Arti Dedikasi Pak Basmi

594

Kisah inspiratif kepala sekolah di daerah pedalaman Kalimantan menggugah jiwa ini terdapat dalam buku BETA GURU SUDAH.

Banyak tanda tanya ketika berkunjung ke sekolah ini. Berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Waktu setempat menunjukkan pukul 09.45 WIB. Seharusnya di sekolah ini terdengar riak gembira siswa yang sedang bermain pada jam istirahat. Tidak ada sama sekali aktivitas di sekolah ini. Semua ruangan terkunci, di lapangan yang becek tidak nampak tiang bendera layaknya sekolah.

Tadinya aku malah berpikir, bangunan ini bukan sekolah. Tapi, ada spanduk bertuliskan nama sekolah berikut alamat lengkapnya.

SD 46 Sungai Kakap

Alamat: Selat Kering, Desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap,

Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat.

Aku terus mencari jawaban tentang sekolah ini. Dari luar di balik jendela kaca yang pecah, pandanganku menangkap sesuatu yang tak biasa. Di tengah kelas terdapat pembatas ruangan yang terbuat dari tripleks dengan dua penyangga kayu besar di setiap ujungnya. Suasana pun tidak mencerminkan kelas, tidak ada display atau hasil karya siswa yang di pajang di dalamnya. Bahkan, foto Presiden dan Wakil Presiden pun tak ada.

Rasa penasaranku masih tinggi, ada apa dengan sekolah ini? Aku lihat ruang kelas lain, dan ternyata kondisinya sama. Setiap kelas di tengahnya diberi pembatas untuk membedakan tingkatan kelas. Aku baru mengetahui bahwa sekolah ini hanya terdapat 5 ruangan; 4 ruang kelas, dan 1 ruang guru.

Lokasi sekolah jauh dari rumah warga sehingga tidak ada seorang pun di sekitar sekolah untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang sekolah ini. Aku memutuskan untuk meninggalkan sekolah ini. Karena waktuku terbatas untuk melakukan evaluasi dan penilaian sekolah di daerah Kalimantan Barat.

 

MASIH ADA HARAPAN UNTUK mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tentang sekolah ini. Di depan ruang guru yang terkunci aku melihat seseorang berkendaraan motor tua dengan membawa kayu bahan bangunan. Aku pun menghampirinya untuk menghilangkan rasa penasaranku.

“Assalamu’alaikum. Kalau boleh tahu siapa kepala sekolah ini?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.

Kulihat gerakan tangannya menyapu kemeja putihnya untuk membersihkan kotoran bekas mengangkat kayu. Setelah merasa tangannya sudah bersih, lelaki itu mengulurkan tangan untuk berjabat denganku dan menjawab, “Wa’alaikumsalam. Saya sendiri kepala sekolahnya. Ada yang bisa saya bantu? Mohon maaf tangannya kotor.”

Melihat badan kurus dengan dibungkus kemeja putih yang bagian pundak kirinya kotor bekas membawa kayu, aku tak mengira bahwa ia kepala sekolahnya. Nama bapak satu ini Basmi.

Setelah mengobrol dan saling memperkenalkan diri, Pak Basmi mengajakku ke ruang guru. Di depan ruangan, ia mengeluarkan kumpulan kunci yang jumlahnya lumayan banyak. Pikiran nakalku mengejek, “Ini kepala sekolah atau penjaga sekolah? Tadi membawa kayu bahan bangunan terus sekarang membawa kunci semua ruangan kelas!”

Pandanganku lagi-lagi menangkap sesuatu yang tidak biasa. Belum sempat terjawab semua pertanyaanku tentang sekolah ini, ada lagi pertanyaan baru. Kali ini tentang ruang guru. Meja guru yang berjajar di ruangan hanya ada empat. Apakah hanya ada empat guru di sekolah ini?

Aku pun membuka dialog. “Pak, siswa di sini semuanya sudah pulang sekolah atau memang sekolah libur?”

“Sebetulnya saya yang membubarkan siswa karena saya tadi harus mengambil kayu untuk membuat sekat kelas yang sudah rusak,” jawabnya tenang.

“Bapak di sini ditemani berapa guru?”

“Guru di sini cuma ada tiga orang, itu juga termasuk saya. Tadinya ada empat, cuma yang satu dimutasi oleh pemerintah ke sekolah lain. Yang satu sakit, dan yang satu lagi sedang ada keperluan.”

 

ADA HARAPAN BESAR DALAM rautnya. Tidak pernah ada rasa mengeluh dalam dirinya. Ia selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Ia hanya ingin melihat anak didiknya menjadi orang yang sukses dan berguna bagi agama, masyarakat, dan bangsa. Capaian itu saja yang menjadi kebanggaan baginya. Pahit yang ia rasakan akan dibalas dengan kesuksesan anak didiknya. Sungguh niat mulia yang datang dari hati yang bersih.

Masyarakat di daerah tersebut mayoritas berpenghasilan dari profesi nelayan dan bertani. Perhatian orangtua untuk pendidikan anak sangat rendah. Jika musim panen datang, mereka menyuruh anak-anaknya untuk tidak sekolah. Lebih baik membatu orangtua di sawah atau di sungai untuk mencari ikan.

Pak Basmi berkeinginan kuat untuk mengubah paradigma berpikir masyarakat bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan anak. Ia selalu berusaha untuk mewujudkannya walaupun setiap kali mengundang orangtua siswa ke sekolah, jarang di antara mereka yang menghadiri undangan darinya.

 

PAK BASMI TIPE ORANG yang sangat bersahabat. Baru sebentar kami berkenalan, kami sudah bercanda gurau dan tertawa lepas. Laki-laki keturunan Jawa ini bercerita tentang bagaimana perjalanannya menjadi kepala sekolah.

“Saya dulu ikut program pemerintah untuk mengabdi menjadi guru. Dari satu angkatan yang siap untuk ditempatkan di daerah luar Jawa itu tidak sampai setengahnya, hanya beberapa saja.” Pak Basmi bercerita

“Lalu kenapa Bapak siap?”

“Walau gaji guru dulu itu tidak seberapa, saya punya keyakinan bahwa anak didik saya yang nanti akan memberikan gaji kepada saya di akhirat. Menjadi guru adalah tabungan di akhirat,” jawab Pak Basmi penuh semangat. “Bukankah pahala ilmu yang diamalkan itu tidak akan putus walau kita sudah meninggal?”

“Apa yang saya terima tidaklah sebanding dengan apa yang saya lakukan. Saya merasa apa yang saya dapatkan itu terlalu besar, sedangkan apa yang saya lakukan kurang optimal.” Lanjut Pak Basmi.

Seketika suasana di sekitar Kota Khatulistiwa yang begitu panas berubah menjadi sejuk dan menenteramkan jiwa. Seperti mendengar riak air terjun di dalam hutan ditemani kicauan burung camar. Berkaca-kaca mataku mendengar semangat pengabdian Pak Basmi. Sebuah tekad besar untuk memberikan yang terbaik kepada generasi penerus bangsa. Dari tangan yang penuh semangat seperti Pak Basmi inilah akan muncul penerus peradaban, pembawa nilai-nilai kebaikan, dan pemimpin-pemimpin bijak masa depan. [MD]

Oleh: Muh. Shirli Gumilang (Koordinator Markom SGI)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY