Bangga Menjadi Guru: Sebuah Resensi Singkat ‘Beta Guru Sudah’

601

Mengajar di daerah terpencil Indonesia merupakan perjuangan yang butuh banyak pengorbanan. Selain beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dengan daerah asal, karakter masyarakatnya juga sangat berbeda.

Di sinilah para guru dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) mengajar dengan segala keterbatasannya. Pintu jendela yang pecah kacanya, dinding yang sudah rusak dan tak jelas warnanya, kondisi ini seolah menggambarkan kurangnya kepedulian masyarakat sekitar terhadap keberlangsungan pendidikan. Perhatian orangtua terhadap anaknya untuk sekolah memang kurang besar. Butuh energi ekstra keras untuk mengubahnya.

Buku ini merangkum pengalaman guru-guru SGI di lokasi penempatan. Banyak perjalanan yang harus ditempuh mengarungi belantara hutan hingga lokasi-lokasi pelosok di negeri ini yang banyak di antara kita bahkan baru mendengarnya.

Cerita-cerita nyata di buku ini bukan sekadar laporan pandangan mata apalagi curahan hati kosong; lebih penting lagi adalah ada pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua. Ada persoalan ketidakmerataan yang kasatmata, tapi sayangnya banyak di antara kita memilih berpangku tangan. Pengambil kebijakan sudah lama terengah-engah untuk mengatasi situasi di daerah semacam itu.

Menghadirkan guru-guru pejuang yang dengan lantang berkata, “Beta Guru Sudah”, bukanlah untuk memamerkan kiprah mereka. Toh yang dilakukan di tempat penempatan mungkin hanyalah upaya sederhana. Masih ada andil warga setempat, terutama para pendidik nan tulus, dalam memajukan dunia pendidikan. Pejuang SGI hanya fasilitator untuk membuka nalar warga, terutama kalangan pendidikan dan pihak yang terkait.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, “Anak pun Mengajari Kita Hikmah” berisikan 14 pengalaman mengharuskan berinteraksinya para pejuang SGI dengan anak-anak di lokasi penempatan. Betapa anak-anak nan polos itu mampu memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Bagan kedua, “Tiada Letih untuk Mencoba” berisikan bagaimana perjuangan mengubah di lokasi penempatan. Lima belas tulisan di dalamnya menceritakan upaya-upaya para pejuang SGI atau para siswa di lokasi penempatan untuk berubah.

Adapun bagian ketiga, “Abadilah Jejak-jejak Pengabdian” berupaya merekam jejak kiprah para pendidik di lokasi penempatan. Para guru di daerah itu begitu menginspirasi. Dengan pelbagai keterbatasan mereka terus mengabdi. Setia mengabdi meskipun di tengah kesepian dan ketertinggalan.

Yang dikerjakan para guru pejuang di buku ini bukanlah satu-satunya bentuk partisipasi anak-anak muda dalam merawat Indonesia. Masih banyak gerakan lain yang bisa dilakukan. Yang ada dalam SGI hanya bagian dari upaya menggerakkan kepedulian segenap anak bangsa, terutama dalam memajukan dunia pendidikan kita. [ym]

BAGIKAN

LEAVE A REPLY