Beta Guru Sudah: Angga Tidak Bodoh

555

Tulisan ini adalah sebuah kisah inspiratif dari salah satu guru model SGI Angkatan 3 yang di tempatkan di daerah Sambas – Kalimantan Barat. Kisah ini merupakan bagian dari kisah-kisah inspiratif yang terdapat dalam buku Beta Guru Sudah.

Pertama kali menginjakkan kaki di SD 2 Sendoyan, Sejangkung, Sambas (Kalimantan Barat), saat itu siswa tengah mengikuti ulangan mid-semester. Sejenak kuperhatikan sekeliling kelas. Siswa tampak serius menjawab pertanyaan di lembar soal.

Aku beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri setiap siswa. Saat aku lewat di depan siswa yang sibuk berpikir, sebagian mereka ada yang langsung menutupi lembar jawabannya. Saat aku berada di barisan belakang, tampak seorang anak yang hanya diam tanpa mengerjakan apa-apa.

“Kamu sakit, Nak?”

Dia hanya menggeleng. Aku pun heran. Aku pun berlalu sambil sesekali memerhatikan dia.

Lalu kudatangi lagi mejanya. “Nama kamu siapa?”

“Angga, Bu,” jawabnya.

Setelah setengah jam berlalu, aku pun kembali mendatangi mejanya, kertasnya masih juga kosong. Tiba-tiba salah satu guru datang kepadaku, sambil berbisik, “Bu, Angga itu daan bisse bace.”

Logat Melayu sang guru wali kelas sontak membuatku terkaget dan merasa bersalah. Ditambah lagi sorakan teman-temannya yang menambah kesedihan Angga.

Aku pun berinisiatif untuk membacakan soal satu per satu, barulah dia bisa menjawab soal yang diberikan pilihan ganda. Tetapi, ketika menjawab soal isian, tulisan yang ditulis di lembar jawaban entah apa yang dia tulis. Aku pun semakin tidak enak hati melihat wajahnya yang tampak sedih.

Setelah ulangan berakhir, aku kembali mendatangi mejanya. “Angga, mau enggak nanti pas pulang sekolah Ibu ajarin membaca?”

Dia pun mengangguk.

 

ANGGA, BEGITULAH SISWA ITU disapa. Siswa kelas 2 pindahan dari sekolah daerah Makassar karena mengikuti orangtuanya yang kembali ke kampung halaman. Sesuai janjiku, sepulang sekolah aku perlahan mengajari Angga. Berawal dari pengenalan huruf, membedakan antara huruf-huruf yang satu dengan yang lain. Hatiku semakin miris saat dia tidak bisa membedakan huruf V dan W, dan apabila sudah menggabungkan huruf konsonan dengan huruf vokal, dia akan terbata-bata, dan ketika diulang lagi dia lupa, seakan-akan tidak pernah diajarkan sebelumnya.

Dalam usaha membedakan huruf V dan W, aku menggunakan jari tangan seperti tanda “peace” untuk huruf V dan tiga buah jari tangan untuk huruf W. Metode itu ternyata lumayan ampuh buat Angga untuk membedakan huruf tersebut. Aku pun menyuruh Angga mengikuti gerakan yang kulakukan. Setelah beberapa menit berlatih, kami pun tertawa bersama sembari mengingat metode yang kuajarkan. Ternyata metode itu sangat ampuh dilakukan untuk membedakan huruf tersebut.

Besoknya salah satu guru bertanya tentang cara-cara yang kulakukan untuk mengajar Angga. “Bu, ngape sepulang sekolah, daan langsung balik?

Aku pun menjawab, “Ngajarin Angga, Bu.”

Tiba-tiba seorang guru yang lain menceletuk, “Bu, daan bisse nak ngajarek biak tok e, sakit ngajarek die, udah babal.”

Aku tersontak kaget mendengar kata-kata dari guru itu. Sangat tidak enak didengar, kasar, pelabelan, dan tidak percaya akan kemampuan sang anak. Aku pun semakin bertekad membalikkan ucapan itu.

“Aku harus bisa membuktikan bahwa Angga bisa mengenal huruf, Angga bisa membedakan huruf dan Angga tidak sebodoh yang dilabelkan guru-guru di sini,” ucapku membatin.

Tekadku semakin membaja untuk menjadikan Angga bisa membaca. “Kamu tidak boleh lagi diolok-olok lagi oleh teman-teman. Ibu janji Angga, Ibu tidak akan pernah lelah menjadikan dirimu bisa.”

Setelah sekian bulan memakai metode kreasiku, Angga berubah menjadi anak yang periang, aktif, bahkan mulai memperlihatkan prestasinya. Perlahan-lahan dia mulai bisa membedakan antara huruf-huruf tertentu tanpa salah lagi. Setiap aku mengangkat tanda “peace”, ia langsung berkata dengan penuh semangat, “V, Bu!” Apabila saya angkat tiga jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis dalam waktu bersamaan, langsung Angga menjawab, “Itu W, Bu!” Lalu kami tertawa bersama.

Seiring waktu, Angga sering membawa buku cerita ke kantor. Ia lakukan itu hanya untuk memperlihatkan kemampuan membacanya padaku.

“Ibu bangga padamu, Angga.”

Betapa malangnya nasib anak yang dicap ‘bodoh’ oleh lingkungannya. Betapa sering kata-kata yang tidak mengenakkan terdengar di telinga. “Dasar anak bodoh, bebal, masak itu saja enggak bisa?”

Masih banyak lagi kata-kata yang terlontar dari mulut orang dewasa bahkan guru kepada anak-anak seperti Angga. Yang menyedihkan, orangtua pun tidak sedikit menganggap anaknya demikian. Mereka tidak tahu bahwa setiap anak itu spesial, dan setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing, termasuk juga dalam cara pembelajarannya. []

 

Oleh : Gusti Rahayu (SGI angkatan 3)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY