat. Dika sadarkan diri ketika sudah di puskesmas untuk mendapatkan tindakan, kepala bagian kanannya yang sobek harus segera dijahit, namun kaki kanan yang menganga tidak bisa diatasi pihak puskesmas, dan harus dirujuk ke rumah sakit provinsi di Mataram untuk perawatan lanjut. Yang membuat hati lebih terasa teriris ketika mendengar kabar sahabatnya Dika, yang harus kehilangan batang hidungnya akibat tertindas reruntuhan itu, yang kini berada di Jakarta mengikuti ibu kandungnya untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

 

Hampir satu bulan kami mengajar dan melihat Dika dengan bekas lukanya tersebut, namun tidak pernah ditanyakan perihal tersebut, karena tidak menyangka jika luka-luka itu akibat gempa yang baru 3 bulan berlalu, ditambah lagi dengan kesehatan dan ketegaran Dika ketika belajar, seakan memperlihatkan tidak ada apapun yang terjadi pada anak ini sebagaimana anak-anak yang lainnya. Melalui pembicaraan dengan sahabatnya, barulah kami tau jika luka-luka itu akibat gempa. Dan akhirnya kamipun mencoba untuk mendekati Dika melalui pembicaraan empat mata.

Dari semua cerita panjang dan yang menyayat hati itu, yang harus melihat anak sekecil itu merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun banyak ketegaran dan pelajaran berharga kami dapatkan dari anak ini, disaat rasa tak percaya diri merasukinya dengan kondisi yang sekarang, namun semua itu harus diredam demi cita-citanya yang masih panjang untuk terus bersekolah kembali, dan yang lebih menyentuh lagi, ketika ditanyakan apakah ada rasa takut jika terjadi gempa lagi? dengan mantap dia menjawab, “rasa takut ada, terkadang kaki sampai bergemetar, namun saya harus segera mengingat Allah, karena masih diberikan kesempatan hidup kembali”, dan ketika ditanyakan lagi bagaimana cara mengingat Allah yang selama ini dilakukan?, dengan spontan dan polosnya Dia menjawab “rajin-rajin sholat dan mengaji”.

Maka do’a terbaik dari kami untukmu Nak, semoga dengan kehidupan yang telah diberikan Allah ini, betul-betul kamu manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada-Nya, jadikan monument kesakitan yang membekas di badanmu, sebagai pengantar untuk menjadikanmu sebagai insan yang terbaik dalam Taqwa, dan jadikan monument itu menjadi saksi bisumu atas perjuangan penghambaanmu hanya kepada-Nya di Yaumul Hisab nanti..Aamiin Yaa Rob

Penulis : Muhammad Azwi Al Hakam, Guru Relawan Sekolah ceria Lombok

BAGIKAN

LEAVE A REPLY