Berebut Cita-Cita

766

Pembaca yang budiman, kembali saya ingin bercerita tentang putri-putri saya. Sungguh, mereka sumber inspirasi tak ternilai. Pastinya Anda juga sepakat dengan saya. Tawanya, riangnya, cerianya, betapa anugerah luar biasa. Bahkan, saat mereka berantem pun, bisa jadi inspirasi tersendiri. Nah, kali ini saya ingin cerita tentang dua putri saya, Kamila dan Naila, yang berantem karena rebutan cita-cita.

Selasa 21 Juni lalu putri kedua saya, Kamila (5,7 tahun) diwisuda dari PAUD. Ia mengejutkan saya dan sebagian besar undangan yang hadir. Ketika prosesi wisuda pembawa acara memanggil Kamila maju ke depan dan membacakan biodatanya.
“Ajra Kamila Amru, putri dari Bapak Amru Asykari dan Ibu Nurul Zulaikha, cita-cita ingin menjadi koki..”

Tak pelak, seluruh undangan menyambutnya dengan gelak. Sementara saya berpikir, mengapa cita-cita Kamila berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya yang rata-rata memiliki cita-cita polisi, guru, tentara, perawat, dokter, bahkan astronot!

Mengobati rasa penasaran saya, selepas kerja saya tanya Kamila:
“Kakak Kamila beneran mau jadi Koki?”
“Ya,” jawabnya mantap. Saya makin penasaran.
“Kok nggak jadi guru aja seperti Ayah atau Bunda?”
“Aku suka masak, Ayah. Aku suka acara TV yang masak-masak itu.”
Oh, rupanya itu jawabannya. Dia, adik, dan kakaknya memang menyukai tayangan sebuah stasiun swasta, Master Chef Indonesia.
“Wah, senang sekali Ayah dan Bunda dimasakin Kamila masakan yang lezat setiap hari”. Kamila hanya tersipu. Tiba-tiba, putri ketiga saya, Naila (3,9 tahun) berlari ke arah saya dengan lantang berkata kepada saya.
“Aku juga mau jadi koki, Ayah!”
Mendengar ini Kamila mendatangi Naila dan berkata:
“Nggak boleh Naila, itu cita-cita aku. Naila jadi nahkoda saja atau jadi guru seperti Ayah.”
“Nggak mau,” Naila merajuk.
“Aku mau jadi Koki,” lanjut Naila
“Nggak boleh”, sergah Kamila.
Waduh, mereka berebut cita-cita!

Pembaca yang budiman, sebenarnya seberapa pentingkah anak-anak kita memiliki cita cita? Apa peran kita sebagai orangtua?
Cita-cita anak sering muluk-muluk dan berubah-ubah karena dipengaruhi persepsi terhadap profesi tersebut. Ingin jadi polisi karena gagah, ingin jadi dokter karena ingin bantu orang lain. Maka tidak heran jika hari ini anak kita ingin menjadi dokter, besok mungkin ingin menjadi astronot.

Menurut psikolog keluarga dari Jagadnita Consulting, Clara Istiwidarum Kriswanto, seperti dikutip oleh okezone.com, cita-cita sangat penting ditumbuhkan, karena dapat menjadi motivator untuk anak dalam mempelajari sesuatu. Menurut Clara, seorang anak dengan cita-cita yang jelas akan lebih termotivasi untuk mengembangkan diri, dibanding anak yang tidak tahu mau jadi apa atau tidak punya cita-cita. Maka orangtua perlu realistis akan kemampuan anak, apakah anaknya tergolong cerdas, rata-rata, atau bahkan kurang. Semua dapat dikembangkan seoptimal mungkin asal orangtua tidak bersikap memaksa.

Selanjutnya menurut pakar pendidikan Ella Yulaelawati, kecerdasan hanyalah perihal perbedaan kadar, yang terpenting adalah bagaimana menangkap dan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing anak. Pada dasarnya, tidak ada anak yang tidak mampu. Perbedaan mungkin disebabkan pengalaman belajarnya yang berbeda. Untuk itu, orangtua maupun guru di sekolah sebaiknya memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya.

Kembali pada cerita dua putri saya yang berebut cita-cita…
Naila mulai kesal kepada kakaknya karena tidak diizinkan memiliki cita cita yang sama.
“Kalo nggak Koki, aku nggak mau cita-cita,” rajuk Naila (maksudnya Naila tidak mau punya cita-cita, pen).
“Gimana kalau jadi ahli komputer?”
“Gak mau! Maunya jadi koki!” Mata Naila berkaca-kaca, mau nangis.
“Ya udah, sini Ayah bisikin.”
“Naila jadi koki sama seperti kakak Kamila,” bisik saya kepada Naila. Ia pun mengangguk dan tersenyum. Misi kecil telah terselesaikan. Misi berikutnya, bicara pada Kamila…
Nah, pembaca yang budiman, 25 Juli lalu kita peringati Hari Anak Nasional. Saya titipkan ucapan selamat untuk putra-putri Anda. Tak lupa, teriring sebaris doa, semoga anak saya, anak Anda, dan anak Indonesia tumbuh menjadi anak-anak yang salih, salihah, cerdas, dan berani bercita-cita.

Oleh : Amru Asykari

BAGIKAN

LEAVE A REPLY