Bahaya! Salah Jalan Mendidik

680

Banyak anak, banyak rejeki. Itulah yang dikatakan mayoritas “orang tua dulu”. Sehingga tak aneh jika mereka dapat mempunyai anak hingga belasan jumlahnya. Anak adalah titipan Sang Khalik. Tidak salah memang mereka memiliki cara pikir seperti itu. Tapi ada hal yang lebih penting dari berapa jumlah anak, yaitu bagaimana cara mendidik anak.

Saya punya kisah menarik tentang orang tua. Menurut saya adalah salah jalan dalam mendidik anaknya. Bagaimana tidak, sapu yang seharusnya digunakan untuk membersihkan debu di lantai tidak digunakan sebagaimana mestinya. Ibu Siti yang membawa sapu itu tidak segan memukul Wanto berulang kali. Jeritan Wanto rupanya tidak mampu melepaskan pegangan sapu dari tangan kasar ibunya itu. Wanto Hanya bisa menjerit menahan sakit. Tetangganya pun tak berani untuk menolong Wanto. Ibu Siti ini memang dikenal sangat temperamental.

Apa yang dilakukan Wanto padahal bukanlah kesalahan yang besar, ia hanya keluar dalam pembelajaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang sedang di mulai. Tapi entah apa yang dipikirkan Ibu Siti, Ia menganggap anaknya malas dan bandal. Wanto memang tipe anak yang dalam pembelajaran, ia tidak pernah diam (gaya belajar kinestetik). Ibu Eha sebagai gurunya Wanto sudah paham betul gaya belajar wanto. Dalam pembelajaran Ibu Eha selalu mengajarkan gerakan-gerakan sederhana.

Wanto selalu merasa senang diajar oleh Ibu Eha tetapi ia merasa tidak nyaman ketika ia berada di rumah.

Pendidikan bukanlah hanya menjadi tugas guru dalam sekolah saja, tetapi pendidikan anak adalah tugas orang tua dan masyarakat juga. Orang tua yang memberikan kasih sayang kepada anaknya kelak ia akan menjadi anak yang dapat menghargai dan menyayangi orang tuanya.

Salah jalan mendidik anak dapat membuat anak merasa tidak nyaman. Ia akan merasa selalu tertekan. Potensi anak yang seharusnya terbentuk, tumbuh dan berkembang, akhirnya melemah dan padam.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY